KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Makam Wonokendeng Terdampak Tol Jogja-Bawen, Warga Sudah Pilih Lahan Baru tapi Relokasi Belum Jelas

Makam Wonokendeng Terdampak Tol Jogja-Bawen, Warga Sudah Pilih Lahan Baru tapi Relokasi Belum Jelas

Makam Wonokendeng Terdampak Tol Jogja-Bawen, Warga Sudah Pilih Lahan Baru tapi Relokasi Belum Jelas

Makam di kompleks TPU Wonokendeng, Kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa telah diberi tanda berupa nomor menyusul rencana pemindahan makam akibat terdampak proyek jalan Tol Yogyakarta-Bawen Seksi 6 yang menghubungkan Ambarawa-Temanggung, Selasa (22/9/2026). Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Kejelasan relokasi Makam Wonokendeng di Lingkungan Lonjong, Kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang terdampak pembangunan Jalan Tol Jogja-Bawen, hingga kini masih dinantikan warga.

Ketua RW 3 Lingkungan Lonjong, Aldila Nur Afandi, mengatakan pihaknya telah mendapatkan lahan yang dipilih warga untuk lokasi makam pengganti. Namun, hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari Pemerintah Kabupaten Semarang terkait pembelian lahan tersebut.

“Untuk perkembangan ter-update hari ini, kami baru pada tahapan sekitar satu tahun yang lalu penyampaian nominal. Untuk nominalnya sendiri kami tidak tahu berapa. Saat itu kami diarahkan untuk berkoordinasi dengan Pemda,” ujar Aldila ditemui di rumahnya, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, Pemkab Semarang sebelumnya telah meminta pengurus lingkungan mencari lahan yang dapat digunakan sebagai makam pengganti.
Pengurus bersama warga kemudian mencari sejumlah pilihan lokasi. Dari beberapa pilihan tersebut, warga akhirnya memilih lahan yang berada di RW 3, tepatnya RT 3.

“Lahan pengganti makam itu sudah dapat. Cuma untuk rencana Pemda membeli lahan baru itu sampai sekarang belum ada rencana,” katanya.

Aldila berharap Pemkab segera memberikan kejelasan mengenai proses pengadaan lahan tersebut. Terlebih, makam lama masih digunakan untuk pemakaman warga. Ia khawatir jika relokasi baru dilakukan setelah makam lama tidak lagi dapat digunakan, warga justru harus melakukan pekerjaan pemindahan secara bersamaan dengan proses pemakaman baru.

“Contohnya seperti hari ini, ada warga yang meninggal masih kami makamkan di tempat yang lama. Kalau sudah ada lahan pengganti, harapannya ketika ada warga meninggal bisa langsung dimakamkan di tempat yang baru, tidak dua kali kerja,” jelasnya.

Makam Wonokendeng memiliki luas sekitar 3.800 meter persegi. Saat ini, terdapat sekitar 550 makam yang berada di kawasan ini dan nantinya terdampak rencana relokasi. Sementara lahan yang dipilih sebagai lokasi pengganti direncanakan memiliki luas sekitar 5.000 meter persegi. Jarak lokasi baru juga relatif dekat dari makam lama, yakni sekitar 400 hingga 500 meter.

“Warga tidak ada masalah. Untuk pemilihan tempat itu kami sampaikan ke warga. Warga yang memilih. Kami selaku pengurus lingkungan hanya memfasilitasi beberapa pilihan, kemudian pilihan terbanyak jatuh di titik RT 3 itu,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda Kabupaten Semarang, Zaenal Arifin, sebelumnya menyebut persoalan relokasi makam menjadi salah satu pekerjaan yang cukup panjang dalam proses pengadaan tanah untuk pembangunan tol. Menurut Zaenal, khusus makam di wilayah Ngampin, jumlah jenazah yang harus diinventarisasi diperkirakan mencapai sekitar 2.300 hingga 2.500.

“Yang paling utama makam yang di Ngampin, Ambarawa. Itu jumlahnya sangat besar, perkiraan kami untuk satu makam sekitar 2.300-an jenazah,” kata Zaenal.

Ia menjelaskan, Pemkab masih menunggu kepastian nilai tanah yang akan digunakan untuk lahan pengganti makam. Selain itu, pemerintah juga perlu menghitung biaya operasional pemindahan jenazah.

“Prosesnya diawali dengan inventarisasi jumlah jenazah dan ahli waris sebelum dilakukan pemindahan ke lahan pengganti,” ungkapnya.

Selain Makam Wonokendeng di Ngampin, terdapat tiga lokasi makam lain yang terdampak, termasuk satu makam di wilayah Jambu. Lokasi makam pengganti nantinya diupayakan berada tidak jauh dari makam lama agar proses pemindahan dan mobilisasi jenazah tidak terlalu jauh. (win)

Knowledge

Tidak ada postingan.

Kabar Terkini

POPULER

Bakal calon Kepala Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Hermawan Sigit atau Nanang, menyiapkan sejumlah gagasan pembangunan yang mencakup perbaikan tata kelola pemerintahan, pengembangan UMKM, optimalisasi wisata lokal, dan pengelolaan sampah rumah tangga. Ia mengusung visi masyarakat religius, maju, sejahtera, dan mandiri dengan mengedepankan partisipasi warga serta penerapan program secara bertahap.
Bertarung dalam Pilkades Cukilan, Hermawan Sigit siapkan sejumlah Jurus Jitu, “urip kudu urup”
Persaingan cabang olahraga biliar dalam Porprov Jawa Tengah XVII 2026 di Kabupaten Semarang menghadirkan kejutan dengan tumbangnya sejumlah atlet unggulan. Hingga Rabu (28/10/2026), sebanyak 10 dari 15 nomor pertandingan telah selesai digelar. Sebanyak 112 atlet dari 29 kabupaten/kota mengikuti kompetisi yang berlangsung di J_Pool Billiard and Cafe dan Kingdom Billiard hingga Jumat (30/10/2026).
Kejutan di Cabor Biliar Porprov Jateng XVII, Sejumlah Unggulan Tumbang
BMKG memprakirakan cuaca Semarang pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 07.00–19.00 WIB, cerah berawan hingga berawan pada pagi sampai siang hari, kemudian umumnya berawan dengan potensi hujan ringan hingga sedang pada sore hingga awal malam. Angin bertiup dari barat laut hingga timur dengan kecepatan 10–30 km/jam, suhu udara 27–34 derajat Celsius, dan kelembapan 45–90 persen.
29 Oktober 2026: Semarang Berpotensi Hujan, Jateng Waspadai Cuaca Ekstrem
Penyelenggaraan Porprov Jawa Tengah XVII pada 25–31 Oktober 2026 turut meningkatkan kunjungan wisata dan aktivitas ekonomi di Kabupaten Semarang. Kepala Dinas Pariwisata Wiwin Sulistyowati menyebut tingkat hunian hotel meningkat, sementara villa dan homestay menjadi alternatif akomodasi bagi atlet, ofisial, keluarga, serta suporter yang datang.
Porprov Jateng 2026 Jadi Magnet Wisata, Hotel hingga Homestay di Kabupaten Semarang Kebanjiran Tamu
[pekok2]