KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Tak Miliki Guru Khusus, SDN Susukan 04 Andalkan Pustakawan sebagai Guru Pendamping Anak Inklusif

Tak Miliki Guru Khusus, SDN Susukan 04 Andalkan Pustakawan sebagai Guru Pendamping Anak Inklusif

Tak Miliki Guru Khusus, SDN Susukan 04 Andalkan Pustakawan sebagai Guru Pendamping Anak Inklusif

Rina Puspitasari, pustakawan sekaligus guru pendamping anak berkebutuhan khusus sedang mengajar kelas inklusif di SDN Susukan 04, Ungaran Timur, Senin (15/9/2025). Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – SD Negeri Susukan 04, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, menghadapi tantangan besar dalam memberikan layanan pendidikan inklusif. Dari 144 murid, terdapat 23 anak berkebutuhan khusus (ABK) yang tersebar di kelas 1 hingga 6. Namun, keterbatasan tenaga pendidik membuat mereka hanya ditangani seorang guru pendamping yang sehari-hari sebenarnya berprofesi sebagai pustakawan.

Rina Puspitasari, pustakawan yang sejak 2024 merangkap sebagai guru pendamping siswa inklusif, menuturkan tugas ini dijalani dengan sepenuh hati.

“Awalnya guru kelas kerepotan karena suasana belajar sering terganggu bila anak inklusif tantrum. Maka kami sepakat membuat ruang khusus inklusi agar murid reguler dan inklusi sama-sama bisa belajar dengan