RASIKAFM.COM | UNGARAN – Pelestarian bahasa daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah. Kebiasaan menggunakan bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga, menjadi kunci agar generasi muda tidak kehilangan identitas budaya dan nilai-nilai luhur bangsanya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, bahasa daerah merupakan bagian penting dari kebudayaan nasional yang harus dijaga keberlangsungannya. Karena itu, penggunaannya perlu dibiasakan sejak dini, baik di rumah maupun di lingkungan masyarakat.
“Melestarikan bahasa daerah tidak cukup dengan hanya menjadikan bahasa daerah sebagai muatan lokal dalam kurikulum di sekolah kita, tetapi membiasakan mereka berbahasa daerah di rumah, di masyarakat, atau di berbagai forum menjadi bagian penting agar bahasa-bahasa daerah itu dapat kita lestarikan,” ujarnya seusai membuka Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi Jawa Tengah di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Ungaran, Jumat (9/10/2026) sore.
Menurutnya, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga sarana untuk mewariskan nilai-nilai budaya dan membentuk karakter anak. Dalam bahasa Jawa, misalnya, terdapat tata krama atau unggah-ungguh yang mengajarkan seseorang menghormati orang lain sesuai dengan kedudukan dan situasinya. Ia mengaku pernah merasakan sendiri bagaimana penggunaan bahasa daerah mulai terputus dalam keluarganya, meski ia dan sang istri sama-sama berasal dari Jawa, anak-anak mereka tidak terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa di rumah.
“Ketika saya sudah mulai punya anak, saya merasa bersalah ketika bapak saya memanggil anak saya. Kebetulan kami ini dua-duanya Jawa, tapi sudah tercerabut agak lama sehingga anak-anak tidak berbahasa Jawa,” tuturnya.
Abdul Mu’ti menilai, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian bahasa daerah harus dimulai dari keluarga. Sebab, bahasa tidak hanya dipelajari melalui teori, tetapi juga tumbuh melalui kebiasaan dan interaksi sehari-hari. Ia mencontohkan pengalaman seorang rekannya yang membiasakan penggunaan bahasa Jawa di lingkungan keluarga meskipun tinggal di luar negeri. Kebiasaan itu dilakukan agar anaknya tetap mengenal bahasa dan identitas budayanya sendiri di tengah lingkungan yang menggunakan bahasa Inggris.
“Kalau bahasa Inggris dia mesti bisa karena sehari-hari di sekolah menggunakan bahasa Inggris. Kalau nanti dia pulang, dia mesti bisa bahasa Indonesia. Tapi belum tentu dia bisa bahasa Jawa,” jelasnya mengutip penjelasan rekannya.
Menurut dia, penguasaan bahasa daerah juga tidak harus menjadi penghalang bagi anak untuk mempelajari bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Justru, bahasa daerah dapat menjadi fondasi untuk mengenalkan identitas budaya sekaligus menanamkan nilai-nilai kesantunan.
“Yang paling penting bukan mendapatkan juara, tetapi menumbuhkan rasa cinta kepada bahasa daerah, meningkatkan kemampuan berbahasa daerah, dan membangun persahabatan di antara sesama peserta,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyatakan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap upaya pelestarian bahasa daerah. Salah satunya melalui pembiasaan berbahasa Jawa setiap Kamis di lingkungan pemerintah provinsi.
“Ketika kita memakai bahasa Jawa, kita membuka jati diri. Kalau kita pernah ke luar negeri ataupun ada wisatawan datang ke Indonesia, mereka melihat tata kramanya baik, unggah-ungguhnya baik. Itu bisa tercermin apabila kita melestarikan bahasa,” ujarnya.
Ia berharap upaya pelestarian bahasa daerah dapat terus diperluas dan menjadi gerakan bersama, tidak hanya di lingkungan pendidikan, tetapi juga dalam keluarga dan kehidupan bermasyarakat.
“Ini penting untuk membangun karakter, sebab bahasa adalah cerminan bangsa,” tandasnya. (win)














