RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

KABAR RASIKA

Satu Keluarga Asal Banyubiru Ditemukan Tewas Saat Camping di Wisata Posong Temanggung

Satu Keluarga Asal Banyubiru Ditemukan Tewas Saat Camping di Wisata Posong Temanggung

Satu Keluarga Asal Banyubiru Ditemukan Tewas Saat Camping di Wisata Posong Temanggung

Pelayat memadati rumah duka milik salah satu keluarga di Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang yang ditemukan tewas saat camping di Wisata Posong, Temanggung, Kamis (28/5/2026). Foto: IST

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Suasana duka menyelimuti rumah keluarga Muhamad Ali Munawar (52) di Dusun Bendosari RT 04 RW 08, Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Kamis (28/5/2026). Warga, kerabat, hingga teman korban silih berganti datang melayat setelah tersiar kabar satu keluarga meninggal di kawasan wisata Posong, Kabupaten Temanggung.

Karangan bunga berjajar di depan rumah duka. Sejumlah pelayat tampak terdiam dan saling berpelukan menahan duka setelah mengetahui Muhamad Ali Munawar bersama istri dan dua anaknya ditemukan meninggal dunia di dalam tenda camping Glamping Safari Nomor 3 Taman Wisata Alam Posong, Desa Tlahap, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.

Empat korban masing-masing Muhamad Ali Munawar (52), Maghfirah (43), Bagas Amar Hakiki (21), dan Alvino Evan Hakim (16). Keluarga diketahui sehari-hari tinggal di kawasan Temenggungan, Ambarawa. Muhamad Ali dan istrinya berprofesi sebagai pedagang di Pasar Lanang Ambarawa. Sementara rumah keluarga dan kebun anggur berada di Dusun Bendosari, Desa Kebumen, Banyubiru.

Adik sepupu korban, Muhamad Khoerudin (50), mengatakan keluarga menerima kabar duka pada Rabu (27/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIB dari salah satu saudara yang berada di Temanggung.

“Baik orangnya, suka menyapa. Saya juga tidak tahu kalau sedang pergi ke Temanggung. Rumahnya di sini Bendosari, tapi tinggalnya di Temenggungan, Ambarawa,” ujarnya.

Khoerudin mengaku hingga kini pihak keluarga belum mengetahui secara pasti penyebab kematian empat anggota keluarganya tersebut. Namun, dari informasi awal yang diterima keluarga, korban diduga mengalami keracunan.

“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari rumah sakit dan kepolisian,” katanya.

Hal senada disampaikan adik kandung Maghfirah, Ashadi (51). Ia menyebut dugaan keracunan baru diketahui setelah salah satu anggota keluarga datang ke lokasi kejadian di Temanggung.

“Keluarga datang ke sana katanya keracunan. Tapi keracunan apa belum tahu,” tambahnya.

Sementara itu, berdasarkan laporan Satreskrim Polres Temanggung, empat korban ditemukan meninggal dunia di dalam Tenda Camping Glamping Safari Nomor 3 Taman Wisata Alam Posong pada Rabu (27/5/2026) sekitar pukul 15.45 WIB.

Kapolres Temanggung dalam laporannya menjelaskan, rombongan korban datang ke lokasi wisata pada Selasa (26/5/2026) sekitar pukul 21.05 WIB menggunakan satu unit mobil Honda Jazz RS warna putih bernomor polisi H-1609-PT. Mereka kemudian diantar menuju tenda camping sekitar pukul 21.30 WIB.

Keesokan harinya, petugas glamping sempat mengantarkan sarapan sekitar pukul 09.00 WIB, namun tidak ada jawaban dari dalam tenda. Petugas kembali mendatangi tenda sekitar pukul 11.30 WIB untuk membersihkan area menjelang waktu check out, tetapi tetap tidak mendapat respons.

Hingga akhirnya sekitar pukul 15.45 WIB, salah satu saksi membuka tenda dan mendapati empat orang di dalamnya sudah dalam kondisi meninggal dunia. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada petugas lainnya dan diteruskan ke kepolisian.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), kondisi tenda diketahui masih rapi dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Polisi juga mencatat kondisi tangan keempat korban dalam posisi menggenggam.

Tim Inafis Polres Temanggung bersama tim medis Puskesmas Kledung menduga sementara korban meninggal akibat keracunan. Dugaan itu diperkuat dengan ditemukannya ciri-ciri mulut berbusa dan kondisi hipotermia pada korban.

Saat ini kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan berkoordinasi bersama Bidokkes dan Laboratorium Forensik bagian kimia serta biologi untuk memastikan penyebab pasti kematian korban. Polisi juga masih memeriksa sejumlah saksi terkait peristiwa tersebut.

Informasi yang diterima keluarga, keempat jenazah akan dibawa ke rumah duka di Dusun Bendosari, Desa Kebumen, Banyubiru, setelah proses autopsi selesai dilakukan. (win)

BACA JUGA :

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau belum terdeteksi mencapai permukaan Jawa Tengah berdasarkan pemantauan dan uji paper test di sejumlah wilayah, termasuk Semarang, Tegal, dan Cilacap. Pemprov Jateng, BPBD, BMKG, dan Dinkes meminta masyarakat tetap waspada tanpa panik, terutama terhadap paparan PM2,5 dan debu selama musim kemarau yang dapat memicu gangguan pernapasan.
Imbas GAK, Pemkot Semarang Minta Warga tidak Panik
Keluarga Mozza Axillia Gunarsa (18), remaja asal Bergas, Kabupaten Semarang, meyakini jasad yang ditemukan merupakan putrinya setelah mengenali pakaian, jepit rambut, rambut ikal, dan ciri gigi korban. Senin (7/9/2026), ayah Mozza meminta proses hukum terhadap tersangka berjalan transparan dan pelaku dihukum berat. Hasil pemeriksaan DNA masih ditunggu keluarga.
Ayah Mozza Minta Pelaku Dihukum Berat, Keluarga Menduga Ada Motif Pembunuhan Berencana
BALAP-LIAR
Balap Liar dan Knalpot Brong Makin Meresahkan, Satlantas Polres Salatiga amankan 75 Motor
Penerbangan Ditutup Imbas Abu Vulkanik Krakatau, KAI Operasikan Kereta Api Tambahan Tujuan Jakarta
Penerbangan Ditutup Imbas Abu Vulkanik Krakatau, KAI Operasikan Kereta Api Tambahan Tujuan Jakarta
Kerangka Manusia Ditemukan di Jangli Semarang, Diduga Remaja Asal Bergas yang Hilang Setahun Lalu
Jejak Perangkat Elektronik Antar Polisi Ungkap Kasus Hilangnya Mozza, Terduga Pelaku Pembunuhan Ditangkap di Blora
Identitas kerangka manusia yang ditemukan di kawasan Jangli, Semarang, mulai mengerucut pada Mozza Axillia Gunarsa (18), remaja asal Gebugan, Bergas, yang dilaporkan hilang sejak Juni 2025. Keluarga mengenali sejumlah ciri, seperti gigi lengkap, gingsul, tambalan gigi, dan jepit rambut. Polisi masih menunggu pemeriksaan forensik dan pencocokan DNA.
Gingsul, Tambalan Gigi hingga Jepit Rambut: Ciri Kerangka Jangli Mengarah ke Mozza

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Keluarga Mozza Axillia Gunarsa (18), remaja asal Bergas, Kabupaten Semarang, meyakini jasad yang ditemukan merupakan putrinya setelah mengenali pakaian, jepit rambut, rambut ikal, dan ciri gigi korban. Senin (7/9/2026), ayah Mozza meminta proses hukum terhadap tersangka berjalan transparan dan pelaku dihukum berat. Hasil pemeriksaan DNA masih ditunggu keluarga.
Ayah Mozza Minta Pelaku Dihukum Berat, Keluarga Menduga Ada Motif Pembunuhan Berencana
Warga Dusun Kropoh, Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan terkubur di kebun pada Kamis (3/9/2026) sore. Bayi ditemukan Gendro Susanto saat mencari rumput setelah melihat gundukan tanah baru. Polisi kemudian mengamankan lokasi dan melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi serta pihak yang bertanggung jawab.
Curiga Gundukan Tanah Baru, Warga Bandungan Temukan Bayi Terkubur dan Terbungkus Daster
Lapas Kelas IIB Purwodadi bersama Dinas Pertanian memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan melalui Program Sekolah Tani. Pada tahap ketiga, warga binaan mempelajari budidaya bayam, kangkung, dan pisang Raja Bulu melalui teori serta praktik langsung di lahan Lapas Purwodadi. Program ini dilakukan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan pertanian produktif sebelum kembali ke masyarakat.
Program Integrated Farming, Lapas Purwodadi Gelar Sekolah Tani