URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Pendidikan Indonesia dinilai perlu memperkuat keseimbangan antara capaian akademik dan pembentukan karakter peserta didik sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045. Sistem pendidikan tidak cukup hanya mengukur keberhasilan melalui nilai, tetapi juga perlu menumbuhkan integritas, empati, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta akhlak. Penguatan kurikulum dan sistem pendidikan menjadi langkah penting untuk membentuk generasi yang cerdas sekaligus berkarakter.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Kontradiksi Pendidikan, Ketika Nilai Rapor Lebih Penting dari Karakter

Kontradiksi Pendidikan, Ketika Nilai Rapor Lebih Penting dari Karakter

Kontradiksi Pendidikan, Ketika Nilai Rapor Lebih Penting dari Karakter

Dafiniatul Ulum saat bersama mahasiswa
featured-img

Penulis :
Dafiniatul Ulum
Mahasiswa Pascasarjana

Demi mewujudkan cita-cita Indonesia emas 2045, seyogyanya pemerintah harus segera mengambil langkah pembenahan terhadap proses penyelenggaraan pendidikan yang sudah berjalan. Paradigma pendidikan di Indonesia hingga kini masih terjebak dalam sistem kurikulum yang hanya berorientasi pada capaian nilai akademis semata tanpa mempertimbangkan aspek pengembangan karakter peserta didik. Alhasil banyak lembaga pendidikan yang terfokus untuk mencetak murid berprestasi di atas kertas saja, Setiap peserta didik dituntut untuk menguasai seluruh mata pelajaran dengan nilai sempurna, tanpa mempertimbangkan kebutuhan psikologis mereka.

Selama beratus ratus tahun lamanya, Indonesia dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran yang mengedepankan etika dan budi pekerti luhur. namun sayangnya kini realita dilapangan menunjukan pergeseran yang cukup signifikan pada budaya masyarakat Indonesia khususnya perilaku anak-anak. budaya dan tata krama generasi muda sekarang mulai memudar dan tergantikan dengan budaya barat yang mengekspresikan kebebasan tanpa ada batasan.

Lembaga pendidikan seharusnya mengambil peran dan tanggung jawab yang besar dalam membentuk generasi bangsa yang berkualitas bukan hanya sekadar pintar secara teori saja namun juga harus dilandasi dengan karakter-karakter kebangsaan. Akan tetapi dewasa ini lembaga pendidikan seakan kurang mampu menjawab tanggung jawab tersebut, anak-anak dipaksa untuk mencapai nilai akademis yang sempurna, seolah keberhasilan belajar hanya diukur dari angka di rapor saja.

Setiap mata pelajaran menjadi target yang harus dikuasai dengan parameter nilai yang mutlak, peserta akhirnya terpetak-petakan menjadi si pintar dan si bodoh. Fenomena ini akan memicu munculnya efek yang berkelanjutan, tidak adanya penyeimbangan target pendidikan menyebabkan Anak-anak menjadi egois, lebih fokus pada diri sendiri daripada bekerja sama. Mereka mudah curang atau menyontek demi mendapatkan nilai tinggi, bahkan tidak segan menjatuhkan teman agar terlihat lebih unggul. Rasa empati dan kepedulian terhadap teman yang kesulitan pun menurun karena seluruh perhatian tertuju pada prestasi pribadi. Mereka bisa saling menjatuhkan satu sama lain demi mewujudkan tujuan masing masing, fenomena ini tentu bertentangan dengan jiwa Bhineka Tunggal Ika.

Dalam kasus yang lebih parah, kegagalan lembaga pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik juga berkontribusi pada peningkatan perilaku negatif, termasuk tindakan kriminalitas yang merebak dikalangan anak anak remaja. Beberapa tahun terakhir ini angka kejahatan yang melibatkan anak anak dibawah umur terus meningkat mulai dari pergaulan bebas, pencurian, tawuran pelajar bahkan sampai kasus pembunuhan. Bahkan diantara beberapa pelaku tindakan kriminalitas anak dibawah umur tidak sedikit dari mereka yang memiliki nilai akademis yang tinggi di sekolahnya.

Dengan kata lain, nilai tinggi dalam bidang akademis saja belum tentu mendukung terwujudnya tujuan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam amanat UUD 1945, dalam pembukaan UUD 1945 sudah jelas disebutkan bawa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dengan meningkatkan keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia. Pendidikan seharusnya tidak hanya membentuk individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, empati, moral serta tanggung jawab.

Karena itu Kurikulum dan sistem pendidikan merupakan dua perangkat fundamental yang memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan proses penyelenggaraan pendidikan. Keduanya tidak dapat dipisahkan, sebab kurikulum berfungsi sebagai pedoman operasional yang mengarahkan seluruh kegiatan belajar mengajar, sementara sistem pendidikan menjadi kerangka struktural yang memastikan implementasi kurikulum berjalan secara terencana.

Untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045, reformasi pendidikan harus menjadi prioritas utama. Sistem pendidikan Indonesia selama ini terlalu menitikberatkan pada capaian akademis semata dan mengabaikan pembentukan karakter, moral, serta kepribadian peserta didik. Dengan demikian, pendidikan Indonesia harus kembali pada hakikatnya: bukan sekadar mencetak manusia yang pandai, tetapi manusia yang utuh

BACA JUGA :

Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang
Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang
Di Balik Lapangan Hijau, Sepak Bola Ajarkan Indahnya Persatuan dan Kebangkitan Ekonomi
Di Balik Lapangan Hijau, Sepak Bola Ajarkan Indahnya Persatuan dan Kebangkitan Ekonomi
mbg
​Menata Ulang Rute MBG: Menghindari Kebocoran Anggaran, Memperkuat Pondasi Ekonomi Lokal
Reformasi Transportasi Publik Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)
Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)
Arah Baru Modernisasi Armada Trans Semarang
Arah Baru Modernisasi Armada Trans Semarang
Ketiadaan layanan transportasi dan rute ekstrem pedesaan membutuhkan waktu dan energi sebelum memasuki ruang kelas
Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Satreskrim Polres Semarang menetapkan TI (25) dan DPP (20) sebagai tersangka kasus pencurian dengan kekerasan yang menewaskan pemilik Royal Phone, Chandra Waskito, di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Kamis (6/8/2026). Polisi mengungkap aksi tersebut direncanakan sehari sebelumnya dan dilakukan dengan memukul korban menggunakan palu sebelum kedua tersangka membawa 53 telepon genggam serta mobil korban ke Gubug, Grobogan. Keduanya kini dijerat pasal pencurian dengan kekerasan dan pembunuhan dengan ancaman pidana seumur hidup atau maksimal 20 tahun penjara.
Kronologi Perampokan Disertai Pembunuhan Bos Royal Phone Ambarawa, Korban Dihabisi Pakai Palu di Bagian Kepala
Pemerintah Kota Salatiga memberikan penghargaan kepada pemenang Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) 2026 dalam apel pagi di Kantor Pemerintah Kota Salatiga, Senin (3/8/2026). Penghargaan diserahkan Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, sebagai apresiasi atas inovasi yang mampu menjawab persoalan masyarakat, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mendorong budaya inovasi yang berkelanjutan.
Pemkot Salatiga Anugerahi Pemenang Krenova 2026, Inovasi harus Jawab Persoalan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Semarang dan Jawa Tengah pada Rabu, 5 Agustus 2026, didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan. Hasil pengamatan pukul 05.30 WIB mencatat suhu udara di Semarang 24,1 derajat Celsius dengan kelembapan 85 persen, sementara hujan ringan berpotensi terjadi secara tidak merata di wilayah pegunungan, dataran tinggi, sebagian Jawa Tengah bagian timur, dan sekitarnya.
05 Agustus 2026: Cuaca Semarang Cerah Berawan, BMKG Prediksi Hujan Ringan di Sejumlah Wilayah Jawa Tengah

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved