RASIKAFM.COM | UNGARAN – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di kompleks Candi Gedongsongo, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Rabu (28/10/2026), berlangsung dengan nuansa budaya yang kental. Ratusan peserta mengenakan pakaian adat mengikuti upacara dengan khidmat, sementara seluruh aba-aba disampaikan menggunakan bahasa Jawa.
Tak sekadar memperingati momentum bersejarah persatuan pemuda Indonesia, kegiatan tersebut juga menjadi ajakan untuk menjaga kelestarian alam dan warisan budaya leluhur. Usai upacara, peserta membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter mengelilingi Candi IV.
Inspektur upacara, Edho, mengatakan pemilihan kawasan Candi Gedongsongo sebagai lokasi peringatan bertujuan mengenalkan pentingnya pelestarian alam dan cagar budaya kepada generasi muda. Gunung memiliki makna penting dalam filosofi kehidupan masyarakat Jawa. Selain menjadi tempat bernaung, kawasan pegunungan menyimpan sumber daya alam berupa tanah subur dan air yang menopang kehidupan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap pemuda dan pemudi di seluruh Indonesia bisa menggali nilai-nilai pelestarian alam di wilayahnya masing-masing,” ujarnya.
Ia berharap upacara bernuansa adat tersebut dapat dilaksanakan secara rutin di tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi leluhur. Kegiatan itu sekaligus menjadi sarana untuk menghidupkan kembali kearifan lokal dan ajaran leluhur Jawa.
“Penggunaan bahasa Jawa dalam seluruh aba-aba upacara adalah bagian dari upaya mengangkat kembali identitas dan budaya masyarakat adat,” katanya.
Selain upacara, kegiatan itu diisi dengan penyampaian Sumpah Bumi. Edho menjelaskan, Sumpah Bumi merupakan ungkapan penghormatan terhadap Bumi Pertiwi sekaligus ajakan menjaga keberlangsungan kehidupan manusia dan alam.
“Bagaimanapun, kita harus menghargai dan menghormati Bumi Pertiwi agar bisa memberikan manfaat bagi kehidupan serta menjaga keberlangsungan hidup masyarakat,” katanya.
Pesan pelestarian lingkungan tersebut juga bersinggungan dengan berbagai kebijakan pembangunan yang berpotensi memengaruhi kondisi alam. Edho berharap pemerintah memberikan ruang lebih luas kepada masyarakat untuk turut menjaga lingkungan, termasuk mempertimbangkan kembali rencana proyek geothermal di kawasan Gunung Ungaran dan mencari solusi yang dinilai lebih aman bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening, mengapresiasi penyelenggaraan peringatan Sumpah Pemuda yang dikemas melalui pendekatan budaya.
“Jadi tidak hanya menjadi sarana mengenang semangat persatuan pemuda, tetapi juga menyampaikan pesan pelestarian lingkungan dari perspektif budayawan dan seniman,” ungkapnya.
Bondan menegaskan, DPRD menghargai aspirasi yang disampaikan berbagai elemen masyarakat, termasuk terkait penolakan proyek geothermal. Ia menilai penyampaian aspirasi merupakan bagian dari partisipasi masyarakat dalam menyampaikan masukan kepada pemerintah.
“Selama aspirasi disampaikan dengan etika dan cara yang baik, kami menghargainya. Itu merupakan salah satu bentuk penyampaian aspirasi masyarakat,” ujarnya. (win)












