URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
INSTIPER bersama CIRAD menggelar pelatihan smart agroforestry dalam program INDOKAKAO di Ungaran, 14–17 April 2026, untuk meningkatkan kualitas kakao dan menarik minat Gen Z. Pendekatan ini menggabungkan teknologi dan diversifikasi tanaman guna memperkuat ekonomi petani serta menjawab tantangan produktivitas dan mutu kakao nasional.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Gen Z Jadi Target Utama, INSTIPER Dorong Smart Agroforestry Tanaman Cokelat

Gen Z Jadi Target Utama, INSTIPER Dorong Smart Agroforestry Tanaman Cokelat

Gen Z Jadi Target Utama, INSTIPER Dorong Smart Agroforestry Tanaman Cokelat

Direktur PSLB INSTIPER, Agus Setyarso (kanan) bersama Regional Director CIRAD, Jean-Marc Roda, saat meninjau tanaman kakao di KP2 INSTIPER Ungaran, Desa Randugunting, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Rabu (15/4/2026). Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas kakao (cokelat) nasional kini mulai menyasar generasi muda, khususnya Generasi Z, melalui penerapan konsep smart agroforestry. Pendekatan ini dinilai menjadi kunci transformasi sektor kakao yang selama ini masih menghadapi berbagai tantangan di tingkat petani.

Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER bersama CIRAD, sebuah organisasi penelitian publik Perancis memperkenalkan konsep tersebut dalam pelatihan program INDOKAKAO yang digelar pada 14–17 April 2026 di KP2 INSTIPER Ungaran, Desa Randugunting, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari penyuluh, pendamping, hingga kelompok tani.

Direktur PSLB INSTIPER, Agus Setyarso, menjelaskan smart agroforestry merupakan sistem budidaya yang tidak hanya berfokus pada satu komoditas, tetapi mengintegrasikan kakao dengan tanaman lain untuk meningkatkan ketahanan ekonomi dan lingkungan.

“Smart agroforestry itu tidak bergantung pada satu komoditas saja. Kakao bisa dikombinasikan dengan kopi, karet, kelapa, hingga tanaman lainnya. Sistem ini saling mendukung dan memperkuat ekonomi petani,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (15/4/2026).

Menurut Agus, pendekatan ini juga dirancang agar mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Pasalnya, karakter Gen Z dinilai berbeda dengan generasi sebelumnya.

Ia menyebutkan, generasi muda saat ini cenderung menginginkan penghasilan yang fleksibel untuk memenuhi gaya hidup, seperti kebutuhan hiburan, perjalanan, hingga pembaruan perangkat digital. Selain itu, mereka juga sangat lekat dengan teknologi dan gadget.

“Ke depan, kami dorong agar gadget tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga menjadi alat untuk menghasilkan pendapatan. Misalnya dengan memanfaatkan teknologi digital untuk memantau produksi kakao, memprediksi panen, hingga akses pasar,” jelasnya.

Tak hanya itu, INSTIPER juga mendorong generasi muda memanfaatkan tren media sosial sebagai peluang ekonomi. Karakter Gen Z yang dekat dengan konten digital dinilai bisa menjadi pintu masuk untuk mengembangkan promosi produk pertanian.

“Generasi Z ini juga FOMO, jadi kita arahkan bagaimana kegiatan mereka bisa menjadi konten yang menarik dan bernilai ekonomi,” tambah Agus.

Dalam implementasinya, smart agroforestry didukung dengan pendekatan berbasis data dan teknologi, seperti pemetaan lahan, penggunaan barcode, hingga prediksi produksi berbasis digital.

“Harapan kami mampu meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas kakao agar memenuhi standar pasar global,” urainya.

Sementara itu, Regional Director CIRAD, Jean-Marc Roda, menekankan pentingnya peningkatan kualitas kakao Indonesia. Selama ini, menurutnya, petani masih lebih fokus pada kuantitas dibanding mutu.

“Indonesia memang masuk lima besar produsen kakao dunia, tetapi kualitasnya masih kalah dibanding Afrika Barat. Ini yang harus kita perbaiki agar nilai kakao meningkat dan pendapatan petani ikut naik,” paparnya.

