KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Pesantren di Era Digital: Menjaga Akar Peradaban di Tengah Arus Perubahan Zaman

Pesantren di Era Digital: Menjaga Akar Peradaban di Tengah Arus Perubahan Zaman

Pesantren di Era Digital: Menjaga Akar Peradaban di Tengah Arus Perubahan Zaman

Semarang – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan derasnya arus informasi, ada satu tradisi pendidikan yang tetap bertahan dan terus relevan hingga hari ini: pesantren. Lembaga pendidikan Islam yang telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka ini tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, akhlak, dan cara hidup.

Kata “mondok” mungkin terdengar sederhana, bahkan bagi sebagian generasi muda terkesan kuno. Namun dari tradisi mondok inilah lahir banyak tokoh bangsa, ulama, pemimpin masyarakat, hingga intelektual yang memberi kontribusi besar bagi perjalanan Indonesia.

Pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara. Sejarah mencatat, sistem pendidikan ini berkembang sejak penyebaran Islam di Indonesia pada abad ke-15 dan ke-16. Berawal dari seorang kiai yang mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar, kemudian para murid tinggal bersama untuk belajar secara lebih intensif. Dari pola sederhana itulah lahir sistem pendidikan yang mampu bertahan selama berabad-abad.

Menurut berbagai kajian pendidikan Islam, kekuatan utama pesantren bukan terletak pada bangunan atau fasilitasnya, melainkan pada hubungan erat antara kiai dan santri. Relasi tersebut melampaui hubungan guru dan murid pada umumnya. Kiai tidak hanya mengajar ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

“Di pesantren, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Seluruh aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari proses pembelajaran,” ujar sejumlah pengamat pendidikan Islam dalam berbagai kajian mengenai pesantren.

Kehidupan Sebagai Kurikulum

Berbeda dengan pendidikan formal yang memiliki jam belajar tertentu, kehidupan di pesantren berlangsung selama 24 jam. Santri menjalani rutinitas mulai dari bangun sebelum subuh, mengaji, belajar, bekerja bakti, beribadah berjamaah, hingga kembali beristirahat.

Dalam kehidupan seperti itu, nilai-nilai seperti disiplin, kesederhanaan, tanggung jawab, dan kebersamaan tumbuh secara alami.

Seorang santri belajar hidup bersama puluhan bahkan ratusan teman dari berbagai daerah dan latar belakang. Mereka berbagi ruang, berbagi makanan, berbagi waktu, dan saling membantu dalam kehidupan sehari-hari.

Di saat modernitas cenderung mendorong individualisme dan kenyamanan pribadi, pesantren justru mengajarkan pentingnya hidup dalam kebersamaan. Nilai ini menjadi semakin penting di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi secara digital namun sering kali semakin jauh secara sosial.

Tradisi Ilmu yang Mengajarkan Kesabaran

Salah satu ciri khas pesantren adalah tradisi pembelajaran kitab kuning, yaitu kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang menjadi rujukan utama dalam kajian keislaman.

Metode pembelajarannya pun memiliki kekhasan tersendiri, seperti sorogan dan bandongan.

Dalam metode sorogan, santri membaca kitab secara langsung di hadapan guru untuk mendapatkan koreksi dan bimbingan. Sementara dalam bandongan, kiai atau ustaz membacakan kitab di depan banyak santri yang kemudian memberikan catatan makna pada teks yang dipelajari.

Di era serba cepat seperti sekarang, metode tersebut mungkin terlihat lambat. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Pesantren mengajarkan kesabaran dalam belajar, ketelitian dalam memahami ilmu, serta penghormatan terhadap proses.

Ketika informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik melalui internet, pesantren mengingatkan bahwa tidak semua informasi otomatis menjadi ilmu. Ilmu membutuhkan proses, pendalaman, bimbingan, dan penghayatan.

Menjaga Ruang Batin di Tengah Banjir Informasi

Selain pendidikan formal dan kajian kitab, kehidupan pesantren juga diwarnai berbagai tradisi keagamaan seperti mujahadah, istighotsah, tahlil, serta shalawatan.

Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan spiritualitas dan ketenangan batin.

Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan dan distraksi digital, pesantren menawarkan ruang untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan.

Banyak kalangan menilai bahwa salah satu tantangan terbesar masyarakat modern bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kehilangan kedalaman dalam memahami kehidupan. Pesantren hadir untuk menjaga dimensi tersebut melalui pembiasaan ibadah, dzikir, dan pembentukan akhlak.

Beradaptasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

Meski dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional, pesantren tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Saat ini banyak pesantren yang telah mengintegrasikan pendidikan umum, teknologi informasi, kewirausahaan, hingga keterampilan digital ke dalam sistem pembelajarannya.

Data dari Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan jumlah pesantren di Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun dan menjadi salah satu pilar penting pendidikan nasional. Banyak pesantren kini mengembangkan laboratorium komputer, platform pembelajaran digital, hingga program penguatan literasi teknologi bagi para santri.

Namun di tengah berbagai perubahan tersebut, pesantren tetap mempertahankan nilai-nilai dasarnya: adab, penghormatan kepada guru, kesederhanaan, kebersamaan, dan pencarian ilmu sebagai bagian dari pembentukan manusia yang utuh.

Pesantren memahami bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, kemajuan yang berkelanjutan justru membutuhkan akar yang kuat.

Di era ketika teknologi mampu mempercepat hampir semua hal, pesantren mengingatkan bahwa tidak semua persoalan hidup dapat diselesaikan dengan kecepatan. Ada nilai-nilai yang hanya dapat tumbuh melalui proses, keteladanan, kesabaran, dan kedekatan antarmanusia.

Karena pada akhirnya, teknologi dapat membantu manusia menemukan jalan lebih cepat. Namun pesantren berupaya memastikan manusia tetap mengetahui arah perjalanan hidupnya.  (hrs,lpp-ma’arifNU)

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Polres Semarang menyiapkan satuan tugas penegakan hukum untuk mengantisipasi perjudian atau praktik botoh dalam Pilkades serentak 2026. Pengamanan juga mencakup potensi konflik antarcalon dan isu lokal di 140 desa pada 19 kecamatan. Sebanyak 787 personel disiapkan dan diperkuat personel BKO serta satu SST Brimob dengan sistem rayonisasi.
Cegah Pilkades di Kabupaten Semarang Jadi Arena Judi, Polisi Siapkan Satgas Penegakan Hukum
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Semarang dan Jawa Tengah pada Selasa, 6 Oktober 2026, didominasi kondisi cerah hingga berawan. Hasil pengamatan pukul 05.30 WIB mencatat suhu udara Semarang 27,7°C dengan kelembapan 75%. Suhu harian diprakirakan berkisar 27–36°C dengan kelembapan 40–75%, sedangkan hujan ringan berpotensi terjadi di sebagian pegunungan Jawa Tengah bagian tengah.
09 Oktober 2026: Cuaca Semarang Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi di Pegunungan
Pemkab Semarang memperpanjang jatuh tempo pembayaran PBB-P2 hingga 31 Oktober 2026. Wajib pajak yang membayar sampai batas waktu tersebut tidak dikenai sanksi administrasi keterlambatan sebesar 1 persen. Kebijakan ini diambil untuk meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung kesehatan fiskal dan likuiditas keuangan daerah.
Bayar PBB-P2 Sebelum 31 Oktober, Warga Kabupaten Semarang Bebas Denda
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia menggelar program stabilisasi harga dan hilirisasi pangan di Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (12/10/2026). Program ini menyediakan beras seharga Rp11.000 per kilogram dan cabai rawit merah Rp10.000 per kemasan 200 gram, sekaligus memperkuat produksi pertanian dan membantu pedagang menghadapi kenaikan biaya bahan baku.
Tekan Inflasi, BI dan Pemprov Jateng Gelar Tebus Murah 6 Ton Beras dan 600 Kg Cabai
[pekok2]