Transformasi ekonomi dan keuangan digital di Jawa Tengah terus meluas. Bukan hanya soal pembayaran menggunakan QRIS, digitalisasi kini masuk ke aktivitas UMKM, pariwisata, transaksi pemerintah daerah, hingga konektivitas pembayaran dengan masyarakat dari negara lain.
Gambaran tersebut menjadi bagian dari semangat Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo atau FEKDI x IFSE 2026, yang digelar di Jakarta, 24 hingga 26 September lalu.
Di Jawa Tengah, penggunaan QRIS menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga Juli 2026, transaksi QRIS mencapai 870,01 juta transaksi, dengan nilai mencapai Rp73,45 triliun.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah menilai perkembangan tersebut menunjukkan pembayaran digital semakin diterima masyarakat dan pelaku usaha dalam transaksi sehari-hari.
Konektivitas bahkan mulai menembus transaksi lintas negara. Hingga periode yang sama, transaksi QRIS Antarnegara inbound di Jawa Tengah mencapai 495,89 ribu transaksi, dengan nominal Rp136,37 miliar.
Transaksi tersebut terutama membuka ruang bagi sektor yang banyak bersentuhan dengan mobilitas masyarakat, seperti pariwisata, perdagangan, kuliner, dan ekonomi kreatif.
Digitalisasi juga bergerak di lingkungan pemerintah daerah melalui Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah atau ETPD.
Hasilnya, dalam Championship TP2DD 2026, Jawa Tengah meraih peringkat kedua TP2DD terbaik tingkat provinsi wilayah Jawa-Bali, sedangkan Kota Semarang berada di peringkat ketiga tingkat kota.
Sementara dalam TNT Awards Jawa Tengah 2026, Kabupaten Demak menjadi peringkat pertama, disusul Kabupaten Kudus dan Kabupaten Kebumen.
Menariknya, digitalisasi pembayaran juga dipadukan dengan agenda pengendalian inflasi. Dalam kegiatan Rupiah Tresno Budoyo atau RTB 2026 di kawasan Sam Poo Kong Semarang, edukasi QRIS disandingkan dengan edukasi ketahanan pangan, termasuk transaksi tebus murah komoditas pangan strategis menggunakan QRIS.
Jadi, digitalisasi tidak berhenti pada soal cara membayar. Di Jawa Tengah, sistem pembayaran digital mulai diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi, memperkuat transaksi pemerintah, membantu UMKM, membuka koneksi dengan wisatawan dan konsumen dari luar negeri, sekaligus mendukung agenda pengendalian inflasi.
Ke depan, tantangannya adalah bagaimana ekosistem digital tersebut semakin terhubung dengan sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah—dari UMKM, perdagangan, pariwisata, ekonomi kreatif, sampai pelayanan publik.





