RASIKAFM.COM – Steak tak selalu harus dinikmati di restoran dengan suasana formal dan harga yang mahal. Di Salatiga, Jawa Tengah, Urban Steak mencoba membawa sajian bergaya western ke konsep kuliner jalanan.
Warung yang berada di Karangpete, Benoyo, tepatnya di sebelah barat Lapangan Voli Benoyo, Jalan Benoyo, ini telah berjalan hampir tiga tahun.
Pemilik Urban Steak, Ery Setiawan (38), menawarkan beragam olahan ayam dan daging sapi dengan harga mulai sekitar Rp20.000.
Urban Steak mulai melayani pelanggan pada sore hari hingga malam.
Membawa sajian restoran ke jalanan
Konsep yang diusung Urban Steak adalah western street food. Namun, ada satu hal yang membedakannya dari sejumlah tempat makan steak lainnya, yakni cara penyajiannya.
Urban Steak tidak menggunakan hot plate. Hidangan ditata di atas piring dengan gaya penyajian yang dibuat menyerupai restoran.
“Plating-nya ala-ala restoran, bukan take line. Makanan restoran yang kami bawa ke jalanan,” ujar Ery.
Menu yang tersedia antara lain olahan ayam dan daging sapi dengan beragam pilihan rasa, mulai dari manis, pedas, asin, keju hingga gurih.
Berawal dari pengalaman di dunia kuliner
Usaha tersebut tidak terlepas dari pengalaman Ery di bidang kuliner. Sejak lulus sekolah, ia telah bekerja di dunia makanan dan minuman.
“Kalau saya dari lulus sekolah memang kerjanya di bidang kuliner. Lima tahun di Bali, satu tahun di Jakarta, pulang ke Salatiga, baliknya ya masih ke kuliner juga,” katanya.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal Ery ketika membangun Urban Steak di Salatiga.
Dalam sehari, Urban Steak membatasi penggunaan ayam sekitar 15 kilogram. Sementara kebutuhan daging sapi rata-rata mencapai 4-5 kilogram per hari.
Pelanggan Urban Steak juga datang dari berbagai daerah. Selain warga Salatiga, Ery menyebut ada pelanggan dari luar kota, bahkan hingga Yogyakarta.
Urban Steak juga memiliki program special season yang berganti setiap bulan.
Pada Oktober, tersedia lima menu khusus yang terinspirasi dari makanan Prancis. Setelah periode tersebut selesai, tema menu dapat berganti pada bulan berikutnya, sementara menu reguler tetap tersedia.
Selain melayani pelanggan yang datang ke warung, Urban Steak menerima pesanan untuk acara privat seperti ulang tahun maupun pesta di rumah atau vila.
Jumlah pesanan pun tidak harus dalam skala besar. Bahkan, pesanan untuk dua orang tetap dilayani.
Pelanggan yang ingin menikmati hidangan di rumah juga dapat meminta tim Urban Steak memasak langsung di lokasi.
“Berdua suami istri mau makan, malas antre, tinggal panggil kami, saya masakkan langsung di rumah,” kata Ery.
Untuk harga, menu Urban Steak dibanderol mulai sekitar Rp20.000. Sementara salah satu menu dengan harga tertinggi saat ini adalah beef meltik, yang dibanderol sekitar Rp70.000.
Hampir tiga tahun berjalan, Urban Steak mempertahankan konsep menghadirkan makanan bergaya western dengan suasana kuliner jalanan dan harga yang relatif terjangkau.
Bagi Ery, usaha tersebut sekaligus menjadi kelanjutan dari perjalanan panjangnya di dunia kuliner, setelah bertahun-tahun bekerja di Bali dan Jakarta sebelum kembali ke Salatiga.
Salah satu pelanggan, Yuli, menilai Urban Steak memiliki cita rasa dan karakter sajian yang berbeda. Menurut dia, daging yang disajikan terasa enak, ukurannya cukup besar, serta empuk ketika disantap.
“Menurut saya enak. Dagingnya besar dan empuk. Pokoknya rasanya beda dari steak yang pernah saya coba,” ujar Yuli.












