RASIKAFM.COM | UNGARAN – Penolakan terhadap rencana pembangunan geothermal di kawasan Gunung Ungaran dan Gunung Lawu kembali disuarakan. Gerakan tersebut dikonsolidasikan melalui Jateng Guyub yang mengklaim menghimpun elemen masyarakat dari 28 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Perwakilan Jateng Guyub, Joko Priyanto, mengatakan rangkaian aksi dilakukan dengan cara berjalan kaki dari sejumlah wilayah menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah yang dimulai sejak Selasa (22/9/2026) sore. Menurutnya, aksi tersebut menjadi bentuk protes masyarakat terhadap rencana pembangunan geothermal yang dinilai berpotensi berdampak terhadap lingkungan dan kehidupan generasi mendatang.
“Ini suatu bentuk penolakan juga terhadap rencana pembangunan geothermal di Gunung Lawu. Malam ini dulur-dulur yang ada di Ungaran dan sekitarnya juga melakukan aksi yang sama, jalan kaki menuju kantor gubernur,” kata Joko.
Ia menegaskan, Jateng Guyub berpandangan kawasan Gunung Ungaran maupun Gunung Lawu tidak semestinya dijadikan lokasi pembangunan geothermal.
“Ini suatu bentuk protes, sikap tegas masyarakat bahwa Gunung Ungaran, Gunung Lawu itu tidak seharusnya ada pembangunan geothermal seperti itu,” tegasnya.
Joko menyebut aksi di wilayah Ungaran juga melibatkan sejumlah kelompok masyarakat yang tergabung dalam aliansi penolakan geothermal.
Ia mengatakan, Jateng Guyub saat ini telah menghimpun elemen dari 28 kabupaten/kota di Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.
“Kalau kita mau lihat masa depan kita ke depan, ya kita harus lihat hari ini. Kalau memang di sini akan dibangun geothermal, itu akan merusak generasi kita selanjutnya dari faktor lingkungan,” katanya.
Koordinator Aksi, Exy Wijaya menerangkan, setelah bermalam di Ungaran, massa berencana melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka juga merencanakan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Semarang sebagai bagian dari fungsi kontrol masyarakat. Masyarakat harus berani menyampaikan sikap kepada pemerintah ketika kebijakan yang diambil dinilai tidak berpihak kepada kepentingan warga.
“Kita menggunakan fungsi kontrol kita. Kita harus berani head to head dengan para pemangku kebijakan,” tegasnya.
Ia menyebut masyarakat akan terus mendorong pemerintah Kabupaten Semarang maupun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memperhatikan penolakan terhadap proyek geothermal tersebut.
“Ini adalah rumah bersama. Kenapa kita membuat Jateng Guyub? Karena kita melihat selama ini gerakan rakyat selalu terpecah-pecah, selalu mengedepankan ego sektoral,” jelasnya.
Ia menyebut unsur yang bergabung tidak hanya dari satu kelompok, tetapi juga petani, guru, nelayan, buruh, hingga berbagai organisasi masyarakat.
“Petani bisa bantu buruh, buruh bisa bantu kaum miskin. Jadi ketika suara ini bergabung, kekuatan kita semakin besar,” katanya.
Sementara itu, perwakilan Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran, Bambang Setyowilis, mengatakan penolakan terhadap geothermal didasari kekhawatiran terhadap keberlangsungan fungsi Gunung Ungaran sebagai sumber kehidupan masyarakat.
“Karena gunung yang memberi penghidupan itu sudah diobok-obok. Apakah tidak ada alternatif lain? Padahal kan ada,” kata Bambang.
Menurut dia, pengembangan energi seharusnya tidak serta-merta mengorbankan kawasan gunung yang selama ini menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya. Bambang juga menyoroti keberadaan potensi peninggalan purbakala dan prasejarah di kaki Gunung Ungaran yang menurutnya masih banyak belum ditemukan.
“Nanti kalau itu tetap dilanjut, peradaban-peradaban yang belum ditemukan akan hilang,” ujarnya.
Sebagai penggiat alam, Bambang mengaku bergabung dalam Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran karena menilai Gunung Ungaran memiliki peran penting bagi wilayah di sekitarnya.
“Gunung Ungaran adalah gunung yang memberi kehidupan, gunung yang menjadikan kota di sekelilingnya menjadi besar seperti Ambarawa, Salatiga, Tuntang, dan Kendal,” katanya.
Ia juga mempertanyakan urgensi pembangunan geothermal apabila kebutuhan energi masih dapat dipenuhi melalui sumber energi lainnya.
“Kenapa harus dikorbankan hanya demi energi yang sesaat?” ujarnya.
Bambang berharap berbagai elemen masyarakat, termasuk budayawan, seniman dan pemerhati alam, ikut mengawal rencana pembangunan geothermal di Gunung Ungaran.
“Kita satukan visi dan misi. Saya yakin tetap kita bersatu, pasti kita bisa merobohkan dinding itu. Yang penting tetap semangat,” tandasnya. (win)











