SEMARANG – Jawa Tengah punya Borobudur, Karimunjawa, Dieng, wisata religi, desa wisata hingga kekayaan budaya. Tapi ada satu pertanyaan penting: apakah pariwisata Jawa Tengah sudah benar-benar menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru?
Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan utama Forum PUSAKA JATENG 2026 yang digelar Bank Indonesia Jawa Tengah, Jumat, 11 September 2026.
Mengangkat tema “Transformasi Pariwisata Jawa Tengah sebagai Sumber Pertumbuhan Baru yang Inklusif dan Berkelanjutan”, forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi dan berbagai pemangku kepentingan untuk mencari strategi agar pariwisata tidak berhenti pada urusan jumlah kunjungan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, mengatakan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah perlu terus dijaga sekaligus diperkuat kualitasnya.
Menurutnya, pariwisata menjadi salah satu sektor yang punya peluang besar karena berkaitan langsung dengan banyak aktivitas ekonomi, terutama akomodasi, makanan dan minuman, perdagangan, transportasi hingga UMKM.
Artinya, wisatawan bukan sekadar datang. Mereka harus membelanjakan uangnya, menggerakkan usaha lokal dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, juga menilai pariwisata memiliki potensi besar sebagai sumber pertumbuhan baru. Terlebih Jawa Tengah mempunyai kekayaan sejarah, budaya dan wisata religi yang tersebar di berbagai daerah.
Potensi tersebut dinilai perlu dikembangkan lebih jauh dengan melibatkan UMKM dan masyarakat lokal.
Namun, mantan Menteri Pariwisata Sandiaga Uno mengingatkan, keberhasilan pariwisata jangan hanya diukur dari berapa banyak wisatawan yang datang.
Ada indikator yang tak kalah penting: berapa lama mereka tinggal dan apakah mereka mau kembali lagi.
Di sinilah tantangan Jawa Tengah.
Wisatawan datang, foto, lalu pulang — atau datang, tinggal lebih lama, belanja, menikmati berbagai destinasi dan akhirnya kembali lagi?
Menurut Sandiaga, tingkat kunjungan berulang menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kualitas pariwisata.
Forum PUSAKA JATENG 2026 juga menghadirkan pengalaman Bali dalam membangun ekosistem pariwisata berkualitas. Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023, Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, berbagi pengalaman mengenai transformasi pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
Sementara Kepala Bappeda Jawa Tengah, Yusmanto, membahas peluang pengembangan pariwisata ramah muslim berbasis desa. Akademisi sekaligus Wakil Ketua Bidang Pengembangan Akademik, Riset, dan Kajian ISEI Cabang Semarang, Prof. Firmansyah, mengangkat optimalisasi pariwisata untuk mendorong kemandirian ekonomi daerah.
Forum yang tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima tersebut juga menghasilkan enam karya ilmiah terbaik melalui Call for Papers PUSAKA JATENG 2026.
Topiknya tidak hanya pariwisata, tetapi juga ekonomi kreatif berbasis pedesaan, ekonomi hijau dan digitalisasi pemerintah daerah.
Rekomendasi dari karya-karya tersebut selanjutnya disampaikan kepada pihak terkait, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan.
Pada akhirnya, tantangan pariwisata Jawa Tengah bukan sekadar mendatangkan lebih banyak wisatawan.
Yang lebih penting adalah bagaimana membuat mereka tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, memberi manfaat kepada masyarakat lokal, dan punya alasan untuk datang kembali.
Karena kalau wisatawan hanya datang dan pergi, yang tumbuh mungkin angka kunjungannya. Tapi belum tentu ekonominya.
