RASIKAFM.COM | UNGARAN – Seorang siswa kelas 4 SD Hj Isriati Moenadi, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, berinisial R, diduga menjadi korban perundungan oleh teman sekelasnya hingga mengalami sejumlah luka dan trauma.
Orang tua R, Arief Prasetyo (48), mengatakan dugaan perundungan terjadi pada Rabu (23/9/2026) saat kegiatan pembelajaran di sekolah. Menurut Arief, R mengalami memar di sejumlah bagian tubuh, luka di belakang telinga, serta bibir bagian kiri bawah pecah. Setelah kejadian, R juga mengalami demam tinggi hingga mencapai 41,8 derajat Celsius.
“Anak saya mendapatkan perlakuan perundungan dari teman satu kelas. Ada dua teman kelasnya yang mengakibatkan memar, kemudian ada luka di belakang telinga dan pecah di bibir sebelah kiri bawah,” kata Arief saat memberikan keterangan kepada wartawan, Senin (28/9/2026).
Pada Jumat (25/9/2026), R dibawa ke Rumah Sakit Hermina Banyumanik untuk mendapatkan pemeriksaan. Arief menyebut dokter menyampaikan bahwa R mengalami trauma akibat kejadian yang dialaminya di sekolah. Selain cedera, Arief mengatakan kondisi R hingga kini masih mengalami mimisan. Ia juga melihat perubahan perilaku pada anaknya setelah kejadian tersebut.
“Anak saya sekarang lebih cenderung termenung, diam, kemudian sering mengigau. Bahkan pada saat dia diam tiba-tiba seperti melihat sesuatu dan bertanya tentang lingkaran,” ujarnya.
Arief menyebut dugaan tindakan kekerasan terhadap anaknya bukan baru terjadi sekali. Berdasarkan keterangan R, intimidasi dan perlakuan fisik disebut sudah beberapa kali terjadi, termasuk pada Jumat sebelum kejadian Rabu.
Ia menyebut dua siswa yang diduga terlibat berinisial Z dan A. Namun, Arief menegaskan pihaknya masih menunggu penjelasan lengkap mengenai kronologi kejadian. Ia meminta pihak sekolah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan, termasuk pengawasan siswa saat pergantian kegiatan maupun jam istirahat serta penggunaan CCTV.
“Keamanan dulu, kenyamanan, baru kita bicara kualitas pendidikan. Bagaimanapun kualitas pendidikannya, ketika keamanan sudah tidak terjamin, saya kira sudah tidak bisa dipertahankan kalau seperti itu,” katanya.
Arief mengaku pihak sekolah telah meminta maaf dan menyampaikan akan melakukan evaluasi. Namun, ia masih menunggu bentuk evaluasi dan tindakan konkret yang dilakukan sekolah.
“Kalau tidak ada tindakan serius dari pihak sekolah, kami akan pertimbangkan mengambil langkah hukum atau tidak,” bebernya.
Kepala SD Hj Isriati Moenadi, Yosi Kumalasari, saat dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian tersebut. Peristiwa bermula saat pembelajaran olahraga. Saat itu siswa dibagi menjadi dua tim untuk pengambilan nilai. Siswa dari tim yang memperoleh nilai lebih banyak melakukan selebrasi di depan tim yang kalah. Situasi tersebut kemudian berlanjut pada Rabu (23/9/2026). Seusai salat zuhur berjamaah dan kegiatan literasi, sebagian siswa kembali ke kelas sementara wali kelas masih mendampingi siswa lainnya.
“Ketika kembali ternyata sudah ada kejadian. Anak-anak mengajak yang lainnya, ‘yuk kita perang-perangan’, kemudian malah jadi beneran,” jelas Yosi.
Pihak sekolah kemudian mengumpulkan siswa yang terlibat untuk menggali kronologi. Menurut Yosi, sekolah memberikan konsekuensi kepada siswa yang terlibat sesuai tingkat keterlibatannya. Sekolah juga menerapkan program “Bengkel Akhlak” sebagai bentuk pembinaan. Siswa yang terlibat diminta mengikuti kegiatan spiritual, termasuk membaca Al-Qur’an.
Yosi mengatakan salah satu siswa yang. Ia juga membantah adanya perlakuan khusus.
“Karena ini diduga dari Ketua Yayasan, dari keluarga kami sendiri, itu malah mendapat hukuman yang lebih berat. Jadi yang paling berat,” katanya.
Yosi juga mengatakan orang tua siswa tersebut telah mengetahui kejadian dan berupaya meminta difasilitasi untuk bertemu dengan keluarga R guna menyampaikan permintaan maaf.
Sementara Wakil Kepsek Bidang Kurikulum SD Hj Isriati Moenadi, Fresti Mei Nuswari, mengatakan sekolah telah berkomunikasi dengan keluarga korban maupun keluarga siswa yang terlibat.
Menurut Fresti, pihak sekolah juga telah mengupayakan mediasi. Namun, pertemuan antara anak yang terlibat dengan korban masih menunggu kondisi R kembali stabil.
“Kami menunggu timing kesiapan dari orang tua korban dan juga anaknya, karena situasinya sedang tidak memungkinkan dan si anak ini juga belum stabil,” ujarnya.
Terkait informasi adanya kasus serupa yang disebut pernah terjadi sebelumnya hingga menyebabkan siswa pindah sekolah, Fresti mengatakan pihak sekolah tidak memiliki data mengenai adanya siswa yang pindah karena tindakan siswa yang sama. Ia juga menyebut kejadian kekerasan fisik seperti yang dialami R baru pertama kali terjadi dan sebelumnya hanya terdapat kenakalan siswa yang dinilai masih dalam kategori biasa.
“Fokus kami saat ini ingin membantu memulihkan kondisi psikis dan menghilangkan trauma,” tandasnya. (win)











