KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Imbas GAK, Pemkot Semarang Minta Warga tidak Panik

Imbas GAK, Pemkot Semarang Minta Warga tidak Panik

Imbas GAK, Pemkot Semarang Minta Warga tidak Panik

RASIKAFM.COM | SEMARANG – Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) hingga kini belum terdeteksi mencapai permukaan wilayah Jawa Tengah. Hasil pemantauan lapangan dan uji paper test di sejumlah titik, termasuk Semarang, Tegal, dan Cilacap, menunjukkan hasil negatif.

Pemerintah Kota Semarang meminta masyarakat tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Terutama ketika saat musim kemarau, indikator
PM2.5 yaitu sebaran partikel udara dari debu, asap, dan gas buang kendaraan bermotor cukup tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang,M. Abdul Hakam mengatakan tingginya partikel udara terpantau ada diwilayah Tembalang, Banyumanik, dan Sendangmulyo. Meski masuk wilayah perbukitan, pihaknya menyebut wilayah tersebut termasuk wilayah pemukiman padat penduduk.

“Selain pemukiman padat penduduk, angka balita yang terkena pneumonia atau infeksi paru – paru, jumlah tertinggi dibandingkan 16 kecamatan lainnya,” sebut Hakam (8.9.2026).

Dinas Kesehatan Kota Semarang menjelaskan untuk memantau tingkat partikel debu mengandalkan alat pemantauan yang ada tiga titik.Alat ini ada di wilayah Kauman Semarang Tengah, Sumurejo Gunungpati, dan wilayah Kawasan Industri Tambakaji.

“Tidak hanya itu, lima puskesmas yang ada di kota Semarang ini juga dibekali sanitarian kit yang memungkinkan untuk melakukan pengecekan kondisi partikel udara sewaktu – waktu,” tambahnya.

Dengan kondisi ini, Dinas Kesehatan Kota Semarang meminta masyarakat untuk waspada dengan efek dari paparan PM 2,5 ini.

“Bukan hanya ISPA, tapi juga infeksi paru, asma, alergi, dan terakhir pertumbuhan jamur. Masyarakat harus jaga kondisi tubuh dengan minum air putih secukupnya.Tidak minum yang manis – manis ataupun makanan dengan garam berlebih,” tegasnya.

Seperti diketahui Pemerintah Jawa Tengah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melakukan assesmen di 35 kabupaten/kota. Pemantauan dilakukan terutama di wilayah yang berbatasan dengan Jawa Barat, mulai Cilacap, Kebumen, Purworejo, Brebes, Tegal, Banyumas, hingga wilayah lain di Jawa Tengah.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan, hasil asesmen menunjukkan belum ada dampak aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengganggu kehidupan masyarakat di Jawa Tengah.

“Ada informasi simpang siur terkait dampak langsung abu letusan GAK kepada masyarakat Jawa Tengah. Untuk menjelaskan isu-isu itu, harus didukung dengan data. Setelah kita cek di beberapa wilayah, hal yang mengganggu aktivitas kehidupan penghidupan masyarakat belum terjadi,” ujar Bergas

Menurutnya, pemerintah tetap menempatkan kewaspadaan sebagai prioritas. BPBD di seluruh Jawa Tengah telah diminta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai potensi dampak debu, baik yang berasal dari aktivitas vulkanik maupun kondisi musim kemarau.

“Kalau kita bicara di musim ini (kemarau), debu itu pasti luar biasa. Maka penggunaan masker itu menjadi penting. Kemudian tidak banyak keluar rumah. Kalau aktivitasnya banyak di luar rumah, banyak minum air putih. Artinya, tetap waspada dan tidak khawatir berlebihan,” katanya.

Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, menjelaskan, pemantauan dilakukan dengan mengacu pada data Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin dan analisis citra satelit BMKG Himawari.

Hasil analisis menunjukkan arah pergerakan angin berbeda berdasarkan lapisan atmosfer. Pada lapisan permukaan sekitar ketinggian 1.500 meter, angin bergerak dari timur ke barat.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa sebelumnya muncul informasi mengenai kemungkinan pergerakan abu vulkanik menuju sejumlah wilayah Jawa Tengah.

“Jadi kenapa kemarin agak heboh, barangkali memang di lapisan atas itu trajektori debu vulkanik diperkirakan sampai ke daerah-daerah di Jawa Tengah, tapi itu di lapisan atas. Sementara lapisan di bawahnya, anginnya ke arah dari timur ke barat,” jelas Yoga.

Untuk memastikan kondisi di lapangan, pengujian empiris juga dilakukan melalui paper test pada 6 dan 7 September 2026 di lingkungan Bandara Ahmad Yani Semarang. Hasilnya, tidak ditemukan indikasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Pengujian serupa dilakukan di sejumlah titik lain, yakni Stasiun Klimatologi Kertajati, Stasiun Meteorologi Maritim Tegal, serta kawasan Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap.

“Paper test di sekitar Bandara Ahmad Yani hasilnya negatif. Didukung pula oleh teman-teman di Staklim Kertajati Majalengka. Di Stamar Tegal mewakili Pantura juga negatif, Tunggul Wulung-Cilacap juga negatif. Secara ilmiah, di Jawa Tengah, perbatasan dengan Jabar di utara dan selatan itu negatif,” tegasnya.

Kepala Stasiun Klimatologi Jateng, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Menurut dia, kondisi udara di Jawa Tengah memang dipengaruhi musim kemarau. Pemantauan kualitas udara juga dilakukan secara rutin, baik ketika terjadi aktivitas vulkanik maupun dalam kondisi normal.

“Dapat disimpulkan, debu-debu dari kondisi volcanic ash tidak sampai ke Jawa Tengah untuk lapisan permukaan. Mengapa di medsos nampak debu di mobil atau motor? Karena kondisi kita dalam musim kemarau,” ungkap Goeroeh.

Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, sebanyak 24 wilayah saat ini berstatus kemarau awas. Pemerintah mengimbau warga tetap mengikuti informasi resmi dari BPBD dan BMKG serta menjaga kesehatan selama kondisi kemarau.

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Jateng Guyub menggelar aksi penolakan rencana pembangunan geothermal di kawasan Gunung Ungaran dan Gunung Lawu sejak Selasa (22/9/2026). Gerakan yang disebut menghimpun elemen masyarakat dari 28 kabupaten/kota di Jawa Tengah itu dilakukan dengan berjalan kaki menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah karena kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan kehidupan generasi mendatang.
Massa Gelar Aksi Longmarch Gedong Songo-Kantor Gubernur Jateng, Suarakan Penolakan Geothermal
[pekok2]