HOME

Idap Penyakit Misterius, Belasan Tahun Aisyah Tak Berdaya

Idap Penyakit Misterius, Belasan Tahun Aisyah Tak Berdaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on google
Share on pinterest

Saelah tengah mengurus Siti Aisyah (15) yang terbaring tak berdaya di rumahnya, Dusun Deres, Desa Kandangan, Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang, Rabu (29/7/2020). (Foto/IST)

UNGARAN – Siti Aisyah (15), buah hati pasangan Saelah dan Ramlan warga Dusun Deres, Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang tampak tak berdaya saat dikunjungi di rumahnya, Rabu (29/7/2020). Tubuhnya kurus dengan kondisi kulit yang tampak mengelupas. Meski matanya terbelalak dan sadar, dia tidak bisa bergerak sama sekali akibat penyakit yag dideritanya sejak balita. Kondisinya yang lumpuh dan tak dapat berbicara membuatnya hanya dapat berbaring menghadap ke langit-langit rumah.

Saelah bercerita, anaknya mengalami lumpuh dan tak dapat berbicara sejak berusia 4 bulan. Padahal, sejak dalam kandungan tak ada keluhan apapun yang didapatkan Saelah.

“Saat umur 4 bulan, saya sedang menyuapi Aisyah, tiba tiba dia pingsan. Padahal sejak lahir imunisasi terus, tidak pernah ada masalah,” ucap Saelah.




Sejak pingsan itu, kondisi Aisyah semakin memburuk, tidak dapat berjalan dan berbicara. Akhirnya dia dan suaminya memeriksakan Aisyah ke rumah sakit saat usianya menjelang satu tahun

“Saya periksakan ke RS Bina Kasih dan RSUD Ambarawa. Setelah dirontgen katanya dokter tak ada penyakit apapun,” ujarnya lirih.

Selama mengidap penyakit misterius itu, Aisyah praktis hanya dapat berbaring di kamar, tak bisa bersekolah, bermain seperti teman sebayanya dan beraktivitas secara mandiri lainnya.

“Sudah tak terhitung biaya yang dikeluarkan untuk mengobati Aisyah. Pengobatan alternatif juga telah kami coba tapi tak ada hasil,” keluhnya.

Kegiatan Aisyah sehari-hari, menurut Saelah, hanya berbaring di kamar. Terkadang Saelah dan Ramlan bergantian mengangkat tubuh Aisyah ke depan rumah di pagi hari agar mendapatkan sinar matahari.

Ramlan yang bekerja serabutan, dan Saelah yang kini dirumahkan akibat pandemi semakin memperburuk kondisi keluarga. Aisyah juga menurutnya tak dapat memberikan kode kepada orangtuanya saat lapar dan haus. Berdasarkan perkiraan, Saelah setiap hari memberi makan bubur ke Aisyah tiga kali sehari.

“Pokoknya saya kasih makan tiga kali sehari pakai bubur balita. Kalau mulutnya bergerak gerak, saya perkirakan dia lapar,” jelasnya.

Cobaan semakin bertambah manakala kulit Aisyah mengelupas sejak tiga bulan yang lalu. Awalnya hanya bagian pusar, kemudian menjalar ke seluruh bagian tubuh.

“Sudah Saya periksakan ke klinik terdekat, dikasih salep. Sempat sembuh tapi kambuh lagi,” terangnya.

Saelah mengaku tak pantang menyerah agar putri bungsunya dari dua bersaudara itu bisa segera sembuh.

“Saat ini biaya untuk penyembuhan hanya mengandalkan uang di tabungan yang tak seberapa dan juga bantuan sosial,” urainya.

Dia berharap agar ada uluran tangan dari para dermawan agar suatu saat nanti Aisyah bisa sembuh dan beraktivitas layaknya anak seusianya. (win)

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on pinterest
KABAR JAWA TENGAH
KABAR NASIONAL
KABAR INTERNASIONAL

KABAR TERKAIT
KABAR TERBARU
10 KABAR POPULER
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp