SEMARANG – Harlah ke-97 Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama tidak hanya dirayakan dengan upacara dan tasyakuran.
Di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah, momentum 19 September 2026 diisi dengan beragam kegiatan. Mulai dari seminar pendidikan, workshop guru, kompetisi siswa dan guru, perkemahan, kegiatan sosial, hingga pembangunan dan penguatan sarana pendidikan.
Rangkaian kegiatan bahkan telah berlangsung sejak awal September dan sebagian masih berlanjut hingga akhir bulan.
Di tingkat PW Ma’arif Jawa Tengah, agenda Harlah diisi istighosah, seminar pendidikan dan final Oskanu. Ada pula Kemah Persaudaraan, Ma’arif Bersholawat dan Jumpa Tokoh yang berlangsung 18–20 September.
Sementara di tingkat cabang, bentuk kegiatannya jauh lebih beragam.
Guru dan sekolah menjadi perhatian
Di Cilacap, rangkaian Harlah 15–22 September diisi Anugerah Pendidikan, benah rumah pendidik, Festival Siswa Aswaja, Rakerdin dan tasyakuran.
Kota Pekalongan menggelar bazar murah ATK dan sembako, donor darah, apel Harlah serta upgrading guru ke-NU-an pada 14–19 September.
Di Purbalingga, masing-masing lembaga menggelar upacara pada 19 September. Selanjutnya ada Lomba Cerdas Cermat ke-NU-an bagi guru, lomba mini soccer dan kasti bagi guru, hingga tasyakuran Harlah.
Sementara Kudus menggelar workshop guru inti MGMP, tasyakuran dan doa bersama, apel Harlah serta tahlil di madrasah dan sekolah.
Di Kabupaten Pekalongan, kegiatan diarahkan pada pengembangan kompetensi dan kreativitas. Di antaranya lomba inovasi pembelajaran guru, pelatihan jurnalistik, ziarah tokoh Ma’arif, tasyakuran sekaligus launching pembangunan gedung kantor Ma’arif, upacara bendera serta pelatihan praktik manasik haji bagi siswa MI.
Dari game edukasi hingga sekolah sehat
Harlah juga menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan guru dan siswa.
Boyolali menggelar APRESMA atau Ajang Apresiasi Ma’arif untuk kedua kalinya. Kegiatannya mencakup Oskanu tingkat kabupaten, pemilihan guru berprestasi, lomba sekolah sehat dan 6K, serta penghargaan untuk madrasah dan sekolah berprestasi.
Di Temanggung, guru MI mendapatkan pelatihan pembuatan game edukasi berbasis kearifan lokal.
Sementara Banyumas menggelar lomba TKA semua jenjang, lomba penilaian UKS dan penghargaan siswa berprestasi, yang kemudian dilanjutkan refleksi dan tasyakuran.
Klaten memilih mengangkat isu pembelajaran melalui workshop implementasi kokurikuler pada 12 September.
Kegiatan yang tidak kalah menarik berlangsung di Wonosobo. Pada 3–5 September telah digelar Perkemahan Bhakti dan Giat Prestasi Sako Ma’arif yang diikuti sekitar 3.160 peserta. Pada 19 September dilanjutkan tasyakuran dan upacara Harlah.
Ada pula kegiatan sosial dan penguatan aset
Harlah juga dimanfaatkan untuk memperkuat sarana pendidikan.
Di Pati, Harlah 19 September dirangkai dengan penyerahan wakaf tanah dan bangunan kantor LP Ma’arif NU Pati di Jalan Pati–Juwana Km 2 dengan nilai yang disebut mencapai Rp5 miliar.
Di Kabupaten Pekalongan, momentum Harlah sekaligus digunakan untuk launching pembangunan gedung kantor Ma’arif.
Sementara Cilacap menggelar program benah rumah pendidik.
Kegiatan sosial juga terlihat di Kota Pekalongan melalui donor darah dan bazar murah.
Semarak sampai tingkat satuan pendidikan
Di Kendal, LP Ma’arif NU menggelar workshop dan pembinaan pengelolaan sekolah/madrasah pada 17 September di SMK NU 02 Rowosari. Pesertanya mencakup guru, karyawan, kepala sekolah/madrasah, BP3MNU dan pengurus LPM NU MWC NU.
Purworejo menggelar upacara di masing-masing lembaga, pembinaan dan penguatan ke-NU-an bagi pimpinan lembaga, serta tasyakuran.
Di Magelang, ada program Ma’arif Menyapa atau turba ke seluruh lembaga di enam titik kawedanan. Kegiatan lainnya berupa khatmil Qur’an, mujahadah akbar dan doa bersama bersama PCNU dan Sako Pandu Ma’arif.
Banjarnegara menggelar upacara, istighosah, perkemahan Sako Ma’arif untuk SD/MI dan SMP/MTs serta kejuaraan pencak silat Pagar Nusa PCNU Cup.
Di Demak, kegiatan diisi upacara, istighosah, pembacaan Sholawat Nariyah, shalat istisqa serta tasyakuran dan tumpengan.
Sedangkan Wonogiri menggelar khotmil Qur’an, istighosah dan tasyakuran.
Di Kota Semarang, bendera Ma’arif dipasang di seluruh satuan pendidikan, dilanjutkan apel, istighosah dan tasyakuran.
Kebumen menggelar pemasangan bendera NU dan LP Ma’arif, seminar pendidikan, Rakerdin 2026 dan tasyakuran.
Sementara Grobogan dan Jepara menggelar PERSIMANU, masing-masing Persimanu 1 dan Persimanu II 2026. Jepara juga menggelar Ma’arif Bersholawat.
Harlah menjadi cermin pendidikan Ma’arif
Beragamnya agenda Harlah ke-97 menunjukkan bahwa kegiatan LP Ma’arif di daerah tidak hanya bertumpu pada seremoni.
Ada tiga hal yang terlihat menonjol: penguatan guru, pengembangan siswa dan pembenahan kelembagaan.
Di satu tempat guru mengikuti workshop. Di tempat lain siswa berkompetisi. Ada sekolah yang mengembangkan kegiatan kepanduan, ada yang membangun sarana, bahkan ada yang memberikan penghargaan kepada guru dan siswa berprestasi.
Ini menjadi penting karena tantangan pendidikan saat ini juga berubah.
LP Ma’arif secara nasional tengah mendorong penguatan sistem pendidikan, pendataan lembaga, akses pendidikan yang inklusif dan peningkatan kualitas layanan. Dalam Rakornas 2026, persoalan tata kelola dan kelengkapan data menjadi salah satu perhatian karena baru sebagian satuan pendidikan yang melaporkan data secara lengkap.
Maka, memasuki usia 97 tahun, Harlah Ma’arif dapat menjadi lebih dari sekadar peringatan usia.
Ia menjadi momentum untuk bertanya: setelah hampir satu abad membangun lembaga pendidikan, apa yang harus diperkuat agar sekolah dan madrasah Ma’arif mampu menjawab kebutuhan generasi berikutnya?
Pertanyaan itu pada akhirnya tidak hanya menjadi pekerjaan pengurus LP Ma’arif.
Tetapi juga guru, kepala sekolah, orang tua, siswa dan seluruh masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan.











