URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Reza Beti Emelia (22) memilih menjadi caregiver lansia sebagai persiapan kerja ke Jepang. Lulusan kebidanan itu menjalani magang di Pesantren Lansia Raden Rahmat, Desa Gedong, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Rabu (25/2/2026). Ia ingin mengasah keterampilan merawat lansia sebelum ditempatkan di Prefektur Kyushu. Program didukung LPK SO Serbaindo melalui pelatihan berbasis pesantren.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Dari Akademi Kebidanan ke Negeri Sakura: Jejak Reza Merawat Lansia dengan Cinta di Pesantren Lansia Raden Rahmat

Dari Akademi Kebidanan ke Negeri Sakura: Jejak Reza Merawat Lansia dengan Cinta di Pesantren Lansia Raden Rahmat

Dari Akademi Kebidanan ke Negeri Sakura: Jejak Reza Merawat Lansia dengan Cinta di Pesantren Lansia Raden Rahmat

featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Di sebuah sudut tenang Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, langkah kecil seorang perempuan muda asal Banjarnegara tengah menapaki jalan besar hidupnya. Namanya Reza Beti Emelia (22). Lulusan salah satu akademi kebidanan di Yogyakarta itu kini memilih banting setir menjadi caregiver, merawat para lansia di Pesantren Lansia Raden Rahmat.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Sejak semester empat kuliah kebidanan, Reza sudah menanam mimpi untuk bekerja di luar negeri. “Opsinya waktu itu Jerman, Arab Saudi, atau Jepang,” tuturnya ditemui di sela mendampingi lansia di Pesantren Lansia Raden Rahmat, Rabu (25/2/2026).

Ia berkonsultasi dengan dosen. Jepang disebut sebagai pilihan paling realistis karena adanya koneksi kampus.
Kesempatan datang ketika LPK SO Serbaindo membuka sosialisasi di kampusnya. Reza tertarik. Ia mendaftar, memulai dari nol, dan enam bulan kemudian mendapat job. Proses yang ia sebut sebagai “insyaallah cepat”.

Namun sebelum benar-benar terbang ke Jepang, Reza memilih mengasah kemampuan. Ia menjalani magang di Pesantren Lansia Raden Rahmat yang bekerja sama dengan LPK tersebut. Baginya, ini penting.

“Ranah kebidanan itu ibu, anak, dan balita. Lansia beda lagi. Jadi saya ke sini buat cari pengalaman dan skill, biar ada gambaran,” ujarnya.

Di pesantren itu, Reza belajar bahwa merawat lansia tak sesederhana teori di buku. Karakter para penghuni beragam. Ada yang masih mandiri, ada yang perlu bantuan sebagian, bahkan ada yang harus didampingi sepenuhnya. Ada yang mudah memahami instruksi, ada pula yang harus dibimbing perlahan.

“Kalau lebih sulit, menurut saya lebih sulit lansia,” katanya jujur.

“Lansia itu seperti bayi besar. Sudah dewasa, tapi kita harus memperlakukan dengan kesabaran seperti merawat bayi. Bedanya, bayi belum bisa bicara, sementara lansia kadang sulit mengungkapkan apa yang dirasakan,” lanjutnya.

 

Ia pernah mendampingi seorang lansia mukim yang memiliki riwayat penyakit, namun kerap tidak terbuka soal keluhan. “Kalau ditanya sakit apa, kadang tidak jujur atau tidak bisa menjelaskan. Jadi kita harus sabar, lihat rekam medisnya, perhatikan tanda-tandanya,” ungkapnya.

Di situlah ia merasa empati dan ketelatenan benar-benar diuji. Pengalaman ini menjadi bekal penting karena Reza dijadwalkan berangkat ke Jepang tahun ini. Ia akan ditempatkan di Prefektur Kyushu, wilayah bagian selatan Jepang, untuk bekerja di rumah lansia.

“Makanya saya ke sini, supaya aman dulu skill-nya,” ucapnya mantap.

Bagi Reza, semua itu adalah proses belajar tentang kemanusiaan. Dari ruang bersalin ke ruang perawatan lansia, ia menemukan makna baru tentang merawat. Jika dulu ia terbiasa menyambut kehidupan baru, kini ia belajar menemani senja kehidupan dengan kesabaran dan cinta.

“Yang penting sabar dan telaten,” katanya pelan.

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Lansia Raden Rahmat, Ahmad Winarno, menjelaskan lembaganya bersama LPK SO Serbaindo meluncurkan Pesantren Caregiver LSI-MU (Lembaga Serbaindo Medistra Utama) sebagai pusat pendidikan dan pelatihan pendamping lansia profesional berbasis nilai pesantren.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tren ageing population yang terus meningkat. Pada 2024, jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas secara nasional mencapai lebih dari 30 juta jiwa. Di Jawa Tengah, proporsinya sudah 13,9 persen. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan realitas sosial yang menghadirkan tantangan: penyakit degeneratif, kebutuhan perawatan jangka panjang, hingga persoalan kesepian atau loneliness.

“Kami mencoba menjawab tantangan ini dengan mengembangkan pendekatan holistik Bio–Sosio–Kulturo–Psiko–Spiritual. Lansia mendapat pemeriksaan kesehatan rutin, pendampingan sosial, pembinaan ibadah, hingga konseling psikologis. Layanannya terbagi dalam Residential Care—pendampingan 24 jam di lingkungan pesantren—dan Home Care untuk pendampingan di rumah,” paparnya.

Kurikulum caregiver di LSI-MU memadukan standar Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Kesehatan, serta kurikulum internal yang ditambah nilai keagamaan. “Di sini namanya merawat dengan cinta,” kata dia.

Para peserta tak hanya belajar keperawatan dasar dan manajemen penyakit kronis, tetapi juga membangun karakter dan empati. Sejak 2019 hingga awal 2026, lebih dari 1.000 alumni caregiver telah diluluskan dan sebagian diberangkatkan ke Jepang sebagai tenaga kaigo, menjawab krisis populasi menua di negeri itu. Tahun ini saja, rata-rata 50 orang diberangkatkan setiap bulan.

“Meski berlabel pesantren, layanan kami terbuka lintas agama. Sekitar 30 persen dari 850 lansia binaan adalah non-muslim. Bahkan di Jepang, kebutuhan caregiver dari latar belakang agama tertentu, termasuk Katolik, juga cukup tinggi,” bebernya.

Soal seleksi, untuk caregiver sebetulnya yang penting adalah lulusan SMA sederajat. Selain untuk pendidikan di sini selama 1 tahun, setelah bekerja di Jepang mereka diproyeksikan menempuh pendidikan lanjutan hingga S1.

“Kita sudah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi yang jurusannya linear yaitu Pendidikan Agama Islam. Kita juga sedang menjajaki jurusan bisnis di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Kemarin juga penjajakan ke Purwokerto, kemudian ke Pekalongan serta ke Bojonegoro,” tandasnya. (win)

BACA JUGA :

Mahasiswa KKN Tim II Undip 2026 mengembangkan potensi ekonomi dan pangan lokal di Desa Purworejo, Wonogiri, selama program pengabdian masyarakat. Sebanyak 10 mahasiswa mendampingi UMKM memanfaatkan Google Maps, QRIS, media sosial, dan website untuk pemasaran, sekaligus mengolah singkong dan ikan lele menjadi BoLeSi sebagai alternatif makanan tambahan bergizi bagi balita.
KKN Undip Dorong Transformasi Desa Purworejo Wonogiri melalui Inovasi Pangan dan Digitalisasi Sektor Ekonomi
Rencana pengembangan panas bumi Gunung Ungaran untuk PLTP masih dalam tahap kajian dan belum memasuki pelaksanaan, kata Pemkab Semarang, Kamis (20/8/2026). Pemerintah masih menunggu hasil penelitian potensi geothermal, sekaligus memastikan aspek lingkungan, keamanan, aktivitas warga, dan keberadaan Candi Gedongsongo tetap terlindungi.
Pengembangan Panas Bumi Gunung Ungaran untuk PLTP Bakal Dilanjut, Pemkab Semarang: Masih Tahap Kajian
Satpol PP Kota Salatiga mengedukasi dan mengajak pedagang kaki lima (PKL) bermotor yang berjualan di lingkar dalam Alun-alun Pancasila untuk pindah secara sukarela, Rabu (19/8/2026). Langkah tersebut dilakukan karena aktivitas berjualan dan parkir kendaraan di area tersebut dilarang, sekaligus untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan warga dengan pendekatan humanis.
Humanis! Cara Kabid Ketertiban Satpol PP Salatiga Rayu PKL agar Mau Pindah Sukarela
Artis nasional Anang Hermansyah dan Ashanty mengunjungi Kota Salatiga pada Selasa (18/8/2026) malam untuk menjajaki pemanfaatan sejumlah lokasi sebagai tempat pengambilan gambar film. Didampingi Wali Kota Salatiga Robby Hernawan, rombongan juga menikmati suasana kota sekaligus mengenal potensi budaya, kuliner, UMKM, dan ekonomi kreatif setempat.
Kenakan Blangkon Pecis dan Syal Motif Khas Salatiga, Artis Anang dan Ashanty Keliling Kota
Mahasiswa KKN-T IDBU 54 UNDIP menjalankan program pemberdayaan masyarakat selama 45 hari di Tanjung Anom, Kabupaten Pekalongan. Kegiatan tersebut meliputi pemanfaatan sampah plastik menjadi ecobrick, pengolahan bunga telang, digitalisasi Bank Sampah Bunga Tanjung Lestari, budidaya ikan nilem, edukasi kesehatan, serta sosialisasi keamanan digital untuk meningkatkan kemandirian dan potensi lokal warga.
45 Hari KKN-T IDBU 54 UNDIP: Dari Ecobrick hingga Digitalisasi Website BSU Tanjung Anom
PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah menggelar aktivasi kemerdekaan di tujuh SPBU di Jawa Tengah dan DIY pada Senin (17/8/2026) untuk memperingati HUT ke-81 RI. Melalui program Tebus Murah Paket Sembako, masyarakat dapat membeli paket senilai Rp150 ribu seharga Rp100 ribu, sementara hasil penjualan disalurkan sebagai donasi bagi korban gempa bumi di NTT.
Semarak Kemerdekaan di SPBU, Pertamina Libatkan Veteran hingga Komunitas Ojol

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

20 Agustus 2026
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Warga Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Argomulyo, Salatiga, menggelar tradisi merti dusun atau sedekah bumi di Sendang Gambir pada 19 Agustus. Kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus upaya merawat warisan leluhur, sumber mata air bersejarah, kesenian lokal, serta toleransi antarumat beragama melalui doa bersama dan pertunjukan budaya.
50 Tahun Lebih Warga Dusun Tetep Salatiga Gelar Ritual Tahunan Saparan
BRI Kantor Cabang Salatiga menanggapi dugaan penyalahgunaan dana sekitar Rp40 miliar yang diduga melibatkan oknum pekerja dengan menghormati proses hukum di Polres Salatiga. Pada Rabu (12/8/2026), BRI menyatakan telah memproses PHK terhadap pekerja yang diduga terlibat fraud serta memperkuat pengawasan internal untuk menjaga kepercayaan nasabah.
Tanggapi Pemberitaan Dugaan Fraud Rp 40 Miliar, BRI Cabang Salatiga Tegaskan Hormati Proses Hukum