RASIKAFM.COM | SALATIGA – Semangat menghadirkan inovasi yang berdampak kembali mewarnai Gelar Inovasi Harmoni Nusantara (GIHN) 2026 di UKSW Salatiga.
Memasuki penyelenggaraan tahun keempat, GIHN resmi dibuka pada Kamis (10/9/2026) di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dengan mengusung tema “Lentera Harmoni: Inovasi Ramah Lingkungan dari Satya Wacana untuk Indonesia”.
Tema tersebut menjadi penegasan komitmen UKSW dalam mendorong lahirnya inovasi ramah lingkungan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Pembukaan GIHN 2026 diawali dengan penampilan Tari Kreasi oleh siswi SD Kristen Satya Wacana Salatiga.
Ketua Panitia GIHN 2026, Dr. Linda Ariany Mahastanti, menyampaikan, inovasi merupakan proses yang membutuhkan keberanian untuk mencoba dan belajar hingga menghasilkan karya yang mampu menjawab persoalan di masyarakat. Semangat tersebut tercermin melalui beragam karya dan prototipe yang dipamerkan oleh 15 fakultas UKSW.
“Produk inovasi tentunya harus berani mencoba. Produk inovasi tentunya juga harus berani belajar. Karena dengan mencoba dan belajar, kita bisa memahami bagaimana inovasi yang kita lakukan bisa menyelesaikan persoalan dan memberikan dampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Apresiasi terhadap penyelenggaraan GIHN 2026 disampaikan Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), Profesor Dr. Garuda Wiko. Menurutnya, tema yang diangkat relevan dengan tantangan pembangunan saat ini. “Inovasi bukan hanya menjadi sebuah keunggulan, tetapi juga merupakan bentuk nyata dalam menghadirkan solusi yang berguna bagi masyarakat,” tuturnya.
Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, menilai GIHN telah menjadi ruang penting dalam mendorong perkembangan inovasi. GIHN tidak sekadar menjadi pameran hasil riset maupun produk kewirausahaan, tetapi juga mempertemukan keunggulan akademik, semangat kewirausahaan, dan kolaborasi untuk mengubah berbagai gagasan menjadi aksi nyata.
Sejalan dengan semangat tersebut, Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami menekankan, inovasi dapat dimulai dari persoalan yang ditemukan di lingkungan sekitar.
Menurutnya, dampak tidak selalu harus dimulai dalam skala besar. Berbagai karya yang ditampilkan dalam GIHN 2026 menunjukkan bagaimana persoalan di sekitar dapat diolah menjadi peluang yang bernilai dan bermanfaat.
“Ketika di sekitar kita masih ada masalah, di situlah inovasi harus dihasilkan. Kita mengubah sampah menjadi berkah,” katanya.
Salah satu contoh inovasi berdampak yang dikembangkan UKSW hadir melalui Smart Urban Farming di Kampung Pancuran. Inovasi tersebut memanfaatkan ruang terbatas untuk menghasilkan sayuran yang kemudian diolah menjadi produk makanan bergizi bagi anak-anak di wilayah sekitar.
Praktik ini menunjukkan bahwa inovasi dapat hadir dari kebutuhan sederhana sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. “Berdampak tidak harus langsung dalam skala besar. Berdampak bisa kita mulai dari kampung yang ada di sekitar kita,” tutur Rektor.
Teras Rektor kembali hadir dalam GIHN tahun ini dengan membahas riset inovasi berdampak. Sesi ini menghadirkan Rektor Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Dr. Ing. Wiyatiningsih, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI, Profesor Aisyah Endah Palupi, serta Rektor Universitas Muhamadiyah Surakarta (UMS) yang hadir secara daring, dengan Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami sebagai moderator.
Hadir juga secara luring Rektor dari Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman (Undaris), Universitas Slamet Riyadi (Unisri), Universitas AKI (UNAKI), Universitas Mitra Husada serta Wakil Rektor 3 Universitas Semarang, dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yayasan Pharmasi.
Dalam sesi tersebut, Kepala LLDIKTI Wilayah VI menyampaikan pesan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengenai pentingnya memperkuat kolaborasi perguruan tinggi dalam menghasilkan riset dan inovasi yang berangkat dari persoalan nyata.
Kolaborasi dapat dibangun lintas perguruan tinggi dan disiplin ilmu dengan melibatkan pemerintah daerah, industri, maupun UMKM agar riset yang dilakukan semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Perguruan tinggi juga perlu menyiapkan jalur hilirisasi sejak awal serta mengukur keberlanjutan dan dampak inovasi, termasuk penerima manfaat, efisiensi energi dan biaya, pengurangan limbah, peningkatan pendapatan, hingga peluang terbentuknya usaha dan lapangan kerja baru.






