RASIKAFM.COM | UNGARAN – Peserta aksi Jateng Guyub mengaku kecewa setelah tidak diperkenankan transit atau beristirahat di Pendopo Kabupaten Semarang, saat rombongan longmarch dari kawasan Gedong Songo, Kabupaten Semarang, tiba di Ungaran, Selasa (22/9/2026) malam.
Perwakilan Jateng Guyub, Exy Wijaya mengatakan pihaknya sebelumnya telah berupaya membangun komunikasi dengan Pemkab Semarang agar rombongan dapat menggunakan Pendopo Kabupaten sebagai tempat transit. Menurutnya, rombongan hanya ingin beristirahat sementara sebelum melanjutkan perjalanan dalam rangka menyuarakan aspirasi terkait rencana pembangunan geothermal di Kantor Gubernur Jawa Tengah, pada Kamis (24/9/2026).
“Kami ingin transit sebenarnya di Kantor Bupati Semarang. Karena kami menganggap itu milik rakyat. Pajak yang dibayarkan juga oleh rakyat,” kata Exy di Ungaran, Rabu (23/9/2026).
Ia menyebut, upaya komunikasi dengan pihak Pemkab Semarang telah dilakukan oleh sejumlah anggota Jateng Guyub yang berada di Ungaran. Namun, rombongan akhirnya tidak dapat menggunakan Kantor Bupati untuk transit.
“Karena kita ditolak di kantor bupati tadi malam, akhirnya kita cari shelter sendiri,” ujarnya.
Rombongan dari Gedong Songo tiba di sekitar wilayah Ungaran pada tengah malam. Setelah itu, peserta aksi juga sempat berdialog dengan Kapolres Semarang hingga sekitar pukul 02.00 WIB.
Exy mengatakan, pembicaraan tersebut berkaitan dengan pengamanan perjalanan rombongan agar aksi tidak mengganggu ketertiban maupun pengguna jalan lainnya.
“Diajak komunikasi soal keamanan jalannya aksi agar tidak mengganggu ketertiban masyarakat pengguna jalan yang lain,” katanya.
Exy mempertanyakan alasan peserta aksi tidak diperbolehkan masuk dan beristirahat di lingkungan Kantor Bupati Semarang. Menurut dia, seharusnya pemerintah daerah dapat membuka ruang dialog dengan masyarakat yang menyampaikan aspirasi.
“Harusnya bupati atau beserta jajarannya, OPD-OPD lingkungan hidup, apapun dinas terkait, kita harus membangun ruang diskusi dengan aspirasi kawan-kawan,” ujarnya.
Ia menilai kekhawatiran masyarakat mengenai tanah, air, udara, dan lingkungan semestinya dapat dibahas bersama antara pemerintah dan masyarakat.
“Jangan malah menutup diri. Harusnya diskusi, dialog. Letakkan permasalahan di atas meja, ayo kita urai bareng-bareng. Kita mencari solusi. Ini ada aspirasi dari masyarakat, kekhawatiran tentang tanah, tentang air, udara dan lain sebagainya,” katanya.
Ia mengaku kecewa karena menurutnya kondisi tersebut berbeda dengan pengalaman aksi penolakan pabrik semen di kawasan Kendeng. Saat itu, kata dia, sejumlah kepala daerah justru membuka ruang bagi peserta aksi untuk transit dan menginap.
“Kami sangat kecewa dan tidak menutup kemungkinan pascaaksi di kantor Gubernur Jawa Tengah, kita akan aksi di depan Kantor Bupati Semarang, kita akan kepung. Kami hanya numpang leren (istirahat) kok,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Tata Pemerintahan Kabupaten Semarang, Zaenal Arifin, memberikan penjelasan berbeda. Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, ia mengatakan peserta aksi bukan dilarang menggunakan fasilitas tersebut, tetapi diminta mengajukan permohonan secara resmi.
“Bukan tidak boleh, kami minta mengajukan permohonan resmi agar mereka bisa terfasilitasi, tapi tidak mau,” kata Zaenal.
Rangkaian aksi Jateng Guyub selanjutnya akan mempertemukan peserta yang berjalan kaki dari Gedong Songo dengan peserta yang bergerak dari kawasan Gunung Lawu. Peserta aksi dari Gunung Lawu disebut telah tiba di Salatiga setelah sebelumnya bermalam di Boyolali. Kedua kelompok tersebut direncanakan bertemu di Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Kamis (24/9/2026). (win)











