URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Dosen STAI Kuningan, Dakhori, menjelaskan bahwa istilah Londo Ireng kini berkembang sebagai simbol kritik terhadap praktik kekuasaan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Pernyataan tersebut disampaikan kepada Rasika FM, Minggu (26/7/2026), sebagai refleksi atas ketimpangan sosial, pembangunan, dan demokrasi. Menurutnya, kritik terhadap kebijakan merupakan bagian penting dalam menjaga akuntabilitas pemerintahan serta memastikan kemerdekaan benar-benar dirasakan masyarakat.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Istilah Londo Ireng Kembali Muncul, Dr. Dakhori Soroti Bahaya Mental Penjajah di Tubuh Bangsa Sendiri

Istilah Londo Ireng Kembali Muncul, Dr. Dakhori Soroti Bahaya Mental Penjajah di Tubuh Bangsa Sendiri

Istilah Londo Ireng Kembali Muncul, Dr. Dakhori Soroti Bahaya Mental Penjajah di Tubuh Bangsa Sendiri

featured-img

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Istilah Londo Ireng yang pernah dikenal dalam sejarah kolonial kembali menjadi perbincangan di tengah kritik terhadap praktik kekuasaan dan ketimpangan sosial.

Namun, makna Londo Ireng hari ini tidak lagi sekadar merujuk pada sejarah masa lalu. Istilah tersebut berkembang menjadi simbol kritik terhadap perilaku elite yang dinilai menggunakan kekuasaan bukan untuk memperkuat kepentingan rakyat, melainkan melayani kepentingan kelompok tertentu.

Dosen STAI Kuningan, Dr. Dakhori, menyebut fenomena tersebut bukan persoalan identitas seseorang, melainkan tentang cara seseorang menggunakan kekuasaan.

“Londo Ireng bukan soal siapa orangnya, tetapi bagaimana watak kekuasaan itu dijalankan. Ketika seseorang berasal dari rakyat, tetapi kemudian menggunakan kekuasaan untuk menekan rakyat, di situlah kritik itu muncul,” kata Dakhori kepada Rasika FM, Minggu (26/7/2026).

Bukan Penjajahan Lama, tetapi Pola yang Berubah
Menurut Dakhori, penjajahan modern tidak selalu hadir dalam bentuk penguasaan wilayah atau kekuatan militer seperti pada masa kolonial.

Kini, bentuknya bisa muncul melalui ketimpangan ekonomi, penguasaan sumber daya, hingga kebijakan yang dianggap belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat kecil.

“Dulu penjajah datang dengan kekuatan fisik. Sekarang bisa hadir melalui sistem yang membuat sebagian kelompok semakin kuat, sementara masyarakat kecil semakin sulit mendapatkan ruang,” ujarnya.

Ia menilai, pembangunan dan investasi tetap diperlukan untuk kemajuan negara. Namun, pembangunan tidak boleh menghilangkan hak masyarakat yang terdampak.

“Pertanyaan pentingnya adalah pembangunan itu untuk siapa? Apakah manfaatnya benar-benar dirasakan rakyat luas atau hanya dinikmati kelompok tertentu?” kata dia.

Ketika Kekuasaan Berjarak dengan Rakyat

Dakhori juga menyoroti persoalan jarak antara elite dan masyarakat. Menurut dia, salah satu persoalan terbesar dalam demokrasi adalah ketika pemegang kekuasaan kehilangan kepekaan terhadap kondisi rakyat.

“Yang menjadi masalah bukan sekadar fasilitas atau gaya hidup seseorang. Yang menjadi persoalan adalah ketika ada jarak yang terlalu jauh antara kehidupan elite dan kesulitan masyarakat,” katanya.

Ia mencontohkan, masyarakat masih menghadapi berbagai persoalan seperti akses pendidikan, kesehatan, dan tekanan ekonomi.

Di sisi lain, muncul kritik ketika sebagian pejabat atau kelompok berpengaruh justru memperlihatkan kehidupan yang dianggap tidak mencerminkan kondisi mayoritas masyarakat.

Kritik terhadap Kekuasaan Bagian dari Demokrasi

Dakhori menegaskan, kritik terhadap praktik kekuasaan bukan berarti bentuk permusuhan terhadap negara.

Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dalam menjaga demokrasi agar kekuasaan tetap berjalan sesuai tujuan awal kemerdekaan.

“Mencintai negara bukan berarti membenarkan semua kebijakan. Justru cinta terhadap negara ditunjukkan dengan keberanian mengingatkan ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat,” jelasnya.

Ia mengatakan, masyarakat sipil, akademisi, mahasiswa, dan media memiliki peran penting sebagai pengawas kekuasaan.
Kemerdekaan Tidak Sekadar Mengganti Penguasa

Dakhori mengingatkan, makna kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan asing, tetapi juga memastikan rakyat mendapatkan kehidupan yang bermartabat.

Menurut dia, tantangan terbesar bangsa saat ini adalah memastikan kekuasaan tidak berubah menjadi alat bagi segelintir kelompok.

“Bangsa ini terlalu besar jika kemerdekaan hanya dimaknai sebagai pergantian siapa yang berkuasa. Kemerdekaan harus terasa dalam kehidupan rakyat,” ujarnya.

Ia menilai, istilah Londo Ireng menjadi pengingat agar setiap pemegang kekuasaan tidak lupa bahwa jabatan berasal dari kepercayaan masyarakat.

“Penjajahan tidak selalu datang dari luar. Yang harus diwaspadai adalah ketika mental penjajah tumbuh dari dalam,” tutup Dakhori.

BACA JUGA :

Ratusan warga dari sembilan desa dan empat kelurahan memadati Kantor Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (25/8/2026), untuk mengikuti Kesenian Rakyat dan Expo Kecamatan Bergas serta KKN UPGRIS Berdampak 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan produk UMKM lokal sekaligus memperkuat kolaborasi UPGRIS dan Pemerintah Kabupaten Semarang melalui program KKN.
Tanggal Merah! Ratusan Warga Bergas Meriahkan Expo KKN UPGRIS Berdampak 2026
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan
Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah limbah sayuran dan buah menjadi biogas untuk memasak serta pupuk organik cair. Inovasi berbasis pengelolaan sampah dan energi alternatif tersebut mengantarkan mereka meraih juara pertama Lomba Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jateng di tingkat nasional.
Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional
Mahasiswa KKN Tim II Undip 2026 mengembangkan potensi ekonomi dan pangan lokal di Desa Purworejo, Wonogiri, selama program pengabdian masyarakat. Sebanyak 10 mahasiswa mendampingi UMKM memanfaatkan Google Maps, QRIS, media sosial, dan website untuk pemasaran, sekaligus mengolah singkong dan ikan lele menjadi BoLeSi sebagai alternatif makanan tambahan bergizi bagi balita.
KKN Undip Dorong Transformasi Desa Purworejo Wonogiri melalui Inovasi Pangan dan Digitalisasi Sektor Ekonomi
Rencana pengembangan panas bumi Gunung Ungaran untuk PLTP masih dalam tahap kajian dan belum memasuki pelaksanaan, kata Pemkab Semarang, Kamis (20/8/2026). Pemerintah masih menunggu hasil penelitian potensi geothermal, sekaligus memastikan aspek lingkungan, keamanan, aktivitas warga, dan keberadaan Candi Gedongsongo tetap terlindungi.
Pengembangan Panas Bumi Gunung Ungaran untuk PLTP Bakal Dilanjut, Pemkab Semarang: Masih Tahap Kajian
Satpol PP Kota Salatiga mengedukasi dan mengajak pedagang kaki lima (PKL) bermotor yang berjualan di lingkar dalam Alun-alun Pancasila untuk pindah secara sukarela, Rabu (19/8/2026). Langkah tersebut dilakukan karena aktivitas berjualan dan parkir kendaraan di area tersebut dilarang, sekaligus untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan warga dengan pendekatan humanis.
Humanis! Cara Kabid Ketertiban Satpol PP Salatiga Rayu PKL agar Mau Pindah Sukarela

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

20 Agustus 2026
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengajak masyarakat aktif memeriksa data kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), termasuk desil yang tercatat, di Jawa Tengah, Rabu (19/8/2026). Warga dapat menyanggah data yang tidak sesuai melalui laman kementerian agar penyaluran bantuan dan program pemberdayaan lebih tepat sasaran.
Warga Diminta Aktif Cek Data Desil dan Sanggah Data DTSEN
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Warga Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Argomulyo, Salatiga, menggelar tradisi merti dusun atau sedekah bumi di Sendang Gambir pada 19 Agustus. Kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus upaya merawat warisan leluhur, sumber mata air bersejarah, kesenian lokal, serta toleransi antarumat beragama melalui doa bersama dan pertunjukan budaya.
50 Tahun Lebih Warga Dusun Tetep Salatiga Gelar Ritual Tahunan Saparan

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved