RASIKAFM.COM | UNGARAN – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan keprihatinan atas dugaan kasus perundungan yang menyebabkan meninggalnya seorang murid SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang. Ia menegaskan, upaya membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman harus diperkuat agar kasus kekerasan di lingkungan pendidikan tidak kembali terulang.
Abdul Mu’ti mengakui, meskipun pemerintah telah menerbitkan berbagai kebijakan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, pelaksanaannya di lapangan masih belum optimal.
“Kami merasa sangat prihatin atas kejadian kekerasan yang masih saja terjadi di sekolah-sekolah di Indonesia. Peristiwa yang terjadi di Pemalang dan mungkin juga daerah lainnya, mudah-mudahan tidak terus terulang di masa-masa yang akan datang,” kata Abdul Mu’ti di Ungaran, Jumat (10/10/2026).
Abdul Mu’ti menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Menurut dia, pembinaan tidak cukup hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga harus berlanjut di lingkungan keluarga, masyarakat, hingga ruang digital. Ia juga menyoroti pengaruh media, khususnya internet dan media sosial, yang berpotensi menjadi sumber inspirasi perilaku kekerasan bagi anak-anak.
“Banyak pelaku kekerasan itu terinspirasi oleh apa yang mereka tonton di media, terutama di internet dan media sosial. Anak-anak tidak tahu membedakan antara dunia nyata dengan dunia maya, sehingga kadang-kadang apa yang mereka lihat itu kemudian mereka lakukan dalam kehidupan nyata,” jelasnya.
Menurut dia, Kemendikdasmen telah melakukan berbagai upaya untuk menegakkan kebijakan budaya sekolah yang aman dan nyaman di seluruh satuan pendidikan. Namun, implementasi kebijakan tersebut masih perlu ditingkatkan. Karena itu,
“Kami berkomitmen memperkuat pelaksanaan kebijakan tersebut, sekaligus mendorong penerapan budaya ASRI, yakni aman, sehat, resik, dan indah, sebagaimana menjadi kebijakan Presiden,” sambungnya.
Terkait kasus di Pemalang, Abdul Mu’ti mengatakan, Kemendikdasmen telah menerjunkan tim Inspektorat Jenderal (Irjen) untuk menemui keluarga korban. Tim dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Jawa Tengah juga telah berkoordinasi dengan bupati, kepala dinas, serta masyarakat setempat.
“Kami telah berusaha agar persoalan ini diselesaikan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Abdul Mu’ti menegaskan, pencegahan kekerasan terhadap anak membutuhkan kerja sama antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan media. Pembinaan di sekolah, kata dia, tidak akan cukup tanpa dukungan keluarga. Demikian pula pembinaan di sekolah dan keluarga perlu diperkuat dengan lingkungan masyarakat yang mendukung tumbuh kembang anak secara positif.
“Peran teman-teman media, baik yang aktif di media massa maupun media sosial, tidak kalah pentingnya untuk menyebarkan berita-berita baik, sehingga anak-anak kita meniru hal-hal yang baik, bukan meniru hal-hal yang tidak baik,” pungkasnya. (win)












