KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

SMA Negeri 1 Susukan Ajarkan Bisnis Barbershop, Siapkan Siswa untuk Dunia Kerja

SMA Negeri 1 Susukan Ajarkan Bisnis Barbershop, Siapkan Siswa untuk Dunia Kerja

SMA Negeri 1 Susukan Ajarkan Bisnis Barbershop, Siapkan Siswa untuk Dunia Kerja

Prihatin dengan lulusan SMA yang sering dianggap sebelah mata di dunia industri, SMA Negeri 1 Susukan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mengajarkan siswanya bisnis barbershop. Inovasi ini diwujudkan dengan membangun kios barbershop di depan halaman sekolah dan mengirim dua siswa untuk magang di barbershop di Kota Semarang. Kepala Sekolah Retno Winarni menjelaskan, program ini bertujuan membekali siswa dengan keahlian untuk bekerja atau berwirausaha setelah lulus.
Foto dok IST
Siswa SMA Negeri 1 Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng) saat mencukur rambut dalam program dual track ekstrakurikuler barbershop,

RASIKAFM.COM | SUSUKAN – Prihatin dengan lulusan SMA yang kerap dianggap sebelah mata di dunia industri dan kesulitan mencari pekerjaan, SMA Negeri 1 Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng) memiliki inovasi mengajarkan siswanya bisnis barbershop atau tukang cukur rambut.

Tak main-main, keseriusan itu diwujudkan dengan membangun kios barbershop di depan halaman sekolah. Bahkan dua siswanya dikirim untuk magang di sebuah barbershop di Kota Semarang selama dua pekan. Mereka tak hanya diajarkan teknik potong rambut tapi juga manajemen ketika membuat usaha barbershop.

Kepada wartwan, Kepala sekolah SMA Negeri 1 Susukan Retno Winarni mengaku, ide adanya ekstrakurikuler barbershop muncul saat melihat data lulusan dari SMA tersebut yang sebagian besar tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Laporan dari BK setiap tahunnya hanya 20% yang melanjutkan kuliah. Sisanya 80% itu langsung bekerja. Kemudian kita koordinasi bersama kita membuat program untuk membekali siswa yang 80% itu, agar memiliki keahlian setelah lulus dan tidak menjadi beban masyarakat,” terang Retno.

Menurutnya program itu dikemas dengan sebutan Dual Track. Track pertama yakni menggejot minat siswa agar tertarik melanjutkan ke perguruan tinggi. Kemudian track kedua adanya ekstrakurikuler yang mewadahi minat dan bakat siswa untuk bisa diterima industri maupun memiliki keahlian untuk berwirausaha.

“Ada lima bidang kewirausahaan, mulai dari barbershop, pertanian, desain grafis, tata boga, dan tata busana. Siswa memilih sesuai dengan minat mereka. Selama tiga tahun, mereka akan diuji dan akan mendapatkan sertifikat, setara dengan SMK,” ungkap Retno.

Dengan sertifikat itu, siswa yang memiliki modal bisa membuka usaha setelah lulus. Sementara siswa yang belum memiliki modal bisa melamar ke industri dengan sertifikat yang dimiliki.

“Program itu masuk dalam ekstrakurikuler. Tapi semua siswa dari kelas 10 wajib memilih salah satunya. Meskipun ekstrakurikuler, tapi dihitung jam pelajaran. Jam inilah yang menjadi sertifikat mereka,” kata Retno.

Seorang siswa yang mengikuti ekstrakulikuler barbershop, Wahyu Nugroho, mengaku sangat senang menjadi satu dari dua siswa yang sempat mendapatkan pelatihan barbershop secara langsung. Dia berharap dengan keahlian yang dimiliki itu bisa berguna ketika lulus sekolah.

“Setelah lulus, walaupun tidak melanjutkan ke perguruan tinggi bisa membuka usaha sendiri dan membuka lapangan kerja untuk orang lain juga,” kata Wahyu.

Diakuinya, selama dua pekan pelatihan dirinya sudah bisa mencukur rambut dan mempelajari manajemen barbershop. Ilmu itu nantinya juga akan diajaran ke adik-adik kelasnya di SMAN 1 Susukan Kabupaten Semarang.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan wilayah I Disdikbud Jawa Tengah, Siswanto menyebut, inovasi yang dilakukan oleh SMA Negeri 1 Susukan, Kabupaten Semarang, sangat menarik. Melalui program dual track itu menjadi wadah siswa SMA yang ingin melanjutkan kuliah dan ingin bekerja setelah lulus sekolah.

“SMA Negeri 1 Susukan memang memiliki potensi yang luar biasa. Terbukti ini anak-anak sudah memiliki keterampilan barbershop lengkap dengan tempatnya. Ini bisa menjadi peluang pekerjaan dan menekan angka pengangguran,” jelas Siswanto.

Diakuinya, pihaknya akan selalu memberikan dukungan dengan mempermudah kerja sama SMA dengan industri, lembaga, perguruan tinggi, dan SMK. Program dual track baru tahun ini dijalankan dan sudah beberapa sekolah yang sudah menjalankan.

“Sekarang sudah ada 20 SMA yang mulai bergerak [membentuk program dual track], salah satunya SMA Negeri 1 Susukan,” tandas Siswanto.

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Semarang dan Jawa Tengah pada Selasa, 6 Oktober 2026, didominasi kondisi cerah hingga berawan. Hasil pengamatan pukul 05.30 WIB mencatat suhu udara Semarang 27,7°C dengan kelembapan 75%. Suhu harian diprakirakan berkisar 27–36°C dengan kelembapan 40–75%, sedangkan hujan ringan berpotensi terjadi di sebagian pegunungan Jawa Tengah bagian tengah.
09 Oktober 2026: Cuaca Semarang Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi di Pegunungan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia menggelar program stabilisasi harga dan hilirisasi pangan di Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (12/10/2026). Program ini menyediakan beras seharga Rp11.000 per kilogram dan cabai rawit merah Rp10.000 per kemasan 200 gram, sekaligus memperkuat produksi pertanian dan membantu pedagang menghadapi kenaikan biaya bahan baku.
Tekan Inflasi, BI dan Pemprov Jateng Gelar Tebus Murah 6 Ton Beras dan 600 Kg Cabai
Polsek Tengaran, Polres Semarang, memberikan edukasi tentang bahaya narkoba dan pencegahan perundungan kepada 147 siswa SDN Sugihan 01, Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Selasa (13/10/2026). Melalui program Polisi Sahabat Anak (POLSANA), polisi mengajak siswa menghindari narkoba, tidak melakukan kekerasan terhadap teman, serta melaporkan perundungan kepada guru atau orang tua.
Cegah Perundungan, Aipda Joko Sambangi SDN Sugihan 01 Tengaran. Tekankan Siswa harus Saling Menghargai
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan keprihatinan atas dugaan perundungan yang menyebabkan seorang murid SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, meninggal dunia. Saat ditemui di Ungaran, Sabtu (10/10/2026), ia menegaskan pentingnya memperkuat budaya sekolah yang aman melalui kerja sama sekolah, keluarga, masyarakat, dan media serta meningkatkan pengawasan terhadap anak di ruang digital.
Kasus Dugaan Perundungan di SDN Kebondalem Pemalang, Mendikdasmen Sebut Tayangan di Media Turut Jadi Pemicu
[pekok2]