RASIKAFM.COM | UNGARAN – Panen jagung serentak digelar di Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Kamis (8/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari program ketahanan pangan Polres Semarang yang melibatkan kelompok tani di berbagai kecamatan.
Kapolres Semarang AKBP Ratna Quratul Ainy mengatakan, sepanjang tahun 2025 panen jagung dilaksanakan secara berkelanjutan dalam empat kuartal atau empat kali panen dalam setahun.
“Untuk tahun 2025 ini, kita melaksanakan panen jagung dalam empat kuartal. Total jagung yang sudah kita setorkan ke Bulog mencapai 45,94 ton,” ujarnya.
Ia berharap pada tahun 2026 produktivitas jagung di Kabupaten Semarang dapat terus ditingkatkan, baik dari sisi hasil panen maupun luasan tanam.
“Harapannya di tahun 2026 ini kita tingkatkan terus, termasuk penambahan luasan lahan jagung,” katanya.
Dalam mendukung produktivitas, Polres Semarang juga mengembangkan benih jagung lokal yang diberi nama Serasi 38. Benih tersebut telah diuji coba di tiga lokasi, yakni Candisari Kecamatan Tuntang, Desa Pagersari Kecamatan Bergas, dan Desa Jatirunggo Kecamatan Pringapus.
“Kita sudah membuat benih jagung lokal Serasi 38. Hasil uji coba di tiga lokasi cukup baik, dengan rata-rata hasil mencapai 10 ton per hektare dengan perawatan maksimal. Harapannya ini bisa menjadi pilot project penanaman jagung di tempat lain,” jelasnya.
Program ini melibatkan pemberdayaan kelompok tani di masing-masing kecamatan. Setiap wilayah memiliki kelompok tani binaan yang bekerja sama langsung dengan Polri dalam penanaman hingga pemasaran hasil panen.
“Kita libatkan kelompok tani di masing-masing kecamatan. Menanam jagung bersama Polri, dan hasilnya kita maksimalkan untuk disetorkan ke Bulog,” imbuhnya.
Saat ini, lahan jagung binaan Polri tersebar di beberapa wilayah seperti Bergas dan Pringapus, termasuk pemanfaatan lahan baku sawah yang sebelumnya terdampak musim kemarau. Total luasan lahan binaan tersebut mencapai hampir 690 hektare. Untuk tahun 2026, Polres Semarang juga menargetkan penambahan luas tanam di kawasan hutan sosial melalui kerja sama dengan Perhutani.
“Kita akan fokus ke lingkungan hutan sosial, memanfaatkan lahan-lahan yang selama ini kurang produktif dengan menggandeng kelompok tani,” ungkapnya.
Terkait pemanfaatan eceng gondok sebagai pupuk, pihaknya mengakui masih dalam tahap kajian.
“Kami belum menemukan formula yang tepat. Namun, kami akan belajar dari Provinsi Sumatera Selatan, di mana Polair mereka sudah bisa mengolah eceng gondok menjadi pupuk. Kabupaten Semarang memiliki potensi besar eceng gondok di Rawa Pening,” katanya.
Sementara itu, Heni (57), petani jagung asal Dusun Getaskumbang, Desa Jatirunggo, mengaku hasil panennya meningkat sejak mendapat pendampingan dari Polri.
“Hasil panen sekarang lebih bagus. Apalagi bisa setor langsung ke Bulog, jadi lebih menguntungkan,” ujarnya.
Ia juga menilai harga jagung menjadi lebih baik bagi petani desa.
“Dari segi harga juga lebih tinggi, terutama untuk kami yang di desa-desa,” pungkasnya. (win)