URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah limbah sayuran dan buah menjadi biogas untuk memasak serta pupuk organik cair. Inovasi berbasis pengelolaan sampah dan energi alternatif tersebut mengantarkan mereka meraih juara pertama Lomba Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jateng di tingkat nasional.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional

Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional

Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional

Seorang warga tengah memilah limbah rumah tangga berupa sisa sayuran sebelum dimasukkan ke dalam drum yang telah dimodifikasi untuk diubah menjadi biogas. Foto: IST
Seorang warga tengah memilah limbah rumah tangga berupa sisa sayuran sebelum dimasukkan ke dalam drum yang telah dimodifikasi untuk diubah menjadi biogas. Foto: IST
featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN — Limbah rumah tangga berupa sisa sayuran dan buah yang selama ini kerap berakhir menjadi sampah, disulap Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, menjadi sumber energi alternatif berupa biogas.

Inovasi tersebut mengantarkan Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan meraih juara pertama Lomba Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Atas capaian tersebut, mereka akan mewakili Jawa Tengah dalam lomba tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada awal September 2026.

Ketua Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Juari, mengatakan inovasi biogas dari limbah sayuran berangkat dari persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat di wilayah hulu Danau Rawa Pening.

“Karena kami di wilayah hulu Danau Rawa Pening, salah satu danau prioritas nasional, kami punya masalah dari kotoran sapi, limbah lainnya, terutama sampah rumah tangga yang selama ini belum terlalu tertangani,” ujarnya ditemui di gedung DPRD Kabupaten Semarang, Jumat (21/8/2026) sore.

Menurutnya, Karang Taruna kemudian mencoba mengembangkan pengolahan sampah organik rumah tangga, khususnya sisa sayuran dan buah, menjadi biogas menggunakan drum.
Inovasi tersebut tidak hanya menjadi solusi pengelolaan sampah, tetapi juga menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Biogas digunakan untuk kebutuhan memasak, sedangkan hasil pengolahannya juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair.

“Untuk pemanfaatannya, pertama untuk memasak, yang kedua untuk pupuk organik cair,” katanya.

Selain mengolah sampah organik rumah tangga, Karang Taruna Dharma Remaja juga memanfaatkan limbah kotoran sapi. Limbah tersebut diolah menjadi pupuk fermentasi, pupuk kascing, serta biogas melalui instalasi yang lebih permanen.

Juari menambahkan, pemanfaatan hasil inovasi tersebut saat ini belum diarahkan untuk komersialisasi. Karang Taruna justru menghibahkan sejumlah peralatan pengolahan kepada masyarakat, sekolah, maupun instansi.

“Alat-alatnya kami hibahkan ke masyarakat. Ke depan kami juga masuk ke sekolah-sekolah dan instansi. Ada beberapa yang sudah kami hibahkan,” jelasnya.

Keberhasilan mengembangkan biogas dari limbah sayuran tersebut kemudian menjadi salah satu inovasi yang dibawa dalam Lomba Karang Taruna Berprestasi tingkat Jawa Tengah. Selain menjadi solusi lingkungan, inovasi itu dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber energi alternatif berbasis masyarakat.

Ketua Karang Taruna Kabupaten Semarang, Lugud Endro Susilo, mengatakan prestasi Karang Taruna Dharma Remaja menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Semarang. Setelah meraih juara pertama tingkat Jawa Tengah, mereka kini bersiap membawa inovasi tersebut ke tingkat nasional.

“Alhamdulillah, dengan kegiatan Karang Taruna Berprestasi tingkat Provinsi Jawa Tengah memperoleh juara satu. Nanti awal September kami akan mewakili Jawa Tengah untuk tingkat nasional,” katanya.

Menurut Lugud, potensi energi dari pengolahan sampah tersebut masih dapat dikembangkan lebih luas sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Desa Manggihan.

Apresiasi juga disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Semarang Bondan Marutohening. Ia menilai inovasi biogas berbahan limbah sayuran yang dikembangkan Karang Taruna Dharma Remaja merupakan terobosan yang patut dikembangkan.

“Saya mengapresiasi dan berbangga dengan inovasi yang dilakukan Karang Taruna Desa Manggihan dan dibantu pemerintah desa. Harapannya menjadi pilot project bagi Karang Taruna di Kabupaten Semarang,” ujarnya.

