URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Wilayah aglomerasi Jepara, Kudus, dan Pati (Jekuti) dinilai membutuhkan layanan transportasi massal modern untuk menunjang mobilitas pekerja dan aktivitas ekonomi. Tingginya arus komuter menuju Kudus serta menurunnya layanan angkutan umum mendorong masyarakat beralih ke kendaraan pribadi, yang berdampak pada kemacetan di sejumlah ruas Pantura Timur. Kehadiran Trans Jateng di koridor Jekuti dinilai menjadi solusi strategis untuk meningkatkan konektivitas, mengurangi kepadatan lalu lintas, dan memperkuat produktivitas ekonomi kawasan.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)

Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)

Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)

featured-img

Ditulis Oleh: Anastasia Yulianti , Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jawa Tengah

Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati (Jekuti) merupakan wilayah yang memiliki kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sangat signifikan di Provinsi Jawa Tengah, terutama pada sektor industri pengolahan, perdagangan, dan jasa.

Pada tahun 2025, PDRB Kabupaten Kudus tercatat sebesar Rp 132.316,91 miliar, menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di Jawa Tengah setelah Kota Semarang. Meskipun secara geografis Kudus merupakan kabupaten terkecil di provinsi ini dengan luas wilayah hanya sekitar 42.516 hektare, nilai ekonominya mampu melonjak tinggi karena ditopang oleh sektor industri pengolahan (khususnya industri hasil tembakau atau rokok) yang menyumbang hingga 76 persen dari total PDRB daerah tersebut.

Sementara itu, Kabupaten Jepara berdiri kokoh sebagai magnet industri manufaktur yang sukses memadukan kerajinan ukir tradisional berskala ekspor dengan industri manufaktur modern berskala besar. Sektor industri pengolahan mebel, garmen, dan tekstil di Jepara tumbuh subur di kecamatan-kecamatan strategis seperti Pecangaan, Kalinyamatan, dan Mayong.

Di sisi timur, Kabupaten Pati menempati posisi strategis sebagai penopang ketahanan pangan regional sekaligus generator industri berbasis agro perkebunan dan ekonomi biru di lintas Pantura Timur. Kekuatan utama Pati terletak pada keberhasilannya mengintegrasikan sektor primer, seperti pertanian, perikanan tangkap, dan perkebunan tebu ke dalam industri pengolahan hilir meliputi manufaktur makanan, industri ekspor laut, hingga pergaraman. Potensi ini mengukuhkan Pati sebagai benteng pangan sekaligus koridor logistik vital di Jawa Tengah, dengan skala ekonomi yang bersaing ketat di papan tengah-atas dan masuk dalam jajaran 15 besar kabupaten/kota dengan output ekonomi tertinggi.

Dalam pola pergerakan wilayah Jekuti, Kabupaten Kudus bertindak sebagai magnet pergerakan utama. Data menunjukkan arus komuter dari Jepara ke Kudus mencapai 72 persen dari total pergerakan keluar Jepara, sedangkan arus dari Pati ke Kudus menyentuh angka 73 persen dari total pergerakan keluar Pati. Tingginya konsentrasi arus komuter menuju Kudus didorong oleh daya tarik masif dari sektor manufaktur perkotaan (industri rokok skala nasional dan industri kertas) serta tingginya angka tarikan perjalanan kota karena kelengkapan sarana industri padat karya, pusat perbelanjaan, fasilitas kesehatan regional, hingga lembaga pendidikan tinggi.

Namun, output ekonomi yang besar dari sektor manufaktur dan perdagangan di Jekuti belum diimbangi oleh penyediaan sarana angkutan massal yang modern dan memadai. Layanan angkutan umum eksisting di wilayah ini tengah berada dalam fase kritis dan mengalami penurunan performa yang signifikan. Armada yang kurang layak serta jadwal keberangkatan yang tidak pasti memaksa 74 persen hingga 89 persen pergerakan harian masyarakat beralih menggunakan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor.

Kondisi tersebut berdampak buruk pada lalu lintas jalan raya. Tingginya volume roda dua yang bercampur dengan angkutan logistik barang industri memicu kemacetan parah pada jam sibuk, terutama di koridor Mayong–Kalinyamatan. Beban berat ini tercermin dari angka Volume to Capacity Ratio (V/C Ratio) jalan nasional yang telah melampaui batas kritis keselamatan, seperti di ruas Batas Demak/Jepara – Margoyoso yang mencapai V/C 1,16 dan Jalan Lingkar Juwana yang menembus V/C 1,83.

