Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat ekosistem investasi melalui pengembangan kawasan industri baru di berbagai daerah. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi mempercepat pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja yang lebih luas bagi masyarakat.
Saat membuka gelaran Central Java Investment Business Forum 2026 di Semarang, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman menegaskan pentingnya menjaga stabilitas ekonomi di tengah upaya mendorong pertumbuhan investasi. Menurutnya, Bank Indonesia terus menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar agar dunia usaha tetap bergerak, sekaligus memastikan likuiditas cukup bagi sektor produktif.
Selain itu, digitalisasi pembayaran melalui QRIS dan penguatan ekosistem ekonomi digital juga terus diperluas agar UMKM semakin efisien, mampu memperluas pasar, hingga menembus pasar global.
Ia juga menekankan pentingnya pendalaman pasar uang dan pasar keuangan untuk memperkuat pembiayaan investasi nasional. Aida menyebut UMKM menjadi tulang punggung ekonomi nasional dan sumber pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah, sehingga UMKM Grande 2026 bukan sekadar pameran, melainkan bagian dari strategi mendorong UMKM naik kelas, go digital, dan go global. Menurutnya, investor saat ini mencari tiga hal utama, yakni kepastian, efisiensi, dan keberlanjutan.
Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, kementerian, dan dunia usaha menjadi kunci memperkuat daya saing investasi Jawa Tengah.
Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, saat ini Jawa Tengah tidak hanya menyiapkan dua kawasan industri, melainkan telah mengusulkan 12 kawasan industri baru yang tersebar di sejumlah kabupaten.
Beberapa daerah yang disiapkan antara lain Kebumen, Cilacap, Banyumas, Sragen, Demak, hingga Rembang.
“Banyak kawasan industri yang kita siapkan dan meminta pendampingan pemerintah pusat agar lebih cepat, sehingga investor lebih leluasa dan tempatnya sudah siap,” kata Ahmad Luthfi dalam gelaran CJIBF 2026 dan UMKM Grande 2026.
Menurutnya, fondasi ekonomi yang kuat menjadi syarat utama membangun kepercayaan investor terhadap Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Karena itu, pemerintah daerah terus menyiapkan proyek investasi yang matang dan siap ditawarkan kepada investor atau project ready to offer.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menilai Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan investasi nasional. Dengan luas wilayah dan potensi kabupaten/kota yang besar, jumlah kawasan industri di Jawa Tengah dinilai masih perlu ditambah.
“Kawasan industri menjadi salah satu strategi mempercepat pertumbuhan investasi. Jawa Tengah masih memiliki ruang besar untuk menambah jumlah kawasan industri,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah pusat juga mendorong pembangunan infrastruktur yang terhubung langsung dengan sentra investasi dan kawasan industri, termasuk penguatan jalur logistik di Jawa Tengah.
Selain itu, Kementerian Investasi juga menyiapkan program yang memungkinkan pelayanan perizinan dilakukan langsung di kawasan industri. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses perizinan dan mempermudah pelaku usaha menjalankan bisnis.
Todotua menyebut, Jawa Tengah saat ini menjadi salah satu provinsi dengan capaian realisasi investasi tertinggi secara nasional. Tingginya investasi disebut turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang kini mencapai sekitar 5,7 persen.
Pada triwulan pertama 2026, nilai investasi di Jawa Tengah disebut telah mendekati Rp23 triliun dengan serapan tenaga kerja mencapai sekitar 95 ribu orang. Sementara sepanjang 2025, realisasi investasi mencapai Rp114 triliun dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 284 ribu orang.
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus memberikan dampak langsung kepada masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi kerakyatan.
“Untuk menumbuhkan ekonomi diperlukan kolaborasi antara media, institusi, pemerintah provinsi, dan penguatan kualitas UMKM secara komprehensif,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho mengatakan, CJIBF 2026 dan UMKM Grande menjadi ajang promosi investasi sekaligus produk unggulan daerah.
Menurutnya, promosi tidak akan berhenti di tingkat nasional. Bank Indonesia juga akan membawa potensi investasi dan produk unggulan Jawa Tengah ke pasar internasional melalui jaringan kantor perwakilan di luar negeri.
Selain promosi investasi, Bank Indonesia juga mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui berbagai program peningkatan keterampilan dan beasiswa guna menciptakan SDM unggul yang mampu mendukung pertumbuhan industri dan investasi di Jawa Tengah.
CJIBF adalah Forum bisnis tahunan yang dipelopori oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah ini resmi dibuka oleh Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, didampingi Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Senin 11 Mei 2026 di Semarang.