KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Dianggap Arogansi, Relawan Donor dan Karyawan Minta Pimpinan PMI Semarang Mengundurkan Diri

Dianggap Arogansi, Relawan Donor dan Karyawan Minta Pimpinan PMI Semarang Mengundurkan Diri

Dianggap Arogansi, Relawan Donor dan Karyawan Minta Pimpinan PMI Semarang Mengundurkan Diri

RASIKAFM.COM | SEMARANG – Relawan Donor Darah dan Karyawan meminta Pimpinan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang untuk mengundurkan diri. Hal itu karena Pimpinan PMI Kota Semarang dianggap memiliki sifat yang arogansi atau semena-mena.

Bahkan, ratusan relawan juga membuat surat pernyataan sikap. Mereka mengeluhkan banyak kebijakan pimpinan PMI yang merugikan anggota PMI Kota Semarang.

Dalam surat yang diterima, relawan sangat kecewa karena pimpinan PMI Kota Semarang menghilangkan fasilitas untuk para pedonor. Fasilitas pemeriksaan kesehatan bagi sukarelawan juga dikurangi.

Tak hanya itu, sekarang sertifikat pendonor darah didigitalkan dan dikirim melalui aplikasi Whatsap. Pertemuan atau gathering yang rutin dilakukan sekali setahun juga ditiadakan.

Yoga, salah satu sukarelawan yang turut menandatangi surat tersebut mengaku kecewa dengan kebijakan baru di bawah kepemimpinan Ketua PMI Kota Semarang saat ini.

“Sekarang souvenir seperti mug, kaos, kalender itu dihilangkan. Fasilitas kesehatan juga dihilangkan padahal dulu ada fasilitas kesehatan khusus untuk pendonor. Mulai ada masalah sejak kepimpinan yang baru, kalau yang dulu tidak ada masalah,” ujar Yoga saat dikonfirmasi.

Ia juga mempertanyakan, mengapa PMI justru mengundang artis ibukota Yuni Shara dengan budget yang fantastis. Sementara fasilitas bagi pendonor yang biasanya sudah diperintungkan malah dikurangi.

“Malah buat acara besar ngundang artis denger-denger habis ratusan juta. Untuk ngundang Yuni Shara aja bisa, jadi perbandingannya dengan itu Yuni Shara,” katanya.

Tak hanya itu, relawan juga mendapat sikap yang tak enak saat mempertanyakan keresahan mereka kepada pimpinan. “Ketika para relawan bertanya kenapa sudah tidak ada lagi fasilitas yang ada. Kemudian dijawab dengan kalimat yang tidak pas, seperti meremehkan relawan. Malah dijawab ‘Anda sudah urun (nyumbang) berapa ke PMI, saya sudah nyumbang Rp 10 juta, berapa sih harga kalender saya ikut urun Rp 10 juta, kalian urun berapa,” kata Yoga menirukan jawaban pimpinan PMI Kota Semarang.

“Kaos itu tuh harga berapa sih, tapi bagi relawan ini bentuk penghargaan. Ketika saya di jalan ada orang pakai kaos yang sama, saya merasa punya keluarga. Kaos yang harganya tidak sampai ratusan juta itu juga bisa menarik orang untuk donasi darah. Kok malah dihilangkan,” imbuh Yoga.

Ia berharap segera ada titik terang dari masalah ini. Yoga khawatir arogansi pimpinan PMI itu justru merusak hubungan yang sudah lama terjalin.

“Kami minta beliau (Ketua PMI Kota Semarang) minta maaf, dan mengundurkan diri. Fasilitas-fasilitas itu juga dikembalikan lagi,” kata Yoga.

Terpisah, Komite Etik PMI Kota Semarang buka suara soal kisruh yang terjadi antara sukarelawan donor darah dengan pimpinan PMI. Relawan sebelumnya menuntut agar Ketua PMI mundur dari jabatannya.

Anggota Komite Etik PMI Kota Semarang, Wiwit Rejanto mengatakan, pihaknya telah menerima surat pernyataan sikap yang dibuat relawan. Rapat pleno juga akan segera digelar.

“Iya (laporan sudah diterima), komite etik juga dapat tembusan dari relawan, karena tembusannya banyak, dari ranting dari pusat, provinsi, wali kota. Tanggal 27 Desember 2022 besok akan ada rapat pleno membahas ini,” terangnya.

Ia melanjutkan, rencananya kedua belah pihak yakni relawan dan pimpinan PMI Kota Semarang juga akan dipanggil dalam rapat pleno. Keduanya akan dimintai klarifikasi terkait permasalahan yang sedang terjadi.

“Nanti dari komite etik akan panggil juga (relawan) kita pengin tahu peristiwanya, kita akan kaji karena ini sudah sampai pusat. Terus terang kalau sudah sampai pusat pasti kirimkan delegasi,” paparnya.

Meski demikian, Wiwit yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Anggota dan Relawan PMI Kota Semarang enggan berbicara lebih jauh terkait konflik yang terjadi antara Pendonor dan Karyawan dengan Pimpinan PMI Kota Semarang.

“Saya enggak mau bicara banyak sebagai pengurus karena ini belum pleno,” imbuhnya.

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Jateng Guyub menggelar aksi penolakan rencana pembangunan geothermal di kawasan Gunung Ungaran dan Gunung Lawu sejak Selasa (22/9/2026). Gerakan yang disebut menghimpun elemen masyarakat dari 28 kabupaten/kota di Jawa Tengah itu dilakukan dengan berjalan kaki menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah karena kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan kehidupan generasi mendatang.
Massa Gelar Aksi Longmarch Gedong Songo-Kantor Gubernur Jateng, Suarakan Penolakan Geothermal
[pekok2]