KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

21 Desa Terdampak Kekeringan, Pemkab Semarang Siapkan Geolistrik untuk Pengeboran Sumber Air

21 Desa Terdampak Kekeringan, Pemkab Semarang Siapkan Geolistrik untuk Pengeboran Sumber Air

21 Desa Terdampak Kekeringan, Pemkab Semarang Siapkan Geolistrik untuk Pengeboran Sumber Air

Warga Dusun Jagir, Desa Kedungringin, Kecamatan Suruh mengantre untuk mengambil air menyusul krisis air bersih yang terjadi setiap tahun saat musim kemarau. Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang menyiapkan langkah pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga yang terdampak kemarau panjang. Tahun ini, sedikitnya 21 desa di sembilan kecamatan tercatat mengalami kekurangan air.

Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan, Pemkab Semarang akan memprioritaskan dusun-dusun yang mengalami kekurangan air untuk dilakukan survei geolistrik.

“Di wilayah Kabupaten Semarang saat ini dengan kemarau yang cukup panjang, ada 21 desa di 9 kecamatan yang kekurangan air,” kata Ngesti saat dikonfirmasi, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, survei geolistrik diperlukan untuk mengetahui potensi sumber air tanah sebelum dilakukan pengeboran. Titik yang menunjukkan hasil positif akan menjadi prioritas untuk ditindaklanjuti.

“Kami sudah komunikasi dengan Pak Sekda agar desa, terutama dusun-dusun yang kekurangan air, menjadi prioritas untuk melaksanakan geolistrik,” ujarnya.

Setelah pemetaan geolistrik selesai, Pemkab Semarang akan mengupayakan pembiayaan pengeboran secara bertahap melalui APBD maupun dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Pengeboran tidak selalu dilakukan tepat di lokasi dusun yang mengalami kekurangan air. Jika hasil geolistrik di lokasi tersebut tidak menunjukkan potensi air, pencarian sumber air akan diarahkan ke wilayah sekitar, termasuk daerah yang berada di atasnya.

“Kalau dusunnya tidak keluar air di geolistrik, mungkin daerah sekitarnya, di atasnya. Contohnya seperti di Desa Plumutan, waktu itu dibor tidak keluar air, kemudian kami mengebor di Desa Rejosari di atasnya,” jelasnya.

Menurut Ngesti, pemanfaatan sumber air dari lokasi yang lebih tinggi juga dapat meringankan beban masyarakat karena distribusinya bisa memanfaatkan gravitasi.

“Karena gravitasi akan memudahkan, meringankan beban masyarakat kaitannya dengan listrik,” katanya.

Meski kemarau tahun ini cukup panjang, jumlah desa yang mengalami kekurangan air disebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, kekeringan tercatat melanda sekitar 50 hingga 52 desa.

“Tahun ini justru kalau saya lihat turun, tinggal 21 desa,” ungkap Ngesti.

Ia menambahkan, penurunan tersebut tidak terlepas dari berbagai program penyediaan sumber air yang dilakukan secara berkelanjutan. Pemkab Semarang setiap tahun mengalokasikan anggaran untuk pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Selain itu, terdapat dukungan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dari pemerintah pusat serta pembangunan sarana air bersih melalui swadaya masyarakat.

“Setiap tahun kami juga menganggarkan bantuan untuk pembuatan air SPAM. Ada juga dari kementerian kaitannya dengan Pamsimas, dan juga dari masyarakat melalui swadaya,” pungkasnya. (win)

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW melalui program KKN mendampingi 25 warga Dusun Sengon, Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah bio-slurry dan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik cair, pupuk organik padat, serta MOL. Kegiatan selama sebulan ini mendorong pemanfaatan bahan lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
KKN UKSW di Desa Manggihan, Mahasiswa Olah Limbah Biogas jadi Pupuk Organik
[pekok2]