KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Istilah Londo Ireng Kembali Muncul, Dr. Dakhori Soroti Bahaya Mental Penjajah di Tubuh Bangsa Sendiri

Istilah Londo Ireng Kembali Muncul, Dr. Dakhori Soroti Bahaya Mental Penjajah di Tubuh Bangsa Sendiri

Istilah Londo Ireng Kembali Muncul, Dr. Dakhori Soroti Bahaya Mental Penjajah di Tubuh Bangsa Sendiri

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Istilah Londo Ireng yang pernah dikenal dalam sejarah kolonial kembali menjadi perbincangan di tengah kritik terhadap praktik kekuasaan dan ketimpangan sosial.

Namun, makna Londo Ireng hari ini tidak lagi sekadar merujuk pada sejarah masa lalu. Istilah tersebut berkembang menjadi simbol kritik terhadap perilaku elite yang dinilai menggunakan kekuasaan bukan untuk memperkuat kepentingan rakyat, melainkan melayani kepentingan kelompok tertentu.

Dosen STAI Kuningan, Dr. Dakhori, menyebut fenomena tersebut bukan persoalan identitas seseorang, melainkan tentang cara seseorang menggunakan kekuasaan.

“Londo Ireng bukan soal siapa orangnya, tetapi bagaimana watak kekuasaan itu dijalankan. Ketika seseorang berasal dari rakyat, tetapi kemudian menggunakan kekuasaan untuk menekan rakyat, di situlah kritik itu muncul,” kata Dakhori kepada Rasika FM, Minggu (26/7/2026).

Bukan Penjajahan Lama, tetapi Pola yang Berubah
Menurut Dakhori, penjajahan modern tidak selalu hadir dalam bentuk penguasaan wilayah atau kekuatan militer seperti pada masa kolonial.

Kini, bentuknya bisa muncul melalui ketimpangan ekonomi, penguasaan sumber daya, hingga kebijakan yang dianggap belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat kecil.

“Dulu penjajah datang dengan kekuatan fisik. Sekarang bisa hadir melalui sistem yang membuat sebagian kelompok semakin kuat, sementara masyarakat kecil semakin sulit mendapatkan ruang,” ujarnya.

Ia menilai, pembangunan dan investasi tetap diperlukan untuk kemajuan negara. Namun, pembangunan tidak boleh menghilangkan hak masyarakat yang terdampak.

“Pertanyaan pentingnya adalah pembangunan itu untuk siapa? Apakah manfaatnya benar-benar dirasakan rakyat luas atau hanya dinikmati kelompok tertentu?” kata dia.

Ketika Kekuasaan Berjarak dengan Rakyat

Dakhori juga menyoroti persoalan jarak antara elite dan masyarakat. Menurut dia, salah satu persoalan terbesar dalam demokrasi adalah ketika pemegang kekuasaan kehilangan kepekaan terhadap kondisi rakyat.

“Yang menjadi masalah bukan sekadar fasilitas atau gaya hidup seseorang. Yang menjadi persoalan adalah ketika ada jarak yang terlalu jauh antara kehidupan elite dan kesulitan masyarakat,” katanya.

Ia mencontohkan, masyarakat masih menghadapi berbagai persoalan seperti akses pendidikan, kesehatan, dan tekanan ekonomi.

Di sisi lain, muncul kritik ketika sebagian pejabat atau kelompok berpengaruh justru memperlihatkan kehidupan yang dianggap tidak mencerminkan kondisi mayoritas masyarakat.

Kritik terhadap Kekuasaan Bagian dari Demokrasi

Dakhori menegaskan, kritik terhadap praktik kekuasaan bukan berarti bentuk permusuhan terhadap negara.

Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dalam menjaga demokrasi agar kekuasaan tetap berjalan sesuai tujuan awal kemerdekaan.

“Mencintai negara bukan berarti membenarkan semua kebijakan. Justru cinta terhadap negara ditunjukkan dengan keberanian mengingatkan ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat,” jelasnya.

Ia mengatakan, masyarakat sipil, akademisi, mahasiswa, dan media memiliki peran penting sebagai pengawas kekuasaan.
Kemerdekaan Tidak Sekadar Mengganti Penguasa

Dakhori mengingatkan, makna kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan asing, tetapi juga memastikan rakyat mendapatkan kehidupan yang bermartabat.

Menurut dia, tantangan terbesar bangsa saat ini adalah memastikan kekuasaan tidak berubah menjadi alat bagi segelintir kelompok.

“Bangsa ini terlalu besar jika kemerdekaan hanya dimaknai sebagai pergantian siapa yang berkuasa. Kemerdekaan harus terasa dalam kehidupan rakyat,” ujarnya.

Ia menilai, istilah Londo Ireng menjadi pengingat agar setiap pemegang kekuasaan tidak lupa bahwa jabatan berasal dari kepercayaan masyarakat.

“Penjajahan tidak selalu datang dari luar. Yang harus diwaspadai adalah ketika mental penjajah tumbuh dari dalam,” tutup Dakhori.

Knowledge

Tidak ada postingan.

Kabar Terkini

POPULER

Pemkot Semarang menertibkan sekitar 57 pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Kaligawe Raya hingga perbatasan Demak, Selasa (3/11/2026). Penertiban dilakukan untuk membuka akses normalisasi drainase sepanjang hampir empat kilometer yang terhambat bangunan dan sampah. Langkah ini diharapkan memperlancar aliran air serta mengurangi potensi banjir di kawasan Kaligawe dan Genuk.
Penertiban PKL Kaligawe hingga Perbatasan Sayung Berlangsung Kondusif, Normalisasi Drainase Segera Dilakukan
Pemprov Jawa Tengah mengalokasikan hampir Rp71 miliar untuk pengadaan 1.507 alat dan mesin pertanian (alsintan) bagi kelompok tani dan Gapoktan di berbagai daerah. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng Defransisco Dasilva Tavares menyebut bantuan tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, serta mempercepat modernisasi pertanian.
Pemprov Jateng Salurkan Ribuan Alsintan Modern, Dorong Minat Gen Z Terjun ke Sektor Pertanian
Kontingen Kabupaten Semarang mengakhiri Porprov XVII Jawa Tengah 2026 di peringkat ke-10 dengan raihan 25 medali emas, 30 perak, dan 32 perunggu. Meski belum mencapai target 30 emas, hasil tersebut meningkat dibandingkan Porprov 2023. Cabang olahraga karate menjadi penyumbang terbanyak dengan tujuh medali emas.
Lampaui Hasil 2023, KONI Kabupaten Semarang Akhiri Porprov XVII di Peringkat 10
Ungaran Innovative Expo 2026 Wadah 107 Inovator Bumi Serasi Menuju Kabupaten Sangat Inovatif
Ungaran Innovative Expo 2026: Wadah 107 Inovator Bumi Serasi Menuju Kabupaten Sangat Inovatif
[pekok2]