SEMARANG – Antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya konsumsi Pertalite akibat pergeseran atau migrasi masyarakat dari BBM nonsubsidi.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan antrean panjang tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya kelangkaan BBM.
Menurutnya, terjadi peningkatan konsumsi Pertalite hingga sekitar 7 persen. Kenaikan konsumsi tersebut membuat antrean di sejumlah SPBU, terutama kendaraan roda dua, terlihat semakin panjang.
“Di Semarang dan semuanya di seluruh Indonesia itu sebetulnya terjadi migrasi atau peningkatan konsumsi Pertalite sebesar sampai dengan 7 persen,” ujar Taufiq.
Pertamina Terapkan Langkah Taktis di SPBU
Taufiq menjelaskan, Pertamina bersama pengelola SPBU melakukan sejumlah langkah taktis untuk mempercepat pelayanan kepada konsumen.
Langkah tersebut diterapkan terutama di SPBU yang antreannya sudah mengular hingga badan jalan.
Salah satunya dengan memasang imbauan agar konsumen tidak melakukan pembelian secara berulang. Kebijakan tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi hak masyarakat mendapatkan BBM, tetapi untuk mempercepat pergerakan antrean.
“Kita justru ingin membantu konsumen di masa saat ini, di saat migrasinya tinggi, di saat antreannya panjang, untuk semata-mata mempercepat antrean konsumen,” jelasnya.
Selain itu, beberapa SPBU juga tidak melayani pengangsu. Sementara pembelian BBM untuk nelayan maupun petani harus disertai surat rekomendasi sesuai ketentuan.
Taufiq menyebut langkah tersebut diterapkan secara selektif, bukan di seluruh SPBU. Jika mendapat respons positif dari konsumen, pengaturan serupa akan diperluas ke SPBU lain yang mengalami antrean panjang, terutama di jalur utama.
Pertamina Klarifikasi Isu Kenaikan Harga BBM Subsidi
Di tengah antrean panjang tersebut, masyarakat juga diimbau tidak mengaitkannya dengan informasi mengenai kenaikan harga BBM subsidi.
Taufiq mengatakan Pertamina turut mengamplifikasi pernyataan Kementerian ESDM yang menyebut informasi mengenai kenaikan harga BBM subsidi sebagai informasi tidak benar atau hoaks.
Menurutnya, antrean yang terjadi merupakan persoalan peningkatan konsumsi di sejumlah titik, bukan karena stok BBM secara keseluruhan habis.
“Stoknya melimpah, kami di Semarang atau Jateng dan DIY,” katanya.
Kenaikan Konsumsi Berpotensi Tekan Kuota
Meningkatnya konsumsi Pertalite juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan ketersediaan kuota hingga akhir tahun.
Taufiq mengatakan Pertamina secara rutin menyampaikan laporan realisasi penyaluran BBM kepada pemerintah daerah di Jawa Tengah dan DIY.
Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pemerintah daerah dalam menentukan langkah pengawasan maupun mengajukan tambahan kuota apabila diperlukan.
Pemerintah Provinsi DIY disebut telah mengajukan usulan tambahan kuota BBM menyusul peningkatan konsumsi.
Pertamina berharap langkah serupa dapat dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah jika hasil evaluasi menunjukkan adanya kebutuhan tambahan kuota.
Taufiq menegaskan, persoalan utama saat ini bukan pada ketersediaan stok BBM, melainkan peningkatan konsumsi yang membuat antrean terjadi di sejumlah SPBU.
Masyarakat pun diminta mengikuti ketentuan di SPBU dan tidak mudah mempercayai informasi mengenai harga maupun ketersediaan BBM yang tidak berasal dari sumber resmi.














