KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Ada Jeritan dari Bangku Madrasah

Ada Jeritan dari Bangku Madrasah

Ada Jeritan dari Bangku Madrasah

Ditulis oleh: Hafid Zaen Akhmad, S.Pd.I (Kepala MTs Aswaja Tengaran)
TELP 085641048679

Di tengah gegap gempita peluncuran program “Sekolah Rakyat” yang baru, saya berdiri di depan gerbang madrasah saya dengan perasaan campur aduk. Sebagai pendidik, saya tentu menyambut baik setiap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, sebagai kepala madrasah yang setiap hari memutar otak agar atap kelas tidak bocor saat hujan, kebijakan ini menyisakan rasa getir yang mendalam.

Sebagai bagian dari ekosistem pendidikan Islam, kami kerap merasa seperti anak tiri yang dipaksa mandiri tanpa bekal yang cukup. Pertanyaan mendasar yang berkecamuk di kepala saya dan mungkin di benak ribuan pengelola madrasah swasta serta sekolah pinggiran lainnya adalah: Mengapa pemerintah begitu gemar membangun rumah baru, sementara rumah yang ada dibiarkan rapuh dan kekurangan penyangga? Ego Sektoral dan Hamburan Anggaran

Mari kita bedah secara objektif. Fenomena hari ini memperlihatkan kecenderungan yang mengkhawatirkan: hampir setiap kementerian seolah merasa wajib memiliki “sekolah binaan” atau program pendidikan sendiri. Alih-alih melakukan integrasi satu pintu yang solid melalui Kementerian Pendidikan atau Kementerian Agama, kita justru melihat tumpang tindih program yang memakan biaya tidak sedikit.

Membangun fisik sekolah baru berarti memunculkan pos anggaran baru:

  • Biaya pembebasan lahan dan konstruksi fisik yang fantastis.
  • Perekrutan dan penggajian aparatur atau manajemen baru.
  • Biaya operasional yang terus mengalir dari APBN.

Ini adalah pemborosan anggaran yang nyata di tengah narasi “efisiensi keuangan negara”. Ketika anggaran dihamburkan untuk membiayai ego sektoral berupa proyek-proyek fisik baru, ada ribuan madrasah di pelosok negeri yang terseok-seok mendanai kegiatan operasionalnya demi bertahan hidup. Realitas di Akar Rumput: Kami Butuh Sentuhan, Bukan Saingan
“Alih-alih memperkuat fondasi yang sudah berdiri kokoh di masyarakat, pemerintah justru sibuk membuat replika baru yang belum tentu adaptif.”

Madrasah yang kami kelola bukanlah sekolah kemarin sore. Kami telah berakar di masyarakat, merawat moralitas, dan mendidik generasi bangsa dengan nilai-nilai akhlakul karimah jauh sebelum program-program baru ini digagas. Namun, apa yang kami dapatkan?

Ketimpangan Bantuan: Akses terhadap bantuan sarana prasarana (sarpras) seringkali birokratis dan terbatas.

Kesejahteraan Guru: Guru-guru honorer kami mengabdi dengan insentif yang jauh dari kata layak, demi menjaga obor literasi tetap menyala.

Digitalisasi yang Terpincang: Di saat sekolah baru dijanjikan fasilitas serba digital, kami masih berjuang mengunduh materi ajar dengan sinyal seadanya dan perangkat yang menua.

Jika anggaran raksasa untuk “Sekolah Rakyat” baru itu dialihkan secara proporsional untuk men-support, merevitalisasi, dan memperkuat madrasah serta sekolah-sekolah yang sudah ada, dampaknya akan jauh lebih instan dan masif. Pemerintah tidak perlu merangkak dari nol. Fondasinya sudah ada, sistemnya sudah berjalan, yang kami butuhkan hanyalah intervensi dan sentuhan nyata dari negara. Menagih Keberpihakan yang Adil

Pendidikan bukan panggung komoditas politik untuk pamer portofolio kebaikan instansi. Pendidikan adalah tentang keberlanjutan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sudah saatnya pemerintah menghentikan syahwat membangun sekolah-sekolah baru yang sarat ego kelembagaan. Tengoklah kami, madrasah-madrasah yang selama ini menjadi benteng pertahanan karakter bangsa. Support kami, perbaiki fasilitas kami, dan sejahterakan guru-guru kami.

Jangan biarkan kami terus Menatap megahnya gedung-gedung baru milik pemerintah, sementara murid-murid kami harus belajar di bawah atap yang lapuk, sembari bertanya-tanya: apakah kami bukan bagian dari rakyat yang sedang disekolahkan itu

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Gagal Salip dari Sebelah Kiri, Pengendara Motor Diduga Terlindas Truk di Dekat Exit Tol Salatiga
Gagal Salip dari Sebelah Kiri, Pengendara Motor Diduga Terlindas Truk di Dekat Exit Tol Salatiga
Persoalan pengelolaan dan lelang tanah Bondo Deso di Desa Semowo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, berujung pada pengaduan ke Ditreskrimum Polda Jawa Tengah. Pengaduan diajukan terkait masuknya tanah bengkok Kepala Dusun Borangan Heny Affandi dalam daftar lelang. Kedua pihak menyatakan siap memberikan keterangan dan dokumen kepada aparat penegak hukum.
Polemik Tanah Bondo Deso, Kadus Borangan, Mulai Babak Baru. Seperti apa?
Polres Semarang menyiapkan satuan tugas penegakan hukum untuk mengantisipasi perjudian atau praktik botoh dalam Pilkades serentak 2026. Pengamanan juga mencakup potensi konflik antarcalon dan isu lokal di 140 desa pada 19 kecamatan. Sebanyak 787 personel disiapkan dan diperkuat personel BKO serta satu SST Brimob dengan sistem rayonisasi.
Cegah Pilkades di Kabupaten Semarang Jadi Arena Judi, Polisi Siapkan Satgas Penegakan Hukum
Yakuza Maneges wilayah Salatiga dan Semarang menyiapkan pendampingan hukum serta posko pengaduan 24 jam bagi masyarakat yang menghadapi persoalan hukum atau menjadi korban kekerasan. Komitmen itu disampaikan usai deklarasi di Grand Wahid Hotel Salatiga, Sabtu (3/10/2026), dengan melibatkan pengacara untuk mendampingi korban tanpa melihat latar belakang pihak yang terlibat.
Deklarasi Yakuza Maneges Salatiga, Hadirkan Perubahan Positif, Berikan Manfaat Nyata di Masyarakat
[pekok2]