Bondan menilai pemanfaatan limbah sayuran sebagai bahan baku biogas memiliki nilai strategis karena tidak hanya membantu mengurangi persoalan sampah, tetapi juga menghasilkan energi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Biogas yang mereka kembangkan dari limbah sayur ini merupakan inovasi yang baru, karena belum banyak yang mengembangkan. Harapannya terus berkembang agar semakin bermanfaat untuk masyarakat,” katanya. (win)

BACA JUGA :

Mahasiswa KKN Tim II Undip 2026 mengembangkan potensi ekonomi dan pangan lokal di Desa Purworejo, Wonogiri, selama program pengabdian masyarakat. Sebanyak 10 mahasiswa mendampingi UMKM memanfaatkan Google Maps, QRIS, media sosial, dan website untuk pemasaran, sekaligus mengolah singkong dan ikan lele menjadi BoLeSi sebagai alternatif makanan tambahan bergizi bagi balita.
KKN Undip Dorong Transformasi Desa Purworejo Wonogiri melalui Inovasi Pangan dan Digitalisasi Sektor Ekonomi
Rencana pengalihan status guru PPPK dari pemerintah daerah menjadi pegawai pemerintah pusat mulai 2027 mendapat perhatian Pemkab Semarang. BKPSDM Kabupaten Semarang menyatakan masih menunggu petunjuk teknis resmi pemerintah pusat, terutama terkait administrasi, pembiayaan, pembinaan, kewenangan, serta mekanisme pengelolaan ribuan guru PPPK dan PNS di daerah.
4.200 PPPK Guru di Kabupaten Semarang Berpotensi Diambil Alih Pusat, BKPSDM Tunggu Juknis
Rencana pengembangan panas bumi Gunung Ungaran untuk PLTP masih dalam tahap kajian dan belum memasuki pelaksanaan, kata Pemkab Semarang, Kamis (20/8/2026). Pemerintah masih menunggu hasil penelitian potensi geothermal, sekaligus memastikan aspek lingkungan, keamanan, aktivitas warga, dan keberadaan Candi Gedongsongo tetap terlindungi.
Pengembangan Panas Bumi Gunung Ungaran untuk PLTP Bakal Dilanjut, Pemkab Semarang: Masih Tahap Kajian
Satpol PP Kota Salatiga mengedukasi dan mengajak pedagang kaki lima (PKL) bermotor yang berjualan di lingkar dalam Alun-alun Pancasila untuk pindah secara sukarela, Rabu (19/8/2026). Langkah tersebut dilakukan karena aktivitas berjualan dan parkir kendaraan di area tersebut dilarang, sekaligus untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan warga dengan pendekatan humanis.
Humanis! Cara Kabid Ketertiban Satpol PP Salatiga Rayu PKL agar Mau Pindah Sukarela
Artis nasional Anang Hermansyah dan Ashanty mengunjungi Kota Salatiga pada Selasa (18/8/2026) malam untuk menjajaki pemanfaatan sejumlah lokasi sebagai tempat pengambilan gambar film. Didampingi Wali Kota Salatiga Robby Hernawan, rombongan juga menikmati suasana kota sekaligus mengenal potensi budaya, kuliner, UMKM, dan ekonomi kreatif setempat.
Kenakan Blangkon Pecis dan Syal Motif Khas Salatiga, Artis Anang dan Ashanty Keliling Kota
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Semarang telah menjangkau 697.318 warga atau sekitar 63 persen dari total sasaran hingga 13 Agustus 2026. Pemeriksaan yang berlangsung di 26 Puskesmas tersebut setara 116,6 persen dari target tahunan dan mencakup bayi, anak, remaja, dewasa, hingga lansia.
Lampaui Target, Cek Kesehatan Gratis di Kabupaten Semarang Jangkau 697 Ribu Warga

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

20 Agustus 2026
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Warga Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Argomulyo, Salatiga, menggelar tradisi merti dusun atau sedekah bumi di Sendang Gambir pada 19 Agustus. Kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus upaya merawat warisan leluhur, sumber mata air bersejarah, kesenian lokal, serta toleransi antarumat beragama melalui doa bersama dan pertunjukan budaya.
50 Tahun Lebih Warga Dusun Tetep Salatiga Gelar Ritual Tahunan Saparan
BRI Kantor Cabang Salatiga menanggapi dugaan penyalahgunaan dana sekitar Rp40 miliar yang diduga melibatkan oknum pekerja dengan menghormati proses hukum di Polres Salatiga. Pada Rabu (12/8/2026), BRI menyatakan telah memproses PHK terhadap pekerja yang diduga terlibat fraud serta memperkuat pengawasan internal untuk menjaga kepercayaan nasabah.
Tanggapi Pemberitaan Dugaan Fraud Rp 40 Miliar, BRI Cabang Salatiga Tegaskan Hormati Proses Hukum