RASIKAFM.COM | SALATIGA – Sebanyak 4.463 siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Salatiga mengikuti psikotes gratis untuk mengenali potensi diri, memetakan bakat dan minat, serta menentukan arah pendidikan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Program yang digelar MAVI bekerja sama dengan Biro Beehive Psikologi tersebut berlangsung selama tiga hari, 27–29 Oktober 2026, dengan menyasar siswa kelas VII dan IX di sejumlah SMP di Kota Salatiga.
Kepada rasikafm.com,
Ketua Harian MAVI, Anggit K. Wisuda, menjelaskan bahwa psikotes bagi siswa kelas VII difokuskan pada pemetaan bakat, minat, dan kecenderungan metode belajar. Hasilnya diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi guru bimbingan dan konseling (BK) serta orang tua dalam mendampingi perkembangan siswa.
Sementara itu, psikotes bagi siswa kelas IX lebih diarahkan pada pengenalan minat dan kecenderungan pilihan pendidikan lanjutan, baik ke sekolah menengah atas (SMA) maupun sekolah menengah kejuruan (SMK).
Menurut Anggit, pengenalan potensi sejak dini penting agar siswa tidak hanya mempertimbangkan nilai akademik ketika menentukan pilihan pendidikan.
“Harapannya ini menjadi pemetaan,” ujarnya.
Anggit menegaskan, hasil psikotes tidak berhenti pada pelaksanaan tes. Hasil tersebut perlu dibahas bersama pihak sekolah dan keluarga agar dapat digunakan sebagai dasar pendampingan siswa.
Dalam pelaksanaannya, orang tua juga dilibatkan dengan mengisi tes sebagai bahan pembanding terhadap hasil yang diperoleh siswa.
Hasil psikotes nantinya diberikan dalam bentuk sertifikat digital kepada siswa. Sementara itu, guru memperoleh rangkuman hasil untuk kebutuhan pemetaan kelas, sedangkan guru BK mendapatkan gambaran lebih menyeluruh mengenai kecenderungan siswa di sekolah masing-masing.
Informasi tersebut diharapkan membantu guru BK menyusun pendampingan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa.
Menurut Antariksa, soal tes IQ memiliki tingkat kesulitan yang beragam. Beberapa soal terasa mudah, sedangkan soal lainnya membutuhkan ketelitian untuk menemukan pola yang tepat.
“Alhamdulillah mudah,” ujar Antariksa saat ditanya mengenai tingkat kesulitan tes tersebut.
Ia menjelaskan, soal tes IQ antara lain berkaitan dengan pola, seperti menentukan gambar atau pola yang tidak sesuai serta memperkirakan pola berikutnya.
Sementara itu, tes minat dan bakat yang dikerjakannya terdiri atas sekitar 72 soal, meskipun ia mengaku tidak mengingat jumlah pastinya.
Melalui tes tersebut, Antariksa mengaku mulai memahami minat yang dimilikinya. Salah satu bidang yang menarik perhatiannya adalah public speaking atau kemampuan berbicara di depan umum.
Dewan Pendidikan Salatiga Apresiasi Program
Ketua Dewan Pendidikan Kota Salatiga periode 2026–2031, Dr. H. Sugiman, B.Sc., M.Si., mengapresiasi pelaksanaan psikotes gratis tersebut. Menurut dia, kegiatan ini dapat membantu orang tua dan sekolah mengenali potensi siswa secara lebih terarah.
Sugiman menilai, kemampuan anak tidak selalu tercermin dari prestasi akademik. Sebagian siswa mungkin memiliki keunggulan dalam bidang keterampilan atau kemampuan lain yang perlu dikenali dan dikembangkan.
Karena itu, hasil psikotes diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi guru dalam menentukan pendekatan pembelajaran dan pengembangan potensi siswa.
Ia juga mengapresiasi dukungan Dinas Pendidikan Kota Salatiga terhadap pelaksanaan program tersebut.
Sugiman berharap, perhatian terhadap kondisi psikologis tidak hanya diberikan kepada siswa. Pada kesempatan mendatang, ia mengusulkan agar kondisi psikologis guru juga mendapat perhatian.
Menurut dia, tuntutan pekerjaan dan perkembangan zaman dapat menjadi beban tersendiri bagi tenaga pendidik. Kondisi psikologis guru perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah.
Dengan pemetaan potensi siswa dan pendampingan yang tepat, program psikotes ini diharapkan membantu sekolah dan keluarga menentukan langkah pengembangan pendidikan anak sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.












