URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Kota Semarang kini memiliki batik khas yang diluncurkan pada Hari Jadi ke-476 Kota Semarang. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu memilih motif batik yang khas Kota Semarang seperti burung kuntul, asem, warak ngendok, dan lainnya. Batik tersebut telah diresmikan dan dapat digunakan untuk berbagai kegiatan. Selain itu, rencananya akan didaftarkan sebagai hak kekayaan intelektual Kota Semarang.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Kota Semarang Resmi Memiliki Batik Khas dengan Motif Burung Kuntul, Asem, dan Warak Ngendok

Kota Semarang Resmi Memiliki Batik Khas dengan Motif Burung Kuntul, Asem, dan Warak Ngendok

Kota Semarang Resmi Memiliki Batik Khas dengan Motif Burung Kuntul, Asem, dan Warak Ngendok

Motif Batik Semarang
featured-img

Semarang – Saat ini Kota Semarang telah memiliki batik khas ibu kota Jawa Tengah. Pengenalan motif batik tersebut sekaligus diluncurkan saat puncak perayaan Hari Jadi ke-476 Kota Semarang, baru-baru ini.

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menjelaskan, dari dulu Kota Semarang belum memiliki motif batik khas Semarang. Selama ini, jika ada kegiatan pemerintahan, mayoritas memakai batik Semarang namun dengan motif yang berbeda.

“Kemarin, bersama dengan Pak Sekda, para Asisten, kami melihat lomba batik Semarangan yang digelar PDAM. Dari semua yang ada, kami ambil satu motif yang menjadi juara dan menjadi motif batik Semarangan,” jelasnya, Jumat (5/5/2023).

Suasana puncak perayaan Hari Jadi ke-476 Kota Semarang sekaligus peluncuran batik khas Semarangan di Balaikota Semarang, baru-baru ini.
Suasana puncak perayaan Hari Jadi ke-476 Kota Semarang sekaligus peluncuran batik khas Semarangan di Balaikota Semarang, baru-baru ini. (Foto:/IST)

Ita, sapaan akrab Hevearita G Rahayu pun tak sembarangan dalam menentukan motif yang diambil sebagai batik Semarangan. Dirinya memilih motif yang menunjukan khas Kota Semarang, misalnya ada burung kuntul, asem, warak ngendok, dan lainnya. Pemkot Semarang juga melakukan sedikit modifikasi motif batik dari sang juara lomba.

“Awalnya, burungnya gede, kami kecilkan. Ada tempat ibadahnya, kami sesuaikan, karena kurang pas. Ada burung kuntul, asem, warak ngendok, digabungkan semua tapi kelihatan menarik,” terang Ita.

Saat ini motif batik tersebut sudah jadi dan sudah diresmikan. Ita berharap, batik itu bisa digunakan untuk berbagai kegiatan. Menurutnya, batik tersebut multifungsi karena bisa dibuat sarung, baju, rok, atau yang lainnya.

“Motifnya memang kami buat untuk bisa dipakai model apapun,” pungkasnya.

Rencananya, Ita akan mendaftarkan model tersebut agar mengantongi hak kekayaan intelektual (Haki). Sehingga, menjadi hak Kota Semarang.

BACA JUGA :

Ribuan warga dan wisatawan memadati Alun-alun Salatiga, Jumat (24/7/2026), untuk mengikuti Kenduri Rakyat dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-1276 Kota Salatiga. DPRD Kota Salatiga menyediakan 7.000 porsi makanan dan minuman gratis serta satu gunungan raksasa sebagai wujud rasa syukur dan kebersamaan. Antusiasme masyarakat membuat ratusan stan kuliner habis diserbu hanya dalam hitungan menit
Ribuan Warga Salatiga Berebut 7.000 Porsi Makanan Gratis dalam Acara Kenduri Rakyat HUT Salatiga
Rumah pasangan lansia Muhroji (73) dan Munarti (65) di Dusun Pledokan, Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, akhirnya mendapat sambungan listrik pada Kamis (23/7/2026) setelah sekitar 20 tahun hidup tanpa aliran listrik. Penyambungan dilakukan menyusul koordinasi Pemerintah Kabupaten Semarang, Pemerintah Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono, dan PLN, sehingga keluarga tersebut kini dapat menikmati penerangan listrik untuk kebutuhan sehari-hari dan mendukung proses belajar anak mereka.
Rumah Muhroji Sudah Terang Benderang, Buku Pelajaran Sang Anak Tak Lagi 'Belepotan' Minyak Goreng
WhatsApp Image 2026-07-23 at 15.54
Kejati Jateng dan Kejari Salatiga Lelang Barang Rampasan, Awan Prastyo Imbau Masyarakat Waspadai Penipuan
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah dan Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok menggelar pertemuan strategis di Semarang untuk memperkuat kerja sama pendidikan, kebudayaan, dan hubungan persahabatan Indonesia–Tiongkok. Pertemuan yang dihadiri Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah Gus Rozin beserta sejumlah pimpinan perguruan tinggi membahas penyediaan pengajar Bahasa Mandarin, peluang beasiswa, kemudahan visa, serta pengembangan jejaring akademik sebagai upaya meningkatkan kolaborasi antar kedua negara.
PWNU Jawa Tengah Perkuat Kerja Sama Strategis dengan Konsulat Jenderal Tiongkok, Fokus pada Pendidikan, Beasiswa, dan Hubungan Bilateral
WhatsApp Image 2026-07-23 at 15.22
Songsong Hari Jadi, Lintas Iman Satukan Doa untuk Salatiga
Sebanyak 1.759 anak PAUD dan TK se-Kota Salatiga memecahkan Rekor LEPRID melalui pertunjukan drama dan medley lagu dolanan anak dalam peringatan Hari Anak Nasional di Salatiga. Rekor tersebut diraih karena menjadi penampilan medley lagu dolanan anak dengan peserta PAUD/TK terbanyak. Selain itu, peserta membentuk formasi angka 1276 sebagai simbol Hari Jadi Kota Salatiga, dilanjutkan penanaman pohon tabebuya dan penyerahan bibit anggrek sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Hari Anak, Ribuan Anak PAUD Tampilkan Drama dan Medley Lagu Dolanan, Catatkan Rekor LEPRID

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Salatiga Jadi Panggung Raja-Raja Nusantara dan Dunia, 100 Lebih Kerajaan Siap Berkumpul Juli 2026
Salatiga Jadi Panggung Raja-Raja Nusantara dan Dunia, 100 Lebih Kerajaan Siap Berkumpul Juli 2026
WhatsApp Image 2026-07-23 at 15.22
Songsong Hari Jadi, Lintas Iman Satukan Doa untuk Salatiga
Desa Nyatnyono, yang terletak di lereng puncak Suroloyo di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, dikenal sebagai destinasi wisata religi yang menarik. Di sini, terdapat makam waliyullah Hasan Munadi dan putranya, Hasan Dipuro, yang menjadi pusat perhatian masyarakat sebagai leluhur dan penyebar agama Islam. Selain makam, desa ini juga memiliki peninggalan sejarah berupa Masjid Subulussalam dan Sendang Kalimah Toyyibah yang dihormati oleh warga setempat.
Melihat Sejarah Sendang Kalimah Toyyibah Nyatnyono, Mata Air Keramat Peninggalan Waliyullah Hasan Munadi