KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)

Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)

Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)

Ditulis Oleh: Anastasia Yulianti , Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jawa Tengah

Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati (Jekuti) merupakan wilayah yang memiliki kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sangat signifikan di Provinsi Jawa Tengah, terutama pada sektor industri pengolahan, perdagangan, dan jasa.

Pada tahun 2025, PDRB Kabupaten Kudus tercatat sebesar Rp 132.316,91 miliar, menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di Jawa Tengah setelah Kota Semarang. Meskipun secara geografis Kudus merupakan kabupaten terkecil di provinsi ini dengan luas wilayah hanya sekitar 42.516 hektare, nilai ekonominya mampu melonjak tinggi karena ditopang oleh sektor industri pengolahan (khususnya industri hasil tembakau atau rokok) yang menyumbang hingga 76 persen dari total PDRB daerah tersebut.

Sementara itu, Kabupaten Jepara berdiri kokoh sebagai magnet industri manufaktur yang sukses memadukan kerajinan ukir tradisional berskala ekspor dengan industri manufaktur modern berskala besar. Sektor industri pengolahan mebel, garmen, dan tekstil di Jepara tumbuh subur di kecamatan-kecamatan strategis seperti Pecangaan, Kalinyamatan, dan Mayong.

Di sisi timur, Kabupaten Pati menempati posisi strategis sebagai penopang ketahanan pangan regional sekaligus generator industri berbasis agro perkebunan dan ekonomi biru di lintas Pantura Timur. Kekuatan utama Pati terletak pada keberhasilannya mengintegrasikan sektor primer, seperti pertanian, perikanan tangkap, dan perkebunan tebu ke dalam industri pengolahan hilir meliputi manufaktur makanan, industri ekspor laut, hingga pergaraman. Potensi ini mengukuhkan Pati sebagai benteng pangan sekaligus koridor logistik vital di Jawa Tengah, dengan skala ekonomi yang bersaing ketat di papan tengah-atas dan masuk dalam jajaran 15 besar kabupaten/kota dengan output ekonomi tertinggi.

Dalam pola pergerakan wilayah Jekuti, Kabupaten Kudus bertindak sebagai magnet pergerakan utama. Data menunjukkan arus komuter dari Jepara ke Kudus mencapai 72 persen dari total pergerakan keluar Jepara, sedangkan arus dari Pati ke Kudus menyentuh angka 73 persen dari total pergerakan keluar Pati. Tingginya konsentrasi arus komuter menuju Kudus didorong oleh daya tarik masif dari sektor manufaktur perkotaan (industri rokok skala nasional dan industri kertas) serta tingginya angka tarikan perjalanan kota karena kelengkapan sarana industri padat karya, pusat perbelanjaan, fasilitas kesehatan regional, hingga lembaga pendidikan tinggi.

Namun, output ekonomi yang besar dari sektor manufaktur dan perdagangan di Jekuti belum diimbangi oleh penyediaan sarana angkutan massal yang modern dan memadai. Layanan angkutan umum eksisting di wilayah ini tengah berada dalam fase kritis dan mengalami penurunan performa yang signifikan. Armada yang kurang layak serta jadwal keberangkatan yang tidak pasti memaksa 74 persen hingga 89 persen pergerakan harian masyarakat beralih menggunakan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor.

Kondisi tersebut berdampak buruk pada lalu lintas jalan raya. Tingginya volume roda dua yang bercampur dengan angkutan logistik barang industri memicu kemacetan parah pada jam sibuk, terutama di koridor Mayong–Kalinyamatan. Beban berat ini tercermin dari angka Volume to Capacity Ratio (V/C Ratio) jalan nasional yang telah melampaui batas kritis keselamatan, seperti di ruas Batas Demak/Jepara – Margoyoso yang mencapai V/C 1,16 dan Jalan Lingkar Juwana yang menembus V/C 1,83.

Krisis ini diperparah oleh penurunan jumlah armada transportasi publik secara sistemik. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, total angkutan umum (bus AKDP, angkot, dan angkudes) di kawasan Jekuti menyusut drastis hingga 15 persen, dengan penurunan paling tajam terjadi di Kabupaten Kudus yang kehilangan 30 persen dari total armadanya. Di Terminal Bangsri, Pecangaan, dan Juwana, angkot dan angkudes bahkan telah kehilangan fungsi regulernya dan lebih banyak dimanfaatkan sebagai angkutan carteran borongan oleh para pedagang pasar.

Guna menjawab kebutuhan mobilitas pekerja komuter lintas kabupaten ini, wilayah Jekuti membutuhkan reformasi total melalui penyediaan transportasi massal perkotaan yang modern, aman, dan terintegrasi. Kehadiran layanan angkutan aglomerasi Trans Jateng menjadi kebutuhan krusial untuk menyinergikan mobilitas pekerja dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi koridor (seperti Mayong, Kalinyamatan, Jekulo, dan Margorejo).

Keberadaan Trans Jateng nantinya akan bertindak sebagai instrumen modal shift (perpindahan moda) yang efektif untuk memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan massal, sekaligus memangkas kepadatan volume kendaraan harian di jalur Pantura Timur.

Oleh karena itu, realisasi rute Trans Jateng di koridor Jekuti menjadi langkah strategis yang tidak dapat ditunda lagi. Pengoperasian segera layanan ini akan menjadi instrumen vital untuk memutus siklus kemunduran layanan transportasi darat, menjamin efisiensi pergerakan komuter padat karya, serta mengamankan roda produktivitas ekonomi di wilayah aglomerasi Jekuti.

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW melalui program KKN mendampingi 25 warga Dusun Sengon, Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah bio-slurry dan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik cair, pupuk organik padat, serta MOL. Kegiatan selama sebulan ini mendorong pemanfaatan bahan lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
KKN UKSW di Desa Manggihan, Mahasiswa Olah Limbah Biogas jadi Pupuk Organik
[pekok2]