HOME

Gamelan Mistis Dibalik Nama Curug Gending Asmoro

Gamelan Mistis Dibalik Nama Curug Gending Asmoro

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on google
Share on pinterest

Seorang pengunjung melihat Curug Gending Asmoro, Desa Kalongan, Ungaran Timur, Selasa (29/9/2020). (Foto/win)

UNGARAN – Sebuah curug (air terjun) yang terletak di Dusun Tompogunung, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang disulap menjadi salah satu destinasi wisata di Bumi Serasi. Curug dengan ketinggian lebih kurang 15 meter itu awalnya ditemukan oleh warga dan menjadi lokasi yang dikeramatkan.

“Dulunya tempat ini menjadi lokasi yang ‘wingit’ dan cukup dikeramatkan oleh warga. Sehingga tidak ada yang berani menjamah daerah ini secara sembarangan”, ungkap Kepala Desa Kalongan Yarmuji, saat ditemui di lokasi curug, Selasa (29/9/20).

Diterangkan Yarmuji, asal muasal penamaan Curug Gending Asmoro adalah adanya legenda gamelan mistis yang konon muncul secara tiba-tiba.




“Jadi dulu menurut cerita orang-orang sepuh, saat ada warga yang mau punya hajat terutama wayangan, juru kunci melakukan ritual di tempat ini. Setelah ritual selesai, maka seperangkat gamelan muncul secara gaib sehingga bisa digunakan untuk hajatan”, jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, legenda itu mulai hilang. Akan tetapi menurut beberapa orang, terkadang masih terdengar suara gamelan tanpa diketahui sumbernya.

“Saat pembangunan wisata ini, salah seorang pekerja juga mendengar suara gamelan seperti gending (alunan musik). Makanya dinamakan Gending Asmoro”, papar Yarmuji.

Di tengah pandemi, Yarmuji mengaku obyek wisata milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kalongan tersebut mengalami penurunan pengunjung cukup drastis.

“Penurunan pengunjung hampir 80 persen selama masa pandemi ini. Terlebih Ungaran Timur masuk zona merah. Masyarakat masih takut kemana-mana. Sebelum pandemi dalam satu bulan pendapatan bisa sampai Rp5 juta. Tapi saat ini hanya cukup untuk menggaji karyawan sebanyak 5 orang”, urainya.

Agar potensi wisata tetap bisa bertahan di era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), pihaknya menyiasatinya dengan subsidi silang dengan sektor BUMDes yang lain, selain dengan tetap membuka kunjungan wisata.

“Beberapa sektor BUMDes yang lain terpaksa kami lakukan subsidi silang agar tetap bertahan. Selain itu kami juga berusaha mengembalikan kepercayaan masyarakat jika berwisata di Curug Gending Asmoro tetap aman karena telah menerapkan protokol kesehatan, seperti wajib masker, menyediakan sarana cuci tangan dan tetap jaga jarak”, ujarnya.

Novena (25), salah seorang pengunjung menuturkan, ia penasaran dengan legenda curug Gending Asmoro yang pernah ia dengar.

“Penasaran saja seperti apa tempatnya, pengen lihat lokasi ritualnya kalau masih ada. Secara umum sudah bagus, mungkin beberapa fasilitas penunjang seperti penunjuk jalan, deskripsi singkat obyek wisata juga perlu ditambahkan”, terangnya. (win)

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on pinterest
KABAR JAWA TENGAH
KABAR NASIONAL
KABAR INTERNASIONAL

KABAR TERKAIT
KABAR TERBARU
10 KABAR POPULER
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp