KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Kemarau Bikin Sawah Mengering, Petani Wringin Putih Tekor Jutaan Rupiah

Kemarau Bikin Sawah Mengering, Petani Wringin Putih Tekor Jutaan Rupiah

Kemarau Bikin Sawah Mengering, Petani Wringin Putih Tekor Jutaan Rupiah

Kondisi sawah di Dusun Pluwang, Desa Wringin Putih, Kecamatan Bergas yang mengering akibat musim kemarau, Selasa (18/8/2026). Foto: IST

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Musim kemarau kembali memukul petani penggarap sawah di Dusun Pluwang, Desa Wringin Putih, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Tanaman padi yang baru berumur sekitar 20 hari setelah semai (HSS) terpaksa dibiarkan mati setelah pasokan air irigasi tak lagi mampu mencapai lahan pertanian.

Hamparan sawah yang sebelumnya dipenuhi tanaman hijau kini berubah kering. Sejumlah petak tanaman padi menguning hingga akhirnya mati karena tidak mendapatkan cukup air. Kondisi tersebut membuat para petani harus menelan kerugian dari biaya produksi yang telah dikeluarkan. Padahal, lahan yang mereka garap merupakan tanah bengkok dan diharapkan dapat memberikan hasil untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup.

Basiroh (61), salah seorang petani penggarap, mengatakan kegagalan kali ini menambah kerugian yang dialaminya. Pada musim tanam sebelumnya, hasil pertanian juga tidak maksimal akibat serangan hama tikus. Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan untuk menekan populasi tikus. Bahkan, sejumlah rumah burung hantu (rubuha) telah dipasang di sekitar persawahan. Namun, keberadaan hama tersebut masih sulit dikendalikan.

“Musim tanam sebelumnya sudah rugi karena tikus. Kami berharap musim tanam kedua bisa menutup kerugian itu, tetapi justru air irigasi lebih dulu habis,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).

Menurut Basiroh, aliran air mulai tidak mampu mencukupi kebutuhan sawah sejak Juni lalu. Akibatnya, tanaman padi yang baru tumbuh tidak mampu bertahan hingga seluruhnya mengering.

“Jadi kali ini kembali gagal panen. Tidak ada tanaman padi yang terselamatkan,” katanya.

Ia memperkirakan kerugian yang dialami mencapai jutaan rupiah. Nilai tersebut baru memperhitungkan biaya benih, pupuk dan obat-obatan. Belum termasuk biaya pengolahan lahan, tenaga tanam, serta kewajiban sewa lahan bengkok.

Kondisi kekeringan juga berdampak pada ternak yang dipeliharanya.

Basiroh mengaku semakin kesulitan mendapatkan pakan untuk kambing karena rerumputan dan tanaman yang biasanya dimanfaatkan sebagai pakan ikut mengering. Untuk memenuhi kebutuhan pakan, ia kini terpaksa mencari tanaman perdu maupun daun-daunan lain yang masih bertahan hijau di sekitar persawahan.

“Musim kemarau kali ini benar-benar sulit. Tanaman untuk pakan kambing di sekitar sawah juga banyak yang sudah mengering,” tandasnya. (win)

Kabar Terkini

POPULER

Peserta Aksi Jateng Guyub Kecewa Tak Diizinkan Transit di Kantor Bupati Semarang
Peserta Aksi Jateng Guyub Kecewa Tak Diizinkan Transit di Kantor Bupati Semarang
Pemkab Semarang memanfaatkan ganti kerugian aset daerah terdampak Tol Jogja-Bawen senilai sekitar Rp112 miliar untuk membangun fasilitas publik di Bawen. Bupati Semarang Ngesti Nugraha menjelaskan pembangunan dilakukan dalam bentuk tanah dan bangunan pengganti, meliputi kantor kelurahan, RTH, balai RW, serta gedung TK dan SD yang terdampak proyek tol.
Rp40 Miliar Ganti Rugi Tol Jogja-Bawen Disulap Jadi Fasilitas Publik di Bawen, Ditarget Rampung Februari 2027
Trans Banyumas Mengubah Budaya Bertransportasi di Daerah
Trans Banyumas: Mengubah Budaya Bertransportasi di Daerah
Haryono (58), warga Desa Diwak, Bergas, Kabupaten Semarang, selamat dari tenggelamnya KM Virgo 8 di perairan Masalembo, Minggu (13/9/2026). Ia bersama sembilan korban lain bertahan di rakit penolong sebelum ditemukan kapal nelayan. Haryono mengaku mengalami sejumlah kejadian yang dianggapnya sebagai firasat sebelum kapal berangkat menuju Kalimantan Tengah.
Cerita Korban Selamat Kapal Virgo Asal Kabupaten Semarang, Nasi Berkat yang Tumpah hingga Mimpi Kapal Tenggelam
[pekok2]