Melalui program INDOKAKAO, kolaborasi Indonesia–Prancis ini diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi petani baru yang adaptif terhadap teknologi dan mampu mengelola usaha kakao secara berkelanjutan. (win)

BACA JUGA :

Pemkab Semarang meminta PT PLN menunda sementara kajian dan rencana eksplorasi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran, Jumat (4/9/2026). Bupati Semarang Ngesti Nugraha menyebut keputusan tersebut diambil untuk menjaga kondusivitas masyarakat di tengah kekhawatiran yang berkembang. Pemkab juga meminta PT Geo Dipa Energi meningkatkan komunikasi dan sosialisasi terkait kegiatan geothermal di Banyubiru.
Rencana Geothermal Gunung Ungaran Ditunda, Bupati Semarang Minta PLN Setop Kegiatan
Sebanyak 756 pekerja PT Sumber Graha Sejahtera (SGS) di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, terkena PHK akibat efisiensi perusahaan pada 2026. Disnaker Kabupaten Semarang menyebut keputusan tersebut telah disepakati melalui perjanjian bersama, sementara pembayaran pesangon rata-rata Rp30 juta per pekerja dilakukan bertahap selama 10 bulan karena tekanan industri perkayuan.
756 Pekerja di Kabupaten Semarang Kena PHK, Disnaker Kawal Pembayaran Pesangon
Sejumlah warga yang tergabung dalam Aliansi Semar Gugat menggelar aksi tanda tangan massal menolak rencana pengeboran geothermal Gunung Ungaran di Basecamp Kendalisodo, Desa Samban, Bawen, Kabupaten Semarang, Rabu (2/9/2026). Mereka meminta rencana tersebut dikaji serius karena khawatir aktivitas pengeboran berdampak terhadap lingkungan dan sumber air masyarakat.
Gelombang Penolakan Pengeboran Gunung Ungaran Mulai Muncul, Sejumlah Komunitas Galang Tanda Tangan Massal
Rencana pembangunan PLTP di kawasan Gunung Ungaran berpotensi berdampak pada sekitar 540 KK di Dusun Darum, Ngipik, dan Talun, Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang. Hingga Rabu (2/9/2026), pemerintah desa mengaku belum menerima informasi resmi maupun sosialisasi terkait proyek tersebut dan meminta keterbukaan kepada masyarakat.
Ratusan KK di Desa Candi Berpotensi Terdampak Geothermal Gunung Ungaran
Kota Salatiga meraih juara I kategori Akses Penduduk ke Layanan Pendidikan dalam Apresiasi Pemda Berprestasi Regional Jawa-Bali 2026 Batch II yang digelar Kemendagri pada 28 Agustus 2026. Atas capaian tersebut, Salatiga mendapat dukungan Rp2 miliar untuk memperkuat akses dan kualitas layanan pendidikan bagi masyarakat.
Bukan Kaleng-kaleng! Kota Salatiga raih Prestasi di Bidang Pendidikan
Rencana pengeboran panas bumi di kawasan Gunung Ungaran mulai membuat warga Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang, gelisah karena belum mendapat penjelasan langsung mengenai lokasi, mekanisme, dan dampaknya. Warga khawatir aktivitas tersebut memengaruhi sumber air dan pertanian, sementara pemerintah maupun pihak terkait belum melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada masyarakat.
Isu Pengeboran Gunung Ungaran Bikin Warga Candi Gelisah, Khawatir Sumber Air dan Pertanian Terdampak

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

WhatsApp Image 2026-08-30 at 22.25
Meriah! Peringatan HUT Paguyuban PKL Setia Kawan ke-24 di Pasaraya Salatiga
Arti Desil 1 sampai 10
Arti Desil 1 sampai 10
Tim Penilai Blackspot Therapy Polda Jawa Tengah melakukan survei dan penilaian Jalur Penyelamat di Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga, Selasa (1/9/2026), untuk memetakan potensi kerawanan kecelakaan. Tim memeriksa kondisi jalan, rambu, marka, fasilitas keselamatan, dan lingkungan sekitar sebagai dasar penyusunan rekomendasi penanganan.
Tim Polda Jateng Cek Jalur Penyelamat JLS Salatiga, Amati Situasi Lalin Penyebab Laka

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved