Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali memperkuat posisinya sebagai destinasi investasi utama nasional melalui penyelenggaraan Central Java Investment and Business Forum (CJIBF) ke-10 di Kota Semarang.
Forum bisnis tahunan yang dipelopori oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah ini resmi dibuka oleh Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, didampingi Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Senin 11 Mei 2026.
Dalam forum tersebut, Jawa Tengah dinilai semakin siap menjadi pusat pertumbuhan industri dan investasi baru di Indonesia. Hal itu didukung infrastruktur yang terus berkembang, mulai dari jaringan jalan tol, kawasan industri, hingga konektivitas transportasi udara yang terintegrasi dengan berbagai wilayah strategis nasional.
Pengembangan kawasan industri di Jawa Tengah juga mulai diarahkan tidak hanya pada sektor padat karya seperti tekstil dan furnitur, tetapi bergerak menuju industri padat modal dan teknologi tinggi, termasuk kendaraan listrik dan industri logistik modern.
Salah satu sektor yang mulai dilirik adalah pengembangan kendaraan listrik untuk kebutuhan logistik dan industri. Jawa Tengah dinilai memiliki peluang besar menjadi bagian penting rantai pasok industri kendaraan listrik nasional karena memiliki kawasan industri yang terus berkembang serta dukungan ekosistem manufaktur yang memadai.
Dalam diskusi forum investasi tersebut juga mengemuka bahwa keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh regulasi dan infrastruktur, tetapi juga faktor kepercayaan atau trust antara pemerintah dan investor.
Pemerintah daerah dinilai perlu hadir langsung memberikan kepastian kepada investor terkait kemudahan perizinan, dukungan operasional, hingga penyelesaian hambatan di lapangan. Pendekatan personal kepada investor disebut menjadi salah satu faktor yang mampu mempercepat realisasi investasi di Jawa Tengah.
Selain itu, Jawa Tengah juga menonjolkan kekuatan kearifan lokal dan budaya gotong royong masyarakat sebagai modal sosial dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Karakter masyarakat yang terbuka dan kolaboratif dinilai menjadi nilai tambah bagi investor yang masuk ke daerah.
Di sisi lain, tantangan ke depan bukan lagi sekadar ketersediaan tenaga kerja, melainkan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu mengikuti kebutuhan industri modern dan teknologi tinggi. Karena itu, penguatan pendidikan vokasi, pelatihan kerja, dan sinergi dengan dunia industri terus didorong.
Di tengah perubahan ekonomi global dan pergeseran rantai pasok dunia, Jawa Tengah optimistis mampu memanfaatkan momentum untuk memperkuat ekspor, menarik relokasi industri, serta menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan investasi baru di Indonesia.