KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Dilema Geothermal Ungaran-Telomoyo: Menimbang Maslahat dan Mudarat Energi Bersih

Dilema Geothermal Ungaran-Telomoyo: Menimbang Maslahat dan Mudarat Energi Bersih

Dilema Geothermal Ungaran-Telomoyo: Menimbang Maslahat dan Mudarat Energi Bersih

Dosen Institut Islam Kuningan, Jawa Barat, Dr. H. Dakhori

RASIKAFM.COM | UNGARAN — Rencana pengembangan energi panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo, Jawa Tengah, dinilai perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan energi bersih dengan perlindungan lingkungan serta kepentingan masyarakat sekitar.

Dosen Institut Islam Kuningan, Jawa Barat, Dr. H. Dakhori, mengatakan pengembangan geothermal tidak cukup hanya dilihat dari sisi peningkatan pasokan listrik dan percepatan transisi energi. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam juga harus mempertimbangkan kemaslahatan masyarakat dan potensi kerusakan lingkungan.

“Dalam pandangan Ekonomi Syariah, pemanfaatan sumber daya alam tidak sekadar berfokus pada efisiensi ekonomi atau pemenuhan target pasokan listrik, tetapi wajib berpijak pada kerangka Maqashid Shariah, yaitu mewujudkan kemaslahatan sekaligus mencegah timbulnya kerusakan,” ujar Dakhori dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/8/2026).

Ia menilai, panas bumi memiliki sejumlah manfaat strategis. Sebagai energi terbarukan, geothermal dapat menjadi sumber energi yang relatif stabil sekaligus memiliki emisi lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Pengembangan proyek tersebut juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan. Mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal, pembangunan infrastruktur pendukung hingga potensi peningkatan penerimaan daerah.

“Investasi sektor energi terbarukan ini berpotensi membuka multiplier effect. Penyerapan tenaga kerja lokal, pembangunan infrastruktur pendukung, serta alokasi Dana Bagi Hasil geothermal bagi pemerintah daerah dapat memperkuat kemandirian ekonomi daerah sekitar lereng gunung,” jelasnya.

Namun, Dakhori mengingatkan agar manfaat tersebut tidak membuat aspek lingkungan dan keselamatan masyarakat diabaikan. Ia menyoroti potensi gangguan terhadap tata air tanah atau aquifer akibat aktivitas eksplorasi dan eksploitasi. Hal ini dinilai penting karena masyarakat di kawasan lereng Gunung Ungaran dan Telomoyo banyak bergantung pada sumber air untuk pertanian, perkebunan, peternakan maupun kebutuhan sehari-hari.

“Risiko utama tertuju pada kelangsungan tata air tanah. Aktivitas eksplorasi dan eksploitasi berpotensi mengganggu debit serta kualitas mata air,” katanya.

Rencana pengembangan energi panas bumi di Gunung Ungaran dan Telomoyo, Jawa Tengah, dinilai perlu menyeimbangkan kebutuhan energi bersih dengan perlindungan lingkungan dan kepentingan masyarakat. Dosen Institut Islam Kuningan Dr. H. Dakhori mendorong penerapan prinsip keadilan, musyawarah, dan keberlanjutan untuk mencegah gangguan tata air, risiko geologi, serta konflik sosial.
Salah satu titik aktif semburan panas bumi di kawasan objek wisata Candi Gedongsongo, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Foto: IG pesona_kabsemarang

Menurut dia, apabila akses masyarakat terhadap sumber air terganggu, dampaknya tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi ketahanan pangan dan mata pencaharian warga. Selain persoalan air, ia juga menyinggung potensi risiko geologi, termasuk gempa induksi atau induced seismicity yang dapat terjadi akibat aktivitas injeksi fluida dalam proses pengembangan panas bumi.

“Jika proyek dilakukan tanpa kehati-hatian tinggi, gangguan terhadap struktur geologis dapat memicu bencana alam yang merugikan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Karena itu, Dakhori menilai prinsip kehati-hatian harus menjadi bagian penting dalam setiap tahapan pengembangan geothermal, terutama di kawasan pegunungan yang memiliki nilai ekologis tinggi dan berdekatan dengan permukiman masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sejak tahap awal. Menurutnya, minimnya informasi dan pelibatan warga berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan hingga konflik sosial.

