KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

FPRB Salatiga ajak Masyarakat Kurangi Risiko Bencana

FPRB Salatiga ajak Masyarakat Kurangi Risiko Bencana

FPRB Salatiga ajak Masyarakat Kurangi Risiko Bencana

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Ketika bencana terjadi, masyarakat kerap menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Namun, upaya mengurangi risiko bencana tidak semestinya baru dilakukan setelah bencana datang.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Salatiga, Tri Sukrisdyanto, mengatakan kesiapsiagaan harus dibangun sejak sebelum bencana terjadi dengan melibatkan masyarakat dan berbagai unsur.

“Bencana adalah urusan bersama. Karena itu, upaya pengurangan risiko bencana juga harus dilakukan bersama-sama, dari kita untuk kita,” ujar Tri Sukrisdyanto usai pertemuan rutin FPRB Kota Salatiga, Rabu (23/9/2026).

Menurut Tri, masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan akan lebih mampu menghadapi ancaman bencana sekaligus membantu meminimalkan jumlah korban dan dampaknya.

FPRB Kota Salatiga sendiri telah terbentuk sejak 2022 dan kini telah memasuki periode kedua kepengurusan berdasarkan surat keputusan pengesahan dari Wali Kota Salatiga.

Forum tersebut menjadi wadah berbagai unsur masyarakat sekaligus mitra Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Salatiga dalam menjalankan upaya pengurangan risiko bencana, terutama pada masa prabencana.

FPRB melibatkan berbagai unsur pentahelix, mulai dari pelaku usaha, akademisi, komunitas hingga kelompok relawan kebencanaan.

Di antaranya Salatiga Peduli, Palang Merah Indonesia (PMI), Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI), Pemuda Pancasila, SAR SERI, SAR DOG, Indonesia Off-Road Federation (IOF), hingga komunitas Eco Enzyme.

Tak hanya bicara bencana

Tri mengatakan, pengurangan risiko bencana tidak hanya dilakukan melalui sosialisasi dan simulasi.

FPRB juga rutin menggelar pertemuan setiap bulan untuk meningkatkan kapasitas anggotanya, membahas perkembangan pengetahuan kebencanaan sekaligus isu-isu yang berkaitan dengan mitigasi.

Dalam dua bulan terakhir, salah satu isu yang menjadi perhatian adalah persoalan “Salatiga Darurat Sampah”.

“Selain mendukung program-program yang dilakukan pemerintah, pada pertemuan kali ini kami mendapatkan pengetahuan dari Komunitas Eco Enzyme serta belajar tentang pembuatannya,” kata Tri.

Pertemuan rutin kali ini digelar di Basecamp Eco Enzyme Salatiga, Jalan Karangrejo Nomor 94, Mrican.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Kepala Pelaksana BPBD Kota Salatiga Sutarto, SH.

Sutarto mengapresiasi keberadaan FPRB yang selama ini menjadi mitra BPBD dalam mendukung program mitigasi kebencanaan di Kota Salatiga.

“Saya mengapresiasi adanya FPRB yang merupakan mitra BPBD dan telah mendukung program mitigasi kebencanaan di Salatiga,” ujar Sutarto.

Ia berharap kegiatan rutin FPRB tetap dipertahankan, termasuk konsep anjangsana dengan menggelar pertemuan di sekretariat atau basecamp masing-masing anggota.

Menurut Sutarto, kegiatan tersebut dapat mempererat hubungan antaranggota sekaligus memperkuat koordinasi ketika menghadapi persoalan kebencanaan.

“Pertemuan rutin yang berjalan dengan anjangsana di masing-masing sekretariat atau basecamp anggota ini dapat terus dijalankan agar semakin mempererat tali persaudaraan serta semakin solid untuk mendukung program pencegahan dan penanggulangan bencana di Salatiga dan sekitarnya,” katanya.

Sutarto menegaskan, penanganan kebencanaan saat ini tidak hanya berfokus pada penanganan ketika bencana terjadi. Upaya mitigasi dan pencegahan perlu diperkuat sejak awal.

“Program penanganan kebencanaan sekarang lebih mengedepankan upaya mitigasi dan preventif serta harus selalu melibatkan pentahelix yang ada di masing-masing wilayah,” ujar Sutarto.

Melalui kolaborasi tersebut, FPRB Salatiga mendorong agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan ketika bencana terjadi, tetapi ikut mengambil peran dalam mengenali risiko, melakukan pencegahan, dan membangun kesiapsiagaan sejak dini.

Knowledge

Tidak ada postingan.

Kabar Terkini

POPULER

Bakal calon Kepala Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Hermawan Sigit atau Nanang, menyiapkan sejumlah gagasan pembangunan yang mencakup perbaikan tata kelola pemerintahan, pengembangan UMKM, optimalisasi wisata lokal, dan pengelolaan sampah rumah tangga. Ia mengusung visi masyarakat religius, maju, sejahtera, dan mandiri dengan mengedepankan partisipasi warga serta penerapan program secara bertahap.
Bertarung dalam Pilkades Cukilan, Hermawan Sigit siapkan sejumlah Jurus Jitu, “urip kudu urup”
Persaingan cabang olahraga biliar dalam Porprov Jawa Tengah XVII 2026 di Kabupaten Semarang menghadirkan kejutan dengan tumbangnya sejumlah atlet unggulan. Hingga Rabu (28/10/2026), sebanyak 10 dari 15 nomor pertandingan telah selesai digelar. Sebanyak 112 atlet dari 29 kabupaten/kota mengikuti kompetisi yang berlangsung di J_Pool Billiard and Cafe dan Kingdom Billiard hingga Jumat (30/10/2026).
Kejutan di Cabor Biliar Porprov Jateng XVII, Sejumlah Unggulan Tumbang
BMKG memprakirakan cuaca Semarang pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 07.00–19.00 WIB, cerah berawan hingga berawan pada pagi sampai siang hari, kemudian umumnya berawan dengan potensi hujan ringan hingga sedang pada sore hingga awal malam. Angin bertiup dari barat laut hingga timur dengan kecepatan 10–30 km/jam, suhu udara 27–34 derajat Celsius, dan kelembapan 45–90 persen.
29 Oktober 2026: Semarang Berpotensi Hujan, Jateng Waspadai Cuaca Ekstrem
Penyelenggaraan Porprov Jawa Tengah XVII pada 25–31 Oktober 2026 turut meningkatkan kunjungan wisata dan aktivitas ekonomi di Kabupaten Semarang. Kepala Dinas Pariwisata Wiwin Sulistyowati menyebut tingkat hunian hotel meningkat, sementara villa dan homestay menjadi alternatif akomodasi bagi atlet, ofisial, keluarga, serta suporter yang datang.
Porprov Jateng 2026 Jadi Magnet Wisata, Hotel hingga Homestay di Kabupaten Semarang Kebanjiran Tamu
[pekok2]