[audio_player]
[posts_like_dislike]
Dua Mahasiswa UKSW dan seorang Laboran Fakultas Sains dan Matematika berhasil membuat alat pengusir burung menggunakan panel Surya.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Dua Mahasiswa UKSW Ciptakan Alat Pengusir Burung, Dengan Teknologi Panel Surya

Dua Mahasiswa UKSW Ciptakan Alat Pengusir Burung, Dengan Teknologi Panel Surya

Dua Mahasiswa UKSW Ciptakan Alat Pengusir Burung, Dengan Teknologi Panel Surya

Mahasiswa UKSW saat memperagakan alat pengusir burung dengan teknologi panel (Poto dok ist)
Mahasiswa UKSW saat memperagakan alat pengusir burung dengan teknologi panel (Poto dok ist)

Dua Mahasiswa UKSW dan seorang Laboran Fakultas Sains dan Matematika berhasil membuat alat pengusir burung menggunakan panel Surya. Mereka adalah Yosua Aditya Wartanto mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Sains dan Matematika (FSM) , Fisya Tari Mindarningtyas mahasiswa Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Matematika, dan

Tri Sunarno S.Si Laboran Fakultas Sains dan Matematika. Menjelaskan jika Alat yang mereka ciptakan diberi nama Nggusah. Sesuai dengan fungsinya yaitu nggusah (mengusir) burung.

Anggota tim pembuat alat Nggusah, Yosua Aditya Wartanto mengaku ide awal pembuatan alat pengusir burung tersebut karena melihat sampai saat ini petani mengusir hama burung masih manual. Padahal riset yang ia dan timnya lakukan burung termasuk hama petani yang cukup sering dan dampaknya cukup siginifikan. Sehingga terciptalah alat tersebut menggunakan tenaga surya.

“Alat pengusir burung menggunakan panel Surya sehingga bisa otomatis,” ungkap Yosua kepada wartawan .

Ia menjelaskan dengan menggunakan alat Nggusah petani tidak perlu repot lagi untuk mengusir hama burung. Sebab selain menggunakan energi matahari, alat tersebut juga bisa berjalan secara otomatis. Secara prinsip sistem kerjanya sama dengan alat pengusir burung manual. Ada tali, kaleng yang diisi batu, dan rumbai-rumbai. Bedanya adalah alat berbentuk kotak itulah yang menggerakkan tali tersebut.

BACA JUGA :

Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW melalui program KKN mendampingi 25 warga Dusun Sengon, Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah bio-slurry dan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik cair, pupuk organik padat, serta MOL. Kegiatan selama sebulan ini mendorong pemanfaatan bahan lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
KKN UKSW di Desa Manggihan, Mahasiswa Olah Limbah Biogas jadi Pupuk Organik
Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga kembali menggelar Gelar Inovasi Harmoni Nusantara (GIHN) 2026 di Balairung UKSW, Kamis (10/9/2026). Mengusung tema “Lentera Harmoni”, kegiatan tahun keempat ini menampilkan inovasi ramah lingkungan dari 15 fakultas. GIHN juga mendorong kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan UMKM agar riset menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
GIHN 2026 UKSW, Ubah Inovasi Ramah Lingkungan Menjadi Dampak Nyata bagi Masyarakat
Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia
Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia
Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mengikuti East Asia Student Encounter (EASE) 2026 di Kwansei Gakuin University, Jepang, selama 18 hari hingga 18 Agustus 2026. Program bertema Manifest the Dream: Our Journey Toward Peace in a Divided World ini memperkuat pertukaran budaya, jejaring internasional, dan pendidikan perdamaian melalui berbagai kegiatan akademik, budaya, serta diskusi lintas negara.
15 Mahasiswa UKSW Ikuti EASE 2026 di Jepang, Rayakan Misi Perdamaian Dunia
Muat Lebih

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT) menjadi salah satu upaya memperkuat mitigasi bencana di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga. Hal itu dibahas dalam Forum Konsultasi Publik di Hotel Aston Semarang, Senin (28/9/2026), untuk menyamakan pemahaman serta mendorong pemanfaatan data dalam perencanaan pembangunan dan kesiapsiagaan masyarakat.
Peta Zona Gerakan Tanah Kabupaten Semarang-Salatiga Dibahas, Mitigasi Jadi Perhatian
Seorang siswa kelas 4 SD Hj Isriati Moenadi, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, berinisial R diduga menjadi korban perundungan oleh teman sekelas pada Rabu (23/9/2026). R mengalami sejumlah memar, luka di belakang telinga, bibir pecah, serta trauma setelah kejadian. Pihak sekolah mengaku telah memberikan konsekuensi kepada siswa yang terlibat dan menyiapkan pembinaan serta upaya pemulihan kondisi psikologis korban.
Diduga Jadi Korban Perundungan Berulang, Siswa SD Hj Isriati Moenadi Ungaran Alami Luka hingga Trauma
Relokasi Makam Wonokendeng di Lingkungan Lonjong, Ngampin, Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang terdampak pembangunan Tol Jogja-Bawen masih menunggu tindak lanjut Pemkab Semarang. Warga telah memilih lahan pengganti sekitar 5.000 meter persegi, tetapi proses pembelian belum berjalan. Kepastian dibutuhkan karena makam lama masih digunakan dan menampung sekitar 550 makam.
Makam Wonokendeng Terdampak Tol Jogja-Bawen, Warga Sudah Pilih Lahan Baru tapi Relokasi Belum Jelas
Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
[pekok2]