Dakhori menawarkan tiga prinsip yang perlu diintegrasikan dalam tata kelola pengembangan geothermal, yakni keadilan (‘adl), musyawarah (shura), dan keberlanjutan (istidama).

Prinsip keadilan, kata dia, harus diwujudkan melalui pemberian kompensasi yang layak bagi masyarakat terdampak serta pembagian manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan warga.

“Ganti rugi dan kompensasi atas dampak lingkungan harus diberikan secara adil dan bermartabat, disertai pembagian hasil yang secara nyata meningkatkan taraf hidup warga terdampak,” katanya.

Sementara prinsip musyawarah mengharuskan proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan sosialisasi dilakukan secara terbuka dan partisipatif.

“Aspirasi masyarakat lokal harus ditempatkan sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan, bukan sekadar formalitas,” tegasnya.

Adapun prinsip keberlanjutan, menurut Dakhori, harus diwujudkan dengan memastikan perlindungan kawasan resapan air dan hutan lindung, termasuk komitmen pemulihan vegetasi serta pengawasan ketat terhadap kegiatan operasional.

Ia menilai pemanfaatan panas bumi di Gunung Ungaran dan Telomoyo tetap dapat menjadi langkah strategis dalam mendukung kemandirian energi nasional, sepanjang pelaksanaannya tidak mengorbankan lingkungan dan masyarakat.

“Keberhasilan pembangunan energi tidak hanya dihitung dari megawatt listrik yang dialirkan ke jaringan nasional, melainkan dari sejauh mana keselamatan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat lokal dapat terjaga,” kata Dakhori.

Menurutnya, pembangunan energi yang berkelanjutan semestinya mampu menghadirkan manfaat ekonomi dan energi bersih sekaligus menjaga ruang hidup masyarakat serta kelestarian alam.

“Pembangunan energi yang membawa keberkahan adalah pembangunan yang mendatangkan maslahat tanpa menumbalkan ruang hidup manusia dan kelestarian alam,” pungkasnya. (win)

 

Dosen Institut Islam Kuningan, Jawa Barat, Dr. H. Dakhori

Knowledge

Tidak ada postingan.

Kabar Terkini

POPULER

Tim bola voli indoor putra Kabupaten Semarang mengalahkan Kabupaten Purbalingga dengan skor 3-1 pada Porprov XVII Jawa Tengah 2026 di GOR Pandanaran Wujil, Bergas, Selasa (27/10/2026). Sempat kalah pada set pertama, tuan rumah bangkit melalui perubahan strategi bertahan dan variasi serangan. Kemenangan ini mengantarkan Kabupaten Semarang ke babak berikutnya untuk menghadapi Kabupaten Kudus.
Sempat Tertinggal, Voli Indoor Putra Kabupaten Semarang Bangkit dan Singkirkan Kabupaten Purbalingga
Suasana Hening Iringi Pembukaan Tenis Meja Porprov Jateng, Doa Mengalir untuk Syabilla
Suasana Hening Iringi Pembukaan Tenis Meja Porprov Jateng, Doa Mengalir untuk Syabilla
Bakal calon Kepala Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Hermawan Sigit atau Nanang, menyiapkan sejumlah gagasan pembangunan yang mencakup perbaikan tata kelola pemerintahan, pengembangan UMKM, optimalisasi wisata lokal, dan pengelolaan sampah rumah tangga. Ia mengusung visi masyarakat religius, maju, sejahtera, dan mandiri dengan mengedepankan partisipasi warga serta penerapan program secara bertahap.
Bertarung dalam Pilkades Cukilan, Hermawan Sigit siapkan sejumlah Jurus Jitu, “urip kudu urup”
Kontingen Muaythai Kota Salatiga melampaui target empat medali emas pada Porprov XVII Jawa Tengah 2026 dengan meraih lima emas, lima perak, dan empat perunggu. Pelatih Yusuf Susilo mengapresiasi kerja keras para atlet yang berhasil mengumpulkan total 14 medali. Capaian tersebut menjadi modal untuk menjaga konsistensi prestasi melalui dukungan pemerintah daerah dan KONI.
Lampaui Target, Kontingen Muaythai Salatiga raih Lima Emas di ajang Porprov XVII
[pekok2]