KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Manfaatkan Makanan Sisa MBG, MTsN Kabupaten Semarang Budidayakan Maggot

Manfaatkan Makanan Sisa MBG, MTsN Kabupaten Semarang Budidayakan Maggot

Manfaatkan Makanan Sisa MBG, MTsN Kabupaten Semarang Budidayakan Maggot

Kepala MTsN 1 Semarang, Muh Muslimin, bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, Ta'yinul Birri Bagus Nugroho. Usai meninjau pembibitan Maggot di MTsN kabupaten Semarang (Foto Arief rasika)

RASIKAFM.COM | SUSUKAN – Prihatin masih adanya sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima oleh siswa siswi di MTsN Kabupaten Semarang (MTs Negeri Susukan) dijalan Sruwen-Karanggede KM 7 Susukan, Kabupaten Semarang, Memaksa pihak sekolah harus memutar otak dan bekerja lebih keras.

Apalagi kini tercatat di sekolah tersebut juga ada kompleks sekolah berasrama (boarding school) sehingga mensisakan banyak tumpukan sampah.

Kepada rasikafm.com, Kepala MTsN 1 Kabupaten Semarang, Muh Muslimin, S.Ag, M.Pd.I, Mengatakan persoalan sampah organik menjadi problematika tersendiri.

“Saat ini kami berusaha mengolah sampah itu agar lebih bermanfaat, sekaligus membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan manifestasi dari iman, sebuah gerakan konkret bernama Ecotheology.” Kata Muslimin.

Menurutnya langkah kongkret itu adalah dengan mengolah sampah menjadi bahan pakan utama bagi larva maggot. Dengan kemampuan mengurai sampah Integrasi antara nilai spiritual dan tanggung jawab ekologis mengubah limbah domestik siswa menjadi deretan produk bernilai guna tinggi, mulai dari energi alternatif hingga komoditas ekonomi.

Muslimin menyebut Langkah revolusioner ini bermula dari rasa penasaran akademis. Berawal dari penelitian siswa untuk ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI), inovasi budidaya maggot (Black Soldier Fly) di MTsN 1 Kabupaten Semarang kini telah menjelma menjadi unit produksi massal yang mandiri dan menghasilkan nilai jual.

“Setiap harinya, sampah organik yang berasal dari dapur boarding school dan sisa konsumsi makanan MBG ini tidak berakhir di TPA, melainkan menjadi bahan pakan utama bagi larva maggot. Dengan kemampuan mengurai sampah organik hingga beberapa kali lipat berat tubuhnya dalam hitungan hari, maggot-maggot ini menjadi mesin daur ulang alami yang sangat efisien.” Tambahnya.

Siswa sedang menunjukkan maggot

Hingga kini, MTsN 1 Kabupaten Semarang telah rutin memproduksi maggot dalam dua varian komersial: maggot basah untuk pakan langsung perikanan/peternakan, dan maggot kering (dried maggot) yang memiliki masa simpan lebih lama dan bernilai jual tinggi di pasaran.

Muh Muslimin, menegaskan bahwa seluruh ekosistem ini dibangun untuk membentuk karakter siswa.”Kami ingin siswa paham bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah. Status Madrasah

Adiwiyata yang kami sandang bukan sekadar plakat di dinding, tapi budaya hidup. Kami juga meluncurkan Podcast sebagai syiar digital untuk menyebarluaskan virus kebaikan lingkungan ini ke sekolah-sekolah lain,” ujar Muslimin saat ditemui di sela-sela peluncuran podcast, Sabtu (30/5/2026).

Apresiasi tinggi dari Kemenag

Kemenag Kabupaten Semarang menyebut apa yang dilakukan oleh MTsN 1 Kabupaten Semarang di Susukan ini adalah purwarupa ideal dari visi besar kementerian.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Semarang H. Ta’yinul Biri Bagus Nugroho, S.Sos.I, M.Pd.I. mengatakan jika apa yang sudah dilakukan MTsN ini bisa dicontoh sekolah lain. “Ini adalah implementasi nyata dari Asta protas, program prioritas Kemenag mengenai ecotheology. Madrasah ini berhasil mengintegrasikan kesalehan ritual, anak-anak madrasah kita sudah punya jawabannya, mengubah tinja jadi gas, plastik jadi bensin, dan sampah jadi rupiah,” tegas H. Ta’yinul Birri dengan nada bangga.

– Kepala MTsN 1 Kabupaten Semarang, Muh Muslimin
– Ta’yinul Birri Bagus Nugroho media

Kabar Terkini

POPULER

Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT) menjadi salah satu upaya memperkuat mitigasi bencana di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga. Hal itu dibahas dalam Forum Konsultasi Publik di Hotel Aston Semarang, Senin (28/9/2026), untuk menyamakan pemahaman serta mendorong pemanfaatan data dalam perencanaan pembangunan dan kesiapsiagaan masyarakat.
Peta Zona Gerakan Tanah Kabupaten Semarang-Salatiga Dibahas, Mitigasi Jadi Perhatian
Seorang siswa kelas 4 SD Hj Isriati Moenadi, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, berinisial R diduga menjadi korban perundungan oleh teman sekelas pada Rabu (23/9/2026). R mengalami sejumlah memar, luka di belakang telinga, bibir pecah, serta trauma setelah kejadian. Pihak sekolah mengaku telah memberikan konsekuensi kepada siswa yang terlibat dan menyiapkan pembinaan serta upaya pemulihan kondisi psikologis korban.
Diduga Jadi Korban Perundungan Berulang, Siswa SD Hj Isriati Moenadi Ungaran Alami Luka hingga Trauma
Relokasi Makam Wonokendeng di Lingkungan Lonjong, Ngampin, Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang terdampak pembangunan Tol Jogja-Bawen masih menunggu tindak lanjut Pemkab Semarang. Warga telah memilih lahan pengganti sekitar 5.000 meter persegi, tetapi proses pembelian belum berjalan. Kepastian dibutuhkan karena makam lama masih digunakan dan menampung sekitar 550 makam.
Makam Wonokendeng Terdampak Tol Jogja-Bawen, Warga Sudah Pilih Lahan Baru tapi Relokasi Belum Jelas
Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
[pekok2]