URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan arus informasi, pesantren tetap bertahan sebagai lembaga pendidikan yang membentuk karakter, akhlak, dan spiritualitas santri. Tradisi mondok dinilai mampu menjaga nilai kebersamaan, kesabaran, serta kedalaman ilmu di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Pesantren di Era Digital: Menjaga Akar Peradaban di Tengah Arus Perubahan Zaman

Pesantren di Era Digital: Menjaga Akar Peradaban di Tengah Arus Perubahan Zaman

Pesantren di Era Digital: Menjaga Akar Peradaban di Tengah Arus Perubahan Zaman

featured-img

Semarang – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan derasnya arus informasi, ada satu tradisi pendidikan yang tetap bertahan dan terus relevan hingga hari ini: pesantren. Lembaga pendidikan Islam yang telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka ini tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, akhlak, dan cara hidup.

Kata “mondok” mungkin terdengar sederhana, bahkan bagi sebagian generasi muda terkesan kuno. Namun dari tradisi mondok inilah lahir banyak tokoh bangsa, ulama, pemimpin masyarakat, hingga intelektual yang memberi kontribusi besar bagi perjalanan Indonesia.

Pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara. Sejarah mencatat, sistem pendidikan ini berkembang sejak penyebaran Islam di Indonesia pada abad ke-15 dan ke-16. Berawal dari seorang kiai yang mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar, kemudian para murid tinggal bersama untuk belajar secara lebih intensif. Dari pola sederhana itulah lahir sistem pendidikan yang mampu bertahan selama berabad-abad.

Menurut berbagai kajian pendidikan Islam, kekuatan utama pesantren bukan terletak pada bangunan atau fasilitasnya, melainkan pada hubungan erat antara kiai dan santri. Relasi tersebut melampaui hubungan guru dan murid pada umumnya. Kiai tidak hanya mengajar ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

“Di pesantren, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Seluruh aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari proses pembelajaran,” ujar sejumlah pengamat pendidikan Islam dalam berbagai kajian mengenai pesantren.

Kehidupan Sebagai Kurikulum

Berbeda dengan pendidikan formal yang memiliki jam belajar tertentu, kehidupan di pesantren berlangsung selama 24 jam. Santri menjalani rutinitas mulai dari bangun sebelum subuh, mengaji, belajar, bekerja bakti, beribadah berjamaah, hingga kembali beristirahat.

Dalam kehidupan seperti itu, nilai-nilai seperti disiplin, kesederhanaan, tanggung jawab, dan kebersamaan tumbuh secara alami.

Seorang santri belajar hidup bersama puluhan bahkan ratusan teman dari berbagai daerah dan latar belakang. Mereka berbagi ruang, berbagi makanan, berbagi waktu, dan saling membantu dalam kehidupan sehari-hari.

Di saat modernitas cenderung mendorong individualisme dan kenyamanan pribadi, pesantren justru mengajarkan pentingnya hidup dalam kebersamaan. Nilai ini menjadi semakin penting di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi secara digital namun sering kali semakin jauh secara sosial.

Tradisi Ilmu yang Mengajarkan Kesabaran

Salah satu ciri khas pesantren adalah tradisi pembelajaran kitab kuning, yaitu kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang menjadi rujukan utama dalam kajian keislaman.

Metode pembelajarannya pun memiliki kekhasan tersendiri, seperti sorogan dan bandongan.

Dalam metode sorogan, santri membaca kitab secara langsung di hadapan guru untuk mendapatkan koreksi dan bimbingan. Sementara dalam bandongan, kiai atau ustaz membacakan kitab di depan banyak santri yang kemudian memberikan catatan makna pada teks yang dipelajari.

Di era serba cepat seperti sekarang, metode tersebut mungkin terlihat lambat. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Pesantren mengajarkan kesabaran dalam belajar, ketelitian dalam memahami ilmu, serta penghormatan terhadap proses.

Ketika informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik melalui internet, pesantren mengingatkan bahwa tidak semua informasi otomatis menjadi ilmu. Ilmu membutuhkan proses, pendalaman, bimbingan, dan penghayatan.

Menjaga Ruang Batin di Tengah Banjir Informasi

Selain pendidikan formal dan kajian kitab, kehidupan pesantren juga diwarnai berbagai tradisi keagamaan seperti mujahadah, istighotsah, tahlil, serta shalawatan.

Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan spiritualitas dan ketenangan batin.

Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan dan distraksi digital, pesantren menawarkan ruang untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan.

Banyak kalangan menilai bahwa salah satu tantangan terbesar masyarakat modern bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kehilangan kedalaman dalam memahami kehidupan. Pesantren hadir untuk menjaga dimensi tersebut melalui pembiasaan ibadah, dzikir, dan pembentukan akhlak.

Beradaptasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

Meski dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional, pesantren tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Saat ini banyak pesantren yang telah mengintegrasikan pendidikan umum, teknologi informasi, kewirausahaan, hingga keterampilan digital ke dalam sistem pembelajarannya.

Data dari Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan jumlah pesantren di Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun dan menjadi salah satu pilar penting pendidikan nasional. Banyak pesantren kini mengembangkan laboratorium komputer, platform pembelajaran digital, hingga program penguatan literasi teknologi bagi para santri.

Namun di tengah berbagai perubahan tersebut, pesantren tetap mempertahankan nilai-nilai dasarnya: adab, penghormatan kepada guru, kesederhanaan, kebersamaan, dan pencarian ilmu sebagai bagian dari pembentukan manusia yang utuh.

Pesantren memahami bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, kemajuan yang berkelanjutan justru membutuhkan akar yang kuat.

Di era ketika teknologi mampu mempercepat hampir semua hal, pesantren mengingatkan bahwa tidak semua persoalan hidup dapat diselesaikan dengan kecepatan. Ada nilai-nilai yang hanya dapat tumbuh melalui proses, keteladanan, kesabaran, dan kedekatan antarmanusia.

Karena pada akhirnya, teknologi dapat membantu manusia menemukan jalan lebih cepat. Namun pesantren berupaya memastikan manusia tetap mengetahui arah perjalanan hidupnya.  (hrs,lpp-ma’arifNU)

BACA JUGA :

Sebanyak 95 lulusan LPK Serbaindo dilepas dalam Wisuda ke-14 di Hotel Laras Asri, Salatiga, Rabu (26/8/2026). Pada kesempatan itu, Serbaindo Group bersama Kemendes PDT meluncurkan program beasiswa pendidikan dan kerja ke Jepang yang menargetkan 45.000 peserta hingga 2030, khususnya untuk memenuhi kebutuhan tenaga caregiver.
Gelar Wisuda ke 14, Serbaindo Group Gandeng Kemendes PDT Buka Program 45.000 Beasiswa ke Jepang
Sebanyak 111 siswa SMP Arunika dan SD School of Life Lebah Putih mengikuti Kemah Alih Golongan 2026 di Bumi Perkemahan Kuncen, Polobogo, Kabupaten Semarang. Kegiatan dikemas sebagai pembelajaran berbasis pengalaman untuk melatih kemandirian, kerja sama, pemecahan masalah, dan kemampuan berpikir kritis melalui berbagai tantangan di alam.
Ratusan Siswa ikuti Kemah Alih Golongan, Tanamkan Sikap Belajar Mandiri, dan Bekerja Sama di Alam
Kejaksaan Negeri Salatiga memberikan penyuluhan hukum kepada siswa SMP Negeri 10 Salatiga melalui program Jaksa Masuk Sekolah (JMS), Kamis (20/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di mushola sekolah tersebut membahas perundungan, tawuran, kekerasan, narkotika, pelecehan seksual, pencurian, hingga penggunaan media sosial secara bijak untuk membangun kesadaran hukum sejak dini.
Program JMS di SMP 10 Salatiga, Siswa Diberikan Materi Tentang Hukum dan Konsekuensinya
Rencana pengalihan status guru PPPK dari pemerintah daerah menjadi pegawai pemerintah pusat mulai 2027 mendapat perhatian Pemkab Semarang. BKPSDM Kabupaten Semarang menyatakan masih menunggu petunjuk teknis resmi pemerintah pusat, terutama terkait administrasi, pembiayaan, pembinaan, kewenangan, serta mekanisme pengelolaan ribuan guru PPPK dan PNS di daerah.
4.200 PPPK Guru di Kabupaten Semarang Berpotensi Diambil Alih Pusat, BKPSDM Tunggu Juknis
SMA Sainstek Ahmad Dahlan Salatiga menjadi tuan rumah International Academic Workshop “Exploring LEGO-STEM Based Learning for Creativity, Collaboration, and Problem-Solving Skills” bersama dua profesor dari Belgia. Kegiatan yang bekerja sama dengan LP2M UIN Salatiga tersebut melibatkan murid dari sejumlah sekolah untuk mengembangkan kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan memecahkan masalah melalui pembelajaran berbasis STEM.
Perluas Pengalaman Belajar Siswa, SMA Sainstek Salatiga Hadirkan Profesor dari Belgia
Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia
Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

20 Agustus 2026
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengajak masyarakat aktif memeriksa data kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), termasuk desil yang tercatat, di Jawa Tengah, Rabu (19/8/2026). Warga dapat menyanggah data yang tidak sesuai melalui laman kementerian agar penyaluran bantuan dan program pemberdayaan lebih tepat sasaran.
Warga Diminta Aktif Cek Data Desil dan Sanggah Data DTSEN
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan