KAWAN PEMANDU JALAN

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

KABAR RASIKA

Ketika Kelas Membosankan: Menimbang Ulang cara Mengelola Pembelajaran

Ketika Kelas Membosankan: Menimbang Ulang cara Mengelola Pembelajaran

Ketika Kelas Membosankan: Menimbang Ulang cara Mengelola Pembelajaran

Ika Ariyanti, Mahasiswa MAP UKSW Salatiga

Oleh : Ika Ariyanti
Mahasiswa MAP UKSW Salatiga

Suasana didalam kelas, Dimana guru berdiri di depan, papan tulis penuh catatan, siswa sibuk menyalin tanpa banyak bertanya. Cara itu bertahan lama, mungkin karena dianggap paling praktis. Tapi setelah beberapa bulan mempelajari mata kuliah Manajemen Pembelajaran saya sadar satu hal bahwa pembelajaran yang baik bukan sekadar soal apa yang diajarkan, melainkan bagaimana proses itu dirancang, dijalankan, dan dievaluasi secara sadar.

Pertanyaannya, mengapa strategi pembelajaran perlu terus diperbarui, dan sejauh mana peran pengelolaannya menentukan keberhasilan sebuah kelas?

Ketika Cara Lama Tak Lagi Cukup

Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru memang sudah lama menjadi andalan di banyak sekolah. Sayangnya, pola ini sering membuat siswa hanya jadi pendengar, bukan pemikir. Ruang untuk bertanya, berdebat, atau mencoba hal baru jadi sempit. Padahal, dunia yang akan dihadapi siswa kelak menuntut lebih dari sekadar hafalan, mereka perlu terbiasa menganalisis, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah yang tidak selalu punya satu jawaban benar.

Kesenjangan antara apa yang terjadi di kelas dan apa yang dibutuhkan di luar kelas inilah yang mendorong munculnya berbagai model pembelajaran yang lebih melibatkan siswa secara aktif.

Beberapa Model yang Mulai Banyak Dilirik

Ada beberapa model pembelajaran yang belakangan cukup ramai dibicarakan di kalangan pendidik, dan masing-masing punya cara berbeda dalam melibatkan siswa.

Project Based Learning (PjBL), misalnya, mengajak siswa belajar lewat pengerjaan proyek nyata. Alih-alih hanya membaca teori, siswa merancang, mencoba, lalu menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat dan dievaluasi.

Ada juga Problem Based Learning, yang sekilas mirip tapi titik tolaknya berbeda siswa diajak menghadapi sebuah persoalan lebih dulu, baru kemudian mencari jawabannya melalui proses berpikir yang runtut. Riset di kalangan siswa SMP menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis setelah model ini diterapkan pada pelajaran fisika. Bahkan dalam konteks yang lebih luas. Ada juga Blended Learning, yang memadukan pertemuan tatap muka dengan pemanfaatan platform digital. Siswa bisa mengakses materi kapan saja, sementara waktu tatap muka lebih difokuskan untuk diskusi dan pendalaman. Sebuah meta-analisis terhadap lima belas studi menunjukkan bahwa metode ini secara konsisten memberi dampak positif terhadap hasil belajar siswa dibanding pembelajaran satu arah.

Terakhir, ada Cooperative Learning, yang menitikberatkan pada kerja sama siswa dalam kelompok kecil. salah satu peneliti yang cukup banyak dirujuk dalam kajian ini, menjelaskan bahwa keberhasilan belajar kooperatif terletak pada adanya tanggung jawab individu sekaligus ketergantungan positif antaranggota kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa strategi ini efektif menumbuhkan keterampilan sosial siswa sekaligus meningkatkan capaian akademiknya secara bersamaan dan dua hal yang sering dianggap sulit dicapai lewat satu metode saja.

Bukan Cuma Soal Metode, Tapi Juga Cara Mengelolanya

Di sinilah letak persoalan yang menurut saya sering luput dari perhatian: sebagus apa pun model pembelajaran yang dipilih, hasilnya akan timpang kalau tidak dikelola dengan baik. Sebuah kajian salah satu sekolah di Purworejo memperlihatkan bahwa manajemen pembelajaran yang berjalan efektif selalu melibatkan tiga tahap yang saling berkaitan: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, dengan guru dan kepala sekolah sama-sama berperan aktif memantau prosesnya.

Dari sini saya melihat bahwa manajemen pembelajaran sebenarnya berfungsi sebagai “jembatan” yang menghubungkan gagasan inovatif di atas kertas dengan praktik nyata di ruang kelas. Tanpa jembatan itu, model pembelajaran secanggih apa pun berisiko berhenti sebagai wacana.
Tantangan yang Masih Mengadang

Tentu saja, penerapan pembelajaran inovatif tidak selalu mulus. Keterbatasan sarana, kesiapan guru dalam menguasai model baru, hingga keengganan untuk keluar dari zona nyaman metode lama masih jadi hambatan umum di lapangan. Karena itu, dukungan dari pihak sekolah lewat pelatihan berkelanjutan, serta komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan pendidikan, tetap jadi kunci agar transformasi ini tidak berhenti di tataran ide.

Belajar dari berbagai model dan riset yang telah saya baca semakin yakin bahwa persoalan pendidikan hari ini bukan lagi soal kurangnya pilihan strategi pembelajaran, melainkan bagaimana strategi itu dikelola secara konsisten. Model yang inovatif dan manajemen yang solid perlu berjalan beriringan yang satu memberi arah, yang lain memastikan arah itu benar-benar sampai pada tujuannya agar peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga siap menghadapi persoalan nyata di luar kelas. (red/opini)

Kabar Terkini

POPULER

DPRD Kabupaten Semarang meminta sosialisasi rencana pengembangan geothermal Gunung Ungaran tidak menjadi formalitas agar masyarakat dapat menyatakan menerima atau menolak proyek tersebut. Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang Said Riswanto menyampaikan hal itu di Ungaran, Kamis (10/9/2026), karena suara warga dinilai penting dalam proses pembangunan dan pengelolaan lingkungan.
DPRD Kabupaten Semarang Ingatkan Sosialisasi Geothermal Jangan Dianggap Persetujuan Warga
Menag MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama
Menag: MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama
Kota Semarang menjadi pusat pelaksanaan MTQ Nasional XXXI 2026 selama 10 hari, 11–20 September. Rangkaian dimulai dengan kedatangan kafilah dan Malam Ta’aruf, dilanjutkan pembukaan pada 12 September yang dijadwalkan dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Kompetisi berlangsung 13–18 September, sebelum city tour, penutupan, dan kepulangan kafilah ke daerah masing-masing.
Catat Jadwalnya, MTQ Nasional XXXI Digelar 11-20 September di Semarang
Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang, Sabtu (12/9/2026), menampilkan keragaman budaya sekaligus semangat toleransi masyarakat. Wali Kota Semarang Agustina mengapresiasi keterlibatan masyarakat lintas agama dalam kegiatan tersebut. Lebih dari 1.000 peserta dari 38 kontingen mengikuti pawai sepanjang sekitar 2,5 kilometer dari Balai Kota menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Mandra "Sidoel" ikut Pawai Pembukaan MTQ di Semarang