Selamatkan Bumi, Tiga Mahasiswa Ini Ubah Kulit Singkong Jadi Plastik

Selamatkan Bumi, Tiga Mahasiswa Ini Ubah Kulit Singkong Jadi Plastik

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on google
Share on pinterest
Selamatkan-Bumi,-Tiga-Mahasiswa-Ini-Ubah-Kulit-Singkong-Jadi-Plastik

Inovator CASPEEA : I Gede Kesha Aditya Kameswara, M Sulthan Arkana, Pambayun Pulung Manekung Stri Sinandang

SALATIGA – Plastik menjadi salah satu sampah yang jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Menurut laporan PBB, setiap tahunnya plastik membunuh satu juta burung laut, 100 ribu mamalia laut, serta ikan dan penyu yang tak terhingga jumlahnya. Krisis sampah plastik ini menjadi keresahan tersendiri bagi tiga mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang tergabung dalam tim inovator CASPEEA.

Belum lama ini, tim inovator CASPEEA yang terdiri dari I Gede Kesha Aditya Kameswara, M Sulthan Arkana, keduanya mahasiswa program studi Kimia Fakultas Sains dan Matematika (FSM), serta Pambayun Pulung Manekung Stri Sinandang mahasiswi prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) UKSW mengembangkan sebuah produk bioplastik berbahan dasar kulit singkong.

Kenapa kulit singkong? Menurut Kesha hal ini dikarenakan kulit singkong yang mengandung sekitar 60% polisakarida berupa pati hanya menjadi limbah dan belum banyak dimanfaatkan. Indonesia sebagai salah satu produsen singkong terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai 21 juta ton setiap tahun dikatakannya menjadikan kulit singkong sebagai kandidat kuat sebagai bahan utama pembuatan bioplastik karena memiliki keberlangsungan (sustainability) yang baik.

Tidak tanggung-tanggung, produk inovasi yang diberi nama “CASPEEA: A Bioplastic Made from Cassava Peel Wastage to Combat Plastic Waste Crisis Worldwide” ini diklaim memiliki ketahanan terhadap beban hingga mencapai 15 Mpa. Sementara produk bioplastik lainnya hanya dapat menahan beban sebesar 9 Mpa.

“Kalau plastik biasa yang diproduksi oleh pabrik dapat menahan beban berkisar 20 hingga 30 Mpa. Hal ini membuat kami yakin kalau produk bioplastik yang kami hasilkan mampu bersaing dengan plastik biasa. Kami juga menjamin bahwa produk ini food grade meskipun ada campuran bahan kimia,” tutur Kesha yang sebelumnya pernah bereksperimen dengan popok bayi dari kulit singkong tersebut.
Mudah terurai

Untuk kemampuan terurainya, Kesha menyebut bioplastik yang mereka hasilkan dapat terurai sebesar 34,56% selama 3 hari waktu penimbunan didalam tanah, sedangkan produk kompetitor hanya sebesar 18% adapun plastik biasa tidak dapat terurai sama sekali.

Raih Perak - di ajang “Thailand Inventor’s Day 2020” di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC)

Raih Perak – di ajang “Thailand Inventor’s Day 2020” di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC)

“Proses produksi dari bioplastik CASPEEA ini pun terbilang mudah karena tidak memerlukan alat canggih. Proses produksinya dilakukan dengan merendam kulit singkong kedalam larutan garam CR (Cyano Reduction) untuk menghilangkan sianida yang terdapat pada kulit singkong, kemudian proses berikutnya adalah mengeringkan sekaligus menghaluskan kulit singkong tersebut hingga bentuknya berubah menjadi tepung,” jelas Sultan.

Adapun tepung kulit singkong kemudian dicampurkan dengan asam laktat untuk meningkatkan ketahanan terhadap panas (fire resistant), setelah itu campuran tersebut dicuci dengan aseton untuk memperoleh butiran bioplastik. Selanjutnya, butiran dicampurkan dengan polivinil alkohol (PVA) dan bahan penambah lainnya untuk memproduksi bioplastik yang memiliki nilai kuat tarik yang tinggi.

[Raih Perak] – Dari hasil inovasi tersebut, ketiga mahasiswa yang saat ini masih aktif berkuliah tersebut berhasil menyumbangkan medali perak bagi UKSW pada ajang “Thailand Inventor’s Day 2020” di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC), Bangkok, Thailand pada 2-6 Februari lalu.

Tim CASPEEA menjadi salah satu kontingen yang mewakili Indonesia dalam kompetisi yang diikuti oleh 500 peserta dari 23 negara. Capaian ini sekaligus melengkapi total raihan medali kontingen Indonesia yakni sebanyak 58 medali baik emas, perak dan perunggu.

Atas raihan ini ketiganya mengaku bersyukur dan bangga dapat terpilih sebagai salah satu dari 30 tim wakil Indonesia. Kedepan, mereka akan terus mengembangkan produk CASPEEA. “Kami akan menguji produk, CASPEEA juga memiliki potensi menjadi pupuk karena bahan dasarnya mengandung mikromolekul yang dapat dijadikan pupuk kompos,” ujar Sultan.

Prestasi tim yang dibimbing oleh salah satu dosen FSM, Dr. Yohanes Martono, S.Si, M.Sc., tersebut mendapat apresiasi dari pimpinan universitas dan fakultas. Ditemui dalam sebuah kesempatan, Dekan FSM UKSW, Dr. Drs. Adi Setiawan, M.Sc., menyampaikan selamat atas prestasi yang telah diusung. Beliau berharap raihan ini dapat mendorong mahasiswa lain untuk turut berinovasi dan memberikan dampak bagi lingkungan serta masyarakat.

“Sebagai insan yang ditempa dengan konsep creative minority di UKSW, kami berharap mereka dapat menjawab berbagai permasalahan serta tantangan yang ada di masyarakat. Sehingga mampu memberikan manfaat bagi sekitar,” imbuh Dr. Adi Setiawan.

(rief)

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on pinterest
KABAR TERKAIT

Harga Ayam Melejit, Pedagang Mogok Jualan

UNGARAN – Kenaikan harga daging ayam yang dinilai tidak wajar, membuat puluhan pedagang daging ayam di Pasar Projo Ambarawa Kabupaten Semarang protes. Mereka sepakat tidak

KABAR TERBARU
KABAR TERKAIT
KABAR TERBARU
KABAR POPULER
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Privacy Policy
  • Media Partner
  • Disclaimer
  • Lowongan Pekerjaan

Connect With Us

Copyright @ 2020 rasikafm.com
All right reserved

INFORMASI

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Privacy Policy
  • Media Partner
  • Disclaimer
  • Lowongan Pekerjaan