KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Tika Post Modelling Salatiga, Ajarkan Merajut Gratis Untuk Mengasah Kreativitas Ibu Rumah Tangga

Tika Post Modelling Salatiga, Ajarkan Merajut Gratis Untuk Mengasah Kreativitas Ibu Rumah Tangga

Tika Post Modelling Salatiga, Ajarkan Merajut Gratis Untuk Mengasah Kreativitas Ibu Rumah Tangga

Sejumlah ibu rumah tangga saat ikuti pelatihan merajut gratis di Sanggar Post Modelling school Sidorejo, belum lama ini.

[@]Mengisi waktu luang agar tidak bosan di rumah sekaligus menambah pemasukan untuk belanja, ibu rumah tangga di Sidorejo, Salatiga mengikuti pelatihan membuat rajut benang.

Pelatihan yang digagas oleh Kadarwati dan Asitya Ndaru Mustikarini itu juga bertujuan untuk mengasah kreativitas ibu-ibu.

Tak main-main pelatihan rajut itu diajar langsung oleh Kadarwati atau biasa juga dipanggil Tipuk. Pemilik rumah kreatif Keza craft Salatiga. Dia sudah beberapa kali mengirim karya rajutnya sampai ke Belanda dan Prancis.

“Saya punya keahlian (merajut) kenapa kok hanya untuk saya sendiri. Nah dari situ kerjasama dengan mbak Tika untuk membuat pelatihan ini,” terang Tipuk saat ditemui di Sanggar Post Modelling school Sidorejo, belum lama ini.

Diakuinya tidak ada tarif alias gratis untuk mengikuti pelatihan ini. Hanya ada biaya untuk membeli benang rajut. Itupun digunakan sendiri untuk membuat kreasi benang rajut.

Sampai saat ini sudah sekitar 60 ibu-ibu yang sudah mengikuti pelatihan rajut. Mereka berasal dari Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.

Sementara itu, Asitya Ndaru Mustikarini menyebut kegiatan ini tidak hanya sekedar pelatihan saja. Namun basecamp pelatihan rajut yang berada di Jalan Jambe Wangi Nomor 5, Sidorejo Lor, Sidorejo, Salatiga itu, hasil karyanya juga sudah di pasarkan.

“Kita berdua ini bekerja sama. Jadi hasilnya ibu-ibu ini kita peragakan oleh talent kami di Post Modelling,” terang perempuan yang juga pemilik sanggar post modelling school ini.

Waktu dipamerkan oleh model, kata Tika, beberapa peminat yang langsung membelinya. Selain itu pemasaran juga dilakukan lewat online. Pasarnya saat ini sudah sering terjual sampai Kota Bandung dan Bali.

“Kita juga ada di dekranasda Salatiga ada display di sana. Online juga ada,” terang dia.

Menurutnya pasar rajut ini untuk semua kalangan. Mulai anak-anak sampai dewasa. Hasil karya ibu-ibu ini dijual paling murah Rp 5.000 untuk anting. Topi rajut Rp 125 ribu.

“Ada kebaya juga dijual Rp 300 ribu, untuk taplak meja Rp 500 ribu,” akunya.

Kedepannya Tipuk dan Tika akan terus menggelar pelatihan merajut ini. Dia berharap ibu-ibu bisa menambah wawasan tentang seni. Selain itu juga untuk menambah income.

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW melalui program KKN mendampingi 25 warga Dusun Sengon, Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah bio-slurry dan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik cair, pupuk organik padat, serta MOL. Kegiatan selama sebulan ini mendorong pemanfaatan bahan lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
KKN UKSW di Desa Manggihan, Mahasiswa Olah Limbah Biogas jadi Pupuk Organik
[pekok2]