URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, dinilai berhasil membangun pariwisata berkelanjutan dengan mengutamakan pelestarian adat, budaya, agama, dan lingkungan. Hal itu disampaikan Kepala Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) I Wayan Sumiarsa dalam audiensi bersama media Jawa Tengah yang difasilitasi Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dan tata kelola profesional menjadi kunci keberhasilan desa wisata tanpa kehilangan identitas budaya.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Belajar dari Keberhasilan Desa Wisata Penglipuran Bali

Belajar dari Keberhasilan Desa Wisata Penglipuran Bali

Belajar dari Keberhasilan Desa Wisata Penglipuran Bali

featured-img

RASIKA – Dalam audiensi bersama media Jawa Tengah yang difasilitasi Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jawa Tengah, terungkap berbagai pembelajaran dari keberhasilan Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali. Desa yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia itu dinilai berhasil membangun pariwisata yang berkelanjutan dengan tetap mempertahankan adat, budaya, agama, dan kelestarian lingkungan sebagai fondasi utama.

Di balik berbagai penghargaan yang diraih serta tingginya kunjungan wisatawan, Penglipuran ternyata tidak menjadikan keuntungan ekonomi sebagai orientasi utama. Justru, keberhasilan ekonomi dipandang sebagai dampak dari konsistensi menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur.

Kepala Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengatakan sejak awal masyarakat Desa Adat Penglipuran sepakat bahwa pariwisata harus menjadi sarana untuk melestarikan budaya, bukan sebaliknya.

“Kami tidak ingin menjadi desa yang money-oriented. Yang kami utamakan adalah bagaimana adat, budaya, agama, dan lingkungan tetap lestari. Kalau orientasinya hanya mengejar omzet, ketika pendapatan turun, semuanya akan berubah. Karena itu kami menjaga agar nilai-nilai yang kami miliki tetap menjadi prioritas,” ujar Sumiarsa.

Menurutnya, filosofi tersebut menjadi pegangan seluruh masyarakat dalam mengembangkan desa wisata. Dengan tetap menjaga keaslian desa, wisatawan justru datang karena ingin merasakan pengalaman budaya yang autentik, sehingga keberlanjutan pariwisata dapat terjaga dalam jangka panjang.

Untuk mengelola seluruh potensi desa secara profesional, Desa Adat Penglipuran membentuk Badan Usaha Desa Adat (BUPDA). Lembaga ini bertugas mengelola seluruh aset dan unit usaha desa, mulai dari pengelolaan kawasan wisata hingga berbagai usaha ekonomi yang dimiliki desa adat.

Sumiarsa menjelaskan, BUPDA memiliki visi menjadi badan usaha yang mandiri, profesional, dan berkelanjutan berbasis budaya, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan krama atau masyarakat adat. Tujuan akhirnya adalah mewujudkan ekonomi desa adat yang kuat dan mampu memberikan manfaat nyata bagi seluruh warga.

“Yang kami pikirkan adalah bagaimana desa ini mandiri secara ekonomi, mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, dan hasilnya kembali lagi untuk kepentingan desa adat serta kesejahteraan warga,” katanya.

Model pengelolaan tersebut membuat masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan pariwisata, tetapi menjadi pelaku utama. Warga dilibatkan dalam pengelolaan homestay, usaha kuliner, kerajinan tangan, UMKM, penyedia jasa wisata, hingga berbagai kegiatan budaya yang menjadi daya tarik wisatawan.

Selain mengunjungi desa Penglipuran, wisatawan juga bisa melukis besek

Dengan sistem itu, manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat. Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersihan lingkungan, kelestarian rumah adat, tata ruang desa, serta tradisi yang menjadi identitas Penglipuran.

Sumiarsa menegaskan, keberhasilan desa wisata tidak cukup diukur dari banyaknya wisatawan yang datang ataupun besarnya pendapatan yang diperoleh. Baginya, ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika pariwisata mampu menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Keberhasilan desa wisata bagi kami bukan hanya diukur dari jumlah wisatawan, tetapi dari kemampuan pariwisata menjaga adat, lingkungan, tata ruang, rumah adat, dan meningkatkan kesejahteraan krama,” tegasnya.

Keberhasilan Penglipuran menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dan lingkungan bukanlah penghambat pembangunan ekonomi. Sebaliknya, keduanya justru menjadi kekuatan utama yang membedakan Penglipuran dengan destinasi wisata lain.

Pengalaman Desa Wisata Penglipuran menjadi inspirasi bagi berbagai daerah di Indonesia yang tengah mengembangkan desa wisata. Dengan mengedepankan tata kelola yang profesional, melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, serta menempatkan budaya sebagai identitas yang harus dijaga, desa wisata dapat tumbuh secara berkelanjutan tanpa kehilangan jati dirinya.