Krisis ini diperparah oleh penurunan jumlah armada transportasi publik secara sistemik. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, total angkutan umum (bus AKDP, angkot, dan angkudes) di kawasan Jekuti menyusut drastis hingga 15 persen, dengan penurunan paling tajam terjadi di Kabupaten Kudus yang kehilangan 30 persen dari total armadanya. Di Terminal Bangsri, Pecangaan, dan Juwana, angkot dan angkudes bahkan telah kehilangan fungsi regulernya dan lebih banyak dimanfaatkan sebagai angkutan carteran borongan oleh para pedagang pasar.

Guna menjawab kebutuhan mobilitas pekerja komuter lintas kabupaten ini, wilayah Jekuti membutuhkan reformasi total melalui penyediaan transportasi massal perkotaan yang modern, aman, dan terintegrasi. Kehadiran layanan angkutan aglomerasi Trans Jateng menjadi kebutuhan krusial untuk menyinergikan mobilitas pekerja dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi koridor (seperti Mayong, Kalinyamatan, Jekulo, dan Margorejo).

Keberadaan Trans Jateng nantinya akan bertindak sebagai instrumen modal shift (perpindahan moda) yang efektif untuk memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan massal, sekaligus memangkas kepadatan volume kendaraan harian di jalur Pantura Timur.

Oleh karena itu, realisasi rute Trans Jateng di koridor Jekuti menjadi langkah strategis yang tidak dapat ditunda lagi. Pengoperasian segera layanan ini akan menjadi instrumen vital untuk memutus siklus kemunduran layanan transportasi darat, menjamin efisiensi pergerakan komuter padat karya, serta mengamankan roda produktivitas ekonomi di wilayah aglomerasi Jekuti.

BACA JUGA :

Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang
Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang
Di Balik Lapangan Hijau, Sepak Bola Ajarkan Indahnya Persatuan dan Kebangkitan Ekonomi
Di Balik Lapangan Hijau, Sepak Bola Ajarkan Indahnya Persatuan dan Kebangkitan Ekonomi
mbg
​Menata Ulang Rute MBG: Menghindari Kebocoran Anggaran, Memperkuat Pondasi Ekonomi Lokal
Arah Baru Modernisasi Armada Trans Semarang
Arah Baru Modernisasi Armada Trans Semarang
Ketiadaan layanan transportasi dan rute ekstrem pedesaan membutuhkan waktu dan energi sebelum memasuki ruang kelas
Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?
Tips Cerdas Sewa Bus Wisata Sekolah Liburan Seru, Rombongan Aman dan Tenang
Tips Cerdas Sewa Bus Wisata Sekolah: Liburan Seru, Rombongan Aman dan Tenang

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Satreskrim Polres Semarang menetapkan TI (25) dan DPP (20) sebagai tersangka kasus pencurian dengan kekerasan yang menewaskan pemilik Royal Phone, Chandra Waskito, di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Kamis (6/8/2026). Polisi mengungkap aksi tersebut direncanakan sehari sebelumnya dan dilakukan dengan memukul korban menggunakan palu sebelum kedua tersangka membawa 53 telepon genggam serta mobil korban ke Gubug, Grobogan. Keduanya kini dijerat pasal pencurian dengan kekerasan dan pembunuhan dengan ancaman pidana seumur hidup atau maksimal 20 tahun penjara.
Kronologi Perampokan Disertai Pembunuhan Bos Royal Phone Ambarawa, Korban Dihabisi Pakai Palu di Bagian Kepala
Pemerintah Kota Salatiga memberikan penghargaan kepada pemenang Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) 2026 dalam apel pagi di Kantor Pemerintah Kota Salatiga, Senin (3/8/2026). Penghargaan diserahkan Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, sebagai apresiasi atas inovasi yang mampu menjawab persoalan masyarakat, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mendorong budaya inovasi yang berkelanjutan.
Pemkot Salatiga Anugerahi Pemenang Krenova 2026, Inovasi harus Jawab Persoalan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Semarang dan Jawa Tengah pada Rabu, 5 Agustus 2026, didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan. Hasil pengamatan pukul 05.30 WIB mencatat suhu udara di Semarang 24,1 derajat Celsius dengan kelembapan 85 persen, sementara hujan ringan berpotensi terjadi secara tidak merata di wilayah pegunungan, dataran tinggi, sebagian Jawa Tengah bagian timur, dan sekitarnya.
05 Agustus 2026: Cuaca Semarang Cerah Berawan, BMKG Prediksi Hujan Ringan di Sejumlah Wilayah Jawa Tengah

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved