RASIKAFM.COM | TENGARAN – Menjadi kepala desa itu bukan perkara memasang baliho, memasang senyum, lalu sibuk menyapa warga ketika pemilihan sudah dekat. Setelah terpilih, ada pekerjaan yang jauh lebih penting mengurus warga, membangun desa, dan memastikan potensi yang dimiliki tidak berhenti sebagai kebanggaan dalam obrolan.
Itulah salah satu konsep yang didorong oleh Pupung Kurniawan, cakades Barukan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.
Meski dikenal sebagai pengusaha. Namun, menurut sejumlah orang yang mengenalnya, aktivitas usaha bukan satu-satunya hal yang melekat pada dirinya. Ia juga disebut memiliki kedekatan dengan lingkungan sosial desa.
Menurut Muhamad Sofian, praktisi hukum sekaligus putra asli Desa Barukan, menilai Pupung mempunyai potensi kepemimpinan yang sudah terlihat sejak muda. Penilaian itu, kata dia, didasarkan pada pengenalannya terhadap Pupung sejak kecil.
“Saya mengenal saudara Pupung Kurniawan. Sejak kecil, saya sering bergaul dan berinteraksi denganya. Sepanjang yang saya ketahui, yang bersangkutan sudah memiliki potensi dan bakat untuk menjadi pemimpin sejak usia muda,” kata Sofian.
Bagi Sofian, memilih kepala desa semestinya tidak hanya melihat siapa yang paling dikenal atau siapa yang paling ramai mendapat dukungan. Ada hal lain yang perlu diperhatikan, mulai dari pengalaman, pendidikan, rekam jejak, hingga pemahaman terhadap kehidupan masyarakat.
Kepala Desa Bukan Sekadar Mengurus Surat
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan kepemimpinan desa: desa bukan sekadar wilayah administratif yang membutuhkan tanda tangan kepala desa.
Di dalamnya ada masyarakat dengan persoalan ekonomi, tradisi, kebudayaan, dan kebutuhan pembangunan yang tidak selalu sama.
Sofian berpandangan, seorang kepala desa harus mampu memahami karakter masyarakat sekaligus membaca potensi wilayahnya. Menurut dia, latar belakang pendidikan, pengalaman, dukungan keluarga, dan keterlibatan sosial menjadi beberapa aspek yang patut diperhitungkan dalam menilai calon pemimpin.
Tentu saja, memiliki modal kepemimpinan tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin yang berhasil. Kemampuan tersebut baru benar-benar terlihat ketika seseorang menghadapi persoalan nyata, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan kebijakannya kepada masyarakat.
Sebab, memimpin desa bukan hanya soal niat baik. Ada urusan pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, anggaran, pembangunan, dan kepentingan warga yang harus dikelola secara bertanggung jawab.
Latar belakang Pupung sebagai pengusaha juga memunculkan pertanyaan menarik: ketika seseorang sudah memiliki kesibukan dalam dunia usaha, mengapa masih ingin maju sebagai kepala desa?
Sofian mengaku pernah mendengar langsung penjelasan Pupung mengenai keinginannya mengikuti kontestasi Pilkades. Menurut dia, Pupung menyampaikan niat untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.
“Beliau pernah menyampaikan kepada saya bahwa keinginannya maju sebagai kepala desa lebih diprioritaskan untuk kepentingan pengabdian kepada masyarakat,” kata Sofian.
Niat mengabdi tentu menjadi modal awal yang baik. Namun, pengabdian pada akhirnya perlu dibuktikan melalui tindakan, bukan berhenti sebagai kalimat yang terdengar meyakinkan saat masa pencalonan.
Jika kelak memperoleh kepercayaan masyarakat, tantangan Pupung bukan sekadar membuktikan bahwa dirinya bersedia menjadi kepala desa. Ia juga harus menunjukkan bagaimana pengalaman sebagai pengusaha dapat diterjemahkan menjadi tata kelola desa yang baik.
Harapan serupa disampaikan Yudha, warga Desa Barukan yang tinggal di wilayah RT 7.
Menurut Yudha, Pupung merupakan sosok yang aktif di lingkungan desa. Ia menilai kedekatan tersebut menjadi salah satu alasan dirinya mendukung Pupung.
“Sebagai warga Barukan, khususnya RT 7, saya melihat Mas Pupung aktif di desa dan lingkungan kampung. Sosok seperti beliau bisa mengayomi warga,” ujar Yudha.
Bagi warga, pemimpin yang dekat dengan masyarakat tentu memiliki nilai tersendiri. Persoalan di tingkat desa sering kali tidak hanya muncul dalam rapat formal, tetapi juga terlihat dari percakapan sehari-hari, kegiatan kampung, hingga keluhan yang disampaikan langsung oleh warga.
Kedekatan sosial bisa membantu seorang pemimpin memahami persoalan tersebut. Namun, kedekatan saja tentu belum cukup. Warga juga membutuhkan pemimpin yang mampu menerjemahkan aspirasi menjadi program yang jelas dan bisa dirasakan manfaatnya.
Dengan kata lain, mengayomi warga bukan sekadar bersikap ramah. Ada tanggung jawab untuk mendengarkan, mencari jalan keluar, dan memastikan pelayanan pemerintahan berjalan dengan baik.
UMKM Barukan, Potensi yang Jangan Cuma Jadi Cerita
Di luar soal siapa yang pantas memimpin, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sebenarnya bisa dikembangkan dari Desa Barukan?
Yudha menyebut usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya usaha makanan ringan, sebagai salah satu potensi yang menurutnya layak mendapat perhatian.
“Menurut saya, potensi Barukan yang perlu digali itu banyak. Salah satunya UMKM. Di sana ada banyak usaha makanan ringan yang bisa dikembangkan,” katanya.
Pernyataan itu membuka pembicaraan tentang pekerjaan rumah yang kerap dihadapi desa. Usaha kecil mungkin sudah berjalan, produk mungkin sudah dikenal oleh pelanggan sekitar, tetapi peluang untuk berkembang sering kali masih terbatas.
Di sinilah pemerintah desa dapat mengambil peran sesuai kewenangannya, misalnya dengan mendorong pelatihan usaha, membantu promosi produk, memperluas jejaring pemasaran, atau memfasilitasi pelaku UMKM agar dapat mengakses program pemberdayaan yang tersedia.
Tentu, semua itu membutuhkan pemetaan yang jelas. Pemerintah desa perlu mengetahui jenis usaha yang berkembang, kebutuhan para pelaku usaha, kendala pemasaran, hingga peluang kerja sama yang memungkinkan.
Jika potensi UMKM benar-benar menjadi prioritas, hasilnya semestinya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ukurannya adalah apakah usaha warga berkembang, pemasaran semakin luas, dan pendapatan masyarakat ikut meningkat.
Bagi Barukan, pengembangan ekonomi lokal bisa menjadi salah satu jalan untuk membuat pembangunan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.












