KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Dari Potensi Konflik Jadi Sumber Ekonomi, Inovasi Karang Taruna Manggihan Tembus 5 Besar Nasional

Dari Potensi Konflik Jadi Sumber Ekonomi, Inovasi Karang Taruna Manggihan Tembus 5 Besar Nasional

Dari Potensi Konflik Jadi Sumber Ekonomi, Inovasi Karang Taruna Manggihan Tembus 5 Besar Nasional

Tim dari Kemensos melakukan visitasi lapangan ke KUB Wira Tani Produktif yang memproduksi pupuk organik berbahan kotoran sapi di Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jumat (2/10/2026). Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Limbah kotoran sapi yang selama ini berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan dan konflik sosial di Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, justru diolah Karang Taruna Dharma Remaja menjadi pupuk organik bernilai ekonomi.

Inovasi tersebut mengantarkan Karang Taruna Dharma Remaja masuk lima besar kandidat Karang Taruna Berprestasi Tingkat Nasional 2026, mewakili Provinsi Jawa Tengah.

Direktur Pemberdayaan Sosial Masyarakat Kementerian Sosial, Andrianus Alla, mengatakan salah satu hal yang menjadi perhatian dalam penilaian bukan sekadar inovasi, tetapi dampaknya terhadap masyarakat. Menurutnya, pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik mampu mengurangi potensi konflik sosial yang sebelumnya muncul akibat limbah peternakan.

“Yang kami nilai adalah dampak dari inovasi ini sendiri. Ternyata dengan inovasi ini, yang awalnya di sini potensi konflik tinggi karena kotoran sapi, menjadi berkurang. Sehingga kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih baik,” ujarnya saat melakukan visitasi lapangan ke Kelompok Usaha Bersama (KUB) Wira Tani Produktif Desa Manggihan, Jumat (2/10/2026).

Selain mengurangi persoalan lingkungan, pengolahan limbah tersebut juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Kotoran sapi dari peternak dikumpulkan untuk diolah menjadi pupuk, bahkan masyarakat memperoleh penghasilan dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Andrianus menyebut, kotoran sapi dari peternak dapat dihargai sekitar Rp250 ribu untuk satu mobil pikap.

“Potensi yang sebenarnya dianggap tidak punya nilai manfaat, ternyata punya nilai manfaat, bahkan bisa mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Kemensos, lanjut Andrianus, mendorong agar inovasi tersebut terus dikembangkan. Salah satu tantangannya adalah memperluas pemasaran produk karena saat ini pemanfaatannya masih terbatas di kalangan sendiri.

“Ini menjadi tantangan kami, bagaimana supaya ini bisa dijual lebih luas. Ternyata kami membutuhkan izin edar. Ini yang akan kami coba lakukan pendampingan kepada Desa Manggihan sehingga mereka mendapatkan izin edar terkait pupuk organik ini,” jelasnya.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang Istichomah mengatakan, persoalan limbah peternakan memang cukup potensial menimbulkan konflik di Desa Manggihan. Pasalnya, aktivitas peternakan sapi perah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat setempat, sementara lahan untuk menampung kotoran sapi terbatas.

“Awalnya itu berpotensi timbul konflik sosial karena semua peternak sapi punya limbah. Baunya mengganggu tetangga, lahannya terbatas, juga bisa mencemari lingkungan,” ungkapnya.

Namun, kondisi tersebut berubah setelah Karang Taruna Dharma Remaja mengambil limbah kotoran sapi dari rumah-rumah peternak untuk diolah menjadi pupuk organik.

“Awalnya mereka tidak dibayar dulu. Tapi setelah menghasilkan dan mendapatkan keuntungan, masyarakat justru senang. Limbahnya tidak perlu bingung mencarikan tempat untuk membuang, yang kedua mereka juga mendapatkan keuntungan,” katanya.

Istichomah menyebut potensi peternakan di Desa Manggihan sangat besar. Bahkan, populasi sapi perah di desa tersebut mencapai lebih dari 3.700 ekor, lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk yang sekitar 3.500 jiwa.

Menurutnya, perkembangan peternakan sapi perah juga berkontribusi terhadap perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat Manggihan.

“Dulu ini desa sangat tertinggal, namanya desa IDT. Termiskin se-Jawa Tengah. Tapi dengan adanya sapi perah tadi mereka bisa meningkatkan kehidupannya dan sekarang sudah bukan desa IDT lagi,” katanya.

Istichomah berharap keberhasilan Karang Taruna Dharma Remaja dapat menjadi contoh bahwa pemuda tidak hanya mencari pekerjaan di luar desa, tetapi juga mampu mengembangkan potensi ekonomi di wilayahnya sendiri.

“Harapannya teman-teman tidak hanya keluar dari desanya, tapi juga membangun desanya. Potensi yang ada di tempat dia bisa dikembangkan,” urainya.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Dharma Remaja, Juari, mengatakan inovasi pengolahan limbah tersebut telah dikembangkan sejak beberapa tahun terakhir. Selain pupuk organik, pihaknya juga mengembangkan berbagai kegiatan berbasis lingkungan, seperti biogas, bioslurry, instalasi pemanen air hujan hingga pengolahan limbah pertanian.

“Dari limbah itu kami olah menjadi berkah, terutama pengolahan untuk biogas maupun bioslurry-nya untuk pupuk,” katanya.

Menurut Juari, kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pendapatan Karang Taruna, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekaligus memperkuat kepedulian pemuda terhadap lingkungan. Sejak 2018, berbagai usaha yang dikembangkan Karang Taruna Dharma Remaja mulai memberikan pemasukan bagi kelompok maupun masyarakat Desa Manggihan.

“Pupuk bokashi yang kami produksi juga telah memiliki paten dari Kemenkumham, sedangkan pemanfaatan biogas sayur dikembangkan melalui kegiatan edukasi lingkungan di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Dari teman-teman Karang Taruna tak lepas dari dampak untuk masyarakat, terutama kegiatan lingkungan,” katanya.

Masuknya Karang Taruna Dharma Remaja ke lima besar tingkat nasional menjadi momentum bagi kelompok pemuda tersebut untuk semakin mengembangkan inovasi pengelolaan lingkungan dan ekonomi desa. Selain Jawa Tengah, empat kandidat lainnya berasal dari Jawa Barat, Bantul, Jawa Timur, dan Bali.

“Dukungan dari pemerintah daerah, pemerintah desa maupun pemerintah provinsi sangat bagus untuk Karang Taruna Dharma Remaja,” tandasnya. (win)

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Jateng Guyub menggelar aksi penolakan rencana pembangunan geothermal di kawasan Gunung Ungaran dan Gunung Lawu sejak Selasa (22/9/2026). Gerakan yang disebut menghimpun elemen masyarakat dari 28 kabupaten/kota di Jawa Tengah itu dilakukan dengan berjalan kaki menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah karena kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan kehidupan generasi mendatang.
Massa Gelar Aksi Longmarch Gedong Songo-Kantor Gubernur Jateng, Suarakan Penolakan Geothermal
[pekok2]