BACA JUGA :

Bank Indonesia memperkuat sistem pembayaran digital nasional melalui pengembangan Kartu Kredit Indonesia (KKI) dan perluasan QRIS. Hingga Juni 2026, pengguna QRIS mencapai 65,77 juta orang dengan 44,86 juta merchant, yang 96,68 persen di antaranya merupakan UMKM. Sepanjang semester I-2026, transaksi QRIS mencapai 12,55 miliar dengan nilai Rp1,12 kuadriliun.
Kartu Kredit Indonesia Hadir, Perkuat Ekosistem Keuangan Digital Nasional
Bank Indonesia mencatat pengguna QRIS di Jawa Tengah mencapai 9,08 juta hingga Juni 2026, menempatkan Jateng sebagai provinsi dengan jumlah pengguna terbesar ketiga secara nasional. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya penerimaan pembayaran digital, sementara jumlah merchant QRIS mencapai 4,52 juta dan menjadi yang terbesar keempat secara nasional.
Pengguna QRIS di Jateng Tembus 9,08 Juta, Terbesar Ketiga Nasional
Bank Indonesia Jawa Tengah mewaspadai dampak kekeringan pada semester II 2026 terhadap produksi pangan dan stabilitas harga. Dalam Media Briefing di Pekalongan, Kamis (13/8/2026), BI mencatat Jawa Tengah mengalami deflasi 0,13 persen pada Juli dengan inflasi tahunan sekitar 2,6 persen, namun tetap mengantisipasi gejolak harga komoditas pangan.
BI Jateng Waspadai Dampak Kekeringan, Pengendalian Inflasi Diperkuat
Perekonomian Jawa Tengah tetap tumbuh pada triwulan II 2026 dengan dukungan konsumsi rumah tangga, investasi, industri pengolahan, dan perdagangan. Konsumsi tumbuh 4,31 persen, investasi 8,84 persen dengan realisasi Rp25,53 triliun, industri pengolahan 5,03 persen, dan perdagangan 7,52 persen. Sektor akomodasi dan makan-minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 12,80 persen seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Ekonomi Jateng Tetap Tumbuh, Industri dan Perdagangan Jadi Penopang
Muat Lebih

INFOGRAFIS

TERKINI

Alami Laka Tunggal Rabu Dini Hari, Innova Tergelincir hingga Terbakar di JLS Salatiga
Alami Laka Tunggal Rabu Dini Hari, Innova Tergelincir hingga Terbakar di JLS Salatiga
Toyota Innova bernomor polisi H-1646-HV mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Lingkar Selatan Salatiga, tepatnya Simpang Empat Kumpulrejo, Argomulyo, Rabu (19/8/2026) dini hari. Kendaraan yang melaju dari...
Lawan Jebakan Pinjol dengan Solusi 3M dan Penguatan Ekonomi Akar Rumput
Lawan Jebakan Pinjol dengan Solusi 3M dan Penguatan Ekonomi Akar Rumput
Pimpinan Cabang Syarikat Islam Kabupaten Semarang bersama kaum muda dan Pendopo Pintar mendorong penataan ekonomi nasional melalui seminar dan diskusi pada Selasa sore. Forum tersebut menyoroti ancaman...
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Semarang dan Jawa Tengah pada Rabu, 19 Agustus 2026, didominasi cerah berawan hingga berawan. Hasil pengamatan pukul 05.40 WIB mencatat suhu Semarang 26 derajat Celsius dengan kelembapan 80 persen, sementara hujan ringan berpotensi turun di pegunungan dan dataran tinggi serta masyarakat diminta mewaspadai karhutla.
19 Agustus 2026: Cuaca Semarang Cerah Berawan, Waspadai Karhutla
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Semarang dan Jawa Tengah pada Rabu, 19 Agustus 2026, didominasi cerah berawan hingga berawan. Hasil pengamatan pukul 05.40 WIB mencatat...
Daihatsu Xenia bernopol D 1712 DW terbakar sekitar 100 meter setelah mengisi BBM di SPBU Kampung Kali, Jalan Mayjen Sutoyo, Semarang, Senin (17/8/2026) malam. Pertamina menyebut pengemudi diketahui merokok sebelum kendaraan terbakar, sementara penyebab pasti insiden masih menunggu hasil pemeriksaan forensik dan keterangan resmi kepolisian.
Mobil Xenia Terbakar 100 Meter dari SPBU, Pertamina Soroti Empat Galon BBM
Daihatsu Xenia bernopol D 1712 DW terbakar sekitar 100 meter setelah mengisi BBM di SPBU Kampung Kali, Jalan Mayjen Sutoyo, Semarang, Senin (17/8/2026) malam. Pertamina menyebut pengemudi diketahui merokok...
Molinas
Menimbang Motor Listrik Nasional, Antara Transisi Energi, Risiko Kemacetan, dan Keselamatan Jalan
Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Motor Listrik Nasional (Molinas) di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026), sebagai upaya memperkuat industri, teknologi, dan ketahanan energi. Program ini...

POPULER

Satlantas Polres Salatiga memastikan penerbitan SIM baru maupun perpanjangan dilakukan transparan sesuai prosedur di Satpas, Jumat (14/8/2026). Pemohon wajib mengikuti tahapan administrasi, kesehatan, psikologi, serta ujian bagi SIM baru. Polisi mengimbau masyarakat mengurus langsung tanpa calo, dengan biaya PNBP SIM A baru Rp120.000 dan SIM C baru Rp100.000.
SATPAS Salatiga Pastikan Penerbitan SIM Baru Transparan Sesuai Prosedur
WhatsApp Image 2026-08-12 at 22.08
Diduga Alami Rem Blong, Truk Tronton Tabrak Tiga Motor Di JLS Salatiga, Satu Orang Meninggal
Dugaan penyalahgunaan dana Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) mencuat dalam audiensi Gapoktan Ngudi Hasil Desa Pakopen dengan DPRD Kabupaten Semarang, Kamis (13/8/2026). Anggota kelompok mengaku menerima dana lebih kecil dari nilai kredit dalam akad, sementara kewajiban tetap berjalan. DPRD meminta Pemkab membentuk tim untuk memfasilitasi penyelesaian.
Dana Kredit Petani Pakopen Bandungan Diduga Diselewengkan, Kuasa Hukum: Ada Indikasi Korupsi

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved