RASIKAFM.COM | UNGARAN – Kebakaran menghanguskan dua ruang kelas beserta ruang permainan, dapur, dan kantor TK Mekarsari II di Dusun Kemasan, Desa Klepu, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Senin (19/10/2026) siang. Akibat kejadian tersebut, sekitar 60 siswa kehilangan ruang belajar, sementara seluruh sarana pembelajaran dan berkas administrasi sekolah turut terbakar.
Kerugian akibat kebakaran yang diduga dipicu pembakaran sampah itu diperkirakan mencapai Rp500 juta. Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke musala milik sekolah dasar (SD) Klepu 04 yang berlokasi tak jauh dari gedung TK.
Kepala TK Mekarsari II, Rum Harsuci, mengatakan ia mengetahui kejadian tersebut setelah mendapat telepon dari wali murid sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu, ia langsung meminta agar barang-barang yang masih bisa diselamatkan segera dievakuasi. Namun, api telanjur membesar hingga melalap hampir seluruh bangunan beserta isinya.
“Jawabannya justru yang mau diselamatkan apanya, sudah jadi arang semua,” ujarnya ditemui di lokasi, Selasa (20/10/2026).
Rum menjelaskan, kebakaran tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga seluruh sarana pendukung kegiatan belajar mengajar. Di antaranya alat permainan edukatif, komputer, printer, televisi, kipas angin, buku ajar, peralatan drumben beserta seragam, angklung, serta dokumen administrasi peserta didik.
“Termasuk rapor, buku-buku, dan berkas siswa juga terbakar. Drumben dan angklung juga sudah tidak ada. Kami masih seperti tidak percaya karena tiba-tiba semuanya habis,” tuturnya.
Berdasarkan laporan kejadian, kebakaran bermula sekitar pukul 13.30 WIB. Api diduga berasal dari aktivitas pembakaran sampah di dekat sekolah. Warga sempat berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya, tetapi kobaran semakin membesar akibat tiupan angin. Dua unit mobil pemadam dari Pos Bergas tiba sekitar pukul 14.30 WIB. Api berhasil dipadamkan setelah petugas melakukan penanganan selama kurang lebih dua jam.
“Kami telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan serta pihak SD Klepu 04 untuk meminjam musala sebagai tempat belajar sementara,” sambungnya.
Menurut Rum, lokasi tersebut dipilih dengan mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan anak-anak. Pihaknya juga sempat mendapat tawaran menggunakan gedung pertemuan maupun bangunan madrasah, tetapi musala dinilai lebih sesuai untuk kegiatan belajar sementara.
“Kami sementara meliburkan anak-anak satu hari. Setelah berkoordinasi, akhirnya disepakati kegiatan belajar mengajar menggunakan musala SD di sini,” katanya.
Sementara itu, Bupati Semarang Ngesti Nugraha yang turut meninjau lokasi, mengatakan pemerintah daerah akan segera menangani kerusakan bangunan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali normal. Ngesti menyebut kondisi bangunan yang terbakar sudah tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat belajar. Karena itu, pemerintah daerah akan mempercepat proses pembongkaran dan pembangunan kembali.
“Yang terbakar ini segera kita rubuhkan. Tadi sudah dihitung bersama konsultan dan DPU. Kemudian bersama BPBD, segera kita rapatkan dan bangun kembali karena ini menyangkut proses belajar mengajar,” ungkapnya.
Sambil menunggu pembangunan, para siswa akan mengikuti kegiatan belajar di musala SD setempat. Pemerintah daerah berharap perbaikan dapat segera dilakukan sehingga anak-anak bisa kembali belajar di lingkungan sekolah mereka.
“Kami mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di tengah musim kemarau,” tandasnya. (win)










