UNGARAN – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia memperkuat pengendalian inflasi melalui stabilisasi harga pangan, penguatan produksi pertanian, dan perbaikan rantai pasok. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui program tebus murah 6 ton beras dan 600 kilogram cabai rawit merah di Kompleks Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (12/10/2026).
Kegiatan Sinergi Stabilisasi Harga dan Hilirisasi Pangan Tahun 2026 tersebut melibatkan masyarakat serta sekitar 300 pedagang makanan atau warung makan dari Kota Semarang dan Kabupaten Semarang.
Selain beras dan cabai rawit merah, tersedia bawang merah, aneka sayuran segar, telur ayam, daging ayam, serta produk olahan cabai. Program ini diharapkan membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau sekaligus memperkuat hubungan antara petani sebagai produsen dan pedagang makanan sebagai pengguna bahan baku.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, mengatakan inflasi Jawa Tengah pada September 2026 tercatat sebesar 3,18 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,28 persen dan masih berada dalam sasaran inflasi 2,5 persen plus minus 1 persen.
Meski demikian, sejumlah komoditas masih mengalami tekanan harga, terutama beras, cabai, jagung, daging ayam, dan telur ayam ras. Kondisi ini antara lain dipengaruhi potensi dampak El Niño, serangan hama tikus, serta pola pasokan yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Sebagai rangkaian penanganan terhadap gejolak harga yang terjadi, hari ini kami berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan melakukan kegiatan sinergi stabilisasi harga beras dan aneka cabai yang melibatkan pedagang makanan kaki lima dan masyarakat,” kata Noor Nugroho dalam sambutannya.
Menurutnya, pengendalian inflasi perlu dilakukan melalui intervensi harga dalam jangka pendek sekaligus penguatan produksi dan manajemen pasokan untuk jangka panjang.
Produksi Padi Jateng Diproyeksikan 8,34 Juta Ton
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menyampaikan bahwa produksi pangan di Jawa Tengah masih memiliki potensi besar untuk mendukung kebutuhan masyarakat. Namun, upaya menjaga ketersediaan pangan perlu diimbangi dengan penguatan infrastruktur pertanian dan antisipasi perubahan iklim.
Berdasarkan proyeksi Kerangka Sampel Area Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Jawa Tengah selama Januari hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 8.343.422 ton gabah kering giling (GKG), setara dengan sekitar 4.942.249 ton beras.
Sementara itu, produksi cabai hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 404.907 ton dan bawang merah sekitar 408.761 ton.
Besarnya potensi produksi tersebut menjadi modal penting dalam menjaga ketersediaan pangan. Meski begitu, kelancaran distribusi, kesesuaian waktu panen, ketersediaan air, dan pengendalian hama tetap menjadi faktor yang memengaruhi pasokan serta perkembangan harga di pasar.
Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian, Balai Besar Wilayah Sungai, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta Bank Indonesia untuk mendukung perbaikan infrastruktur pengairan.
Di Kabupaten Demak, pengerukan sedimentasi saluran irigasi dilakukan untuk mendukung pengairan lahan persawahan seluas 450 hektare di Desa Klitih dan Dukun. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Urip Sihabudin, pada 5 Oktober 2026.
Perbaikan saluran diharapkan memperlancar aliran air sehingga petani dapat segera melakukan penanaman padi. Penanaman direncanakan mulai pekan berikutnya.
Pemerintah juga memberi perhatian terhadap risiko gagal panen. Dalam pemaparannya, Tavares menyebutkan adanya pengajuan perlindungan asuransi usaha tani untuk lahan seluas 71 hektare di Kabupaten Brebes dan Rembang.
BI Salurkan Bantuan Sarana Pertanian
Untuk membantu petani menghadapi tantangan El Niño dan serangan hama tikus, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah membentuk tim teknis pada awal Agustus 2026.
Koordinasi tersebut melibatkan sejumlah instansi, antara lain Biro Perekonomian, Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Ketahanan Pangan, serta Dinas PUPR. Sinergi juga dilakukan bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Purwokerto, dan Tegal.
Dukungan sarana pertanian yang telah disalurkan melalui kantor perwakilan Bank Indonesia di Jawa Tengah meliputi 10 sumur, 17 pompa air, delapan unit pipanisasi, 98 unit rumah burung hantu untuk membantu mengendalikan hama tikus, serta enam unit greenhouse.
Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan petani dalam menjaga produktivitas, terutama ketika menghadapi keterbatasan air dan gangguan hama. Dengan produksi yang lebih terjaga, risiko berkurangnya pasokan yang berpotensi memicu kenaikan harga diharapkan dapat ditekan.

Cabai Kering Jadi Alternatif Bahan Baku Pedagang
Selain memperkuat produksi, kegiatan Sinergi Stabilisasi Harga dan Hilirisasi Pangan juga mendorong pemanfaatan produk olahan pertanian untuk membantu pelaku usaha kuliner mengendalikan biaya.
Para pedagang makanan mendapatkan edukasi mengenai cara mengolah cabai kering menjadi sambal dan bumbu masakan. Cabai kering diharapkan dapat menjadi alternatif ketika harga cabai segar meningkat atau pasokannya terbatas.
Dengan pilihan bahan baku yang lebih beragam, pedagang dapat menyesuaikan kebutuhan usaha dan mengelola biaya produksi secara lebih fleksibel.
Edukasi juga mencakup pemanfaatan bawang putih lokal serta bawang merah yang dikembangkan melalui metode True Shallot Seed (TSS), yakni budidaya bawang merah menggunakan benih berupa biji.
Melalui pendekatan ini, pengendalian inflasi tidak hanya dilakukan dengan menyediakan komoditas berharga terjangkau, tetapi juga dengan memperkuat hubungan antara petani, pengolah pangan, dan pedagang sebagai bagian dari rantai pasok.
Dalam kegiatan yang sama, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyalurkan satu ton beras kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan tersebut diberikan kepada 100 penerima, masing-masing memperoleh 10 kilogram beras.
Koordinasi Berlanjut untuk Menjaga Harga Pangan
Sebagai langkah lanjutan, Bank Indonesia bersama Dinas Ketahanan Pangan menggelar diskusi dengan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi), Pinsar Indonesia, Bulog, serta organisasi perangkat daerah terkait.
Pertemuan tersebut membahas solusi menghadapi gejolak harga beras, daging ayam, dan telur ayam ras, sekaligus merumuskan langkah antisipasi untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.
Koordinasi pengendalian inflasi juga akan diperkuat melalui kegiatan Sinergi Pengendalian Inflasi Pangan Jawa Tengah (SIGAP) yang direncanakan berlangsung pada 5–7 November 2026 di Kabupaten Magelang.
Melalui kombinasi stabilisasi harga, penguatan produksi pertanian, perbaikan irigasi, dan pemanfaatan produk olahan pangan, pemerintah berharap harga kebutuhan pokok tetap terjangkau dan daya beli masyarakat terjaga.
Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk memperpendek rantai pasok, membantu pedagang mengendalikan biaya usaha, serta memperkuat ketahanan pangan Jawa Tengah dalam jangka panjang.





