Provinsi Jawa Tengah mencatat deflasi sebesar 0,03 persen pada April 2026. Kondisi ini menunjukkan harga kebutuhan masyarakat relatif stabil setelah momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah.
Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, serta tarif angkutan antarkota. Normalisasi permintaan masyarakat usai Lebaran menjadi salah satu faktor utama penyebab deflasi.
Meski demikian, penurunan inflasi tertahan oleh kenaikan harga minyak goreng, tiket pesawat, telepon seluler, laptop, hingga nasi dengan lauk.
Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah tercatat 2,11 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibanding inflasi nasional yang mencapai 2,42 persen. Inflasi tahunan terutama dipicu kenaikan harga emas perhiasan, beras, minyak goreng, daging ayam ras, dan sigaret kretek mesin.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga, seperti bawang putih, bawang merah, cabai merah, kelapa, dan tarif angkutan antarkota.
Secara wilayah, beberapa daerah di Jawa Tengah mengalami deflasi bulanan, di antaranya Kabupaten Wonogiri, Wonosobo, Cilacap, Surakarta, Kota Tegal, Purwokerto, dan Rembang. Sementara inflasi bulanan terjadi di Kota Semarang dan Kudus.
Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Jawa Tengah akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan kebutuhan masyarakat.
Langkah pengendalian inflasi dilakukan melalui penguatan distribusi, menjaga ketersediaan barang, serta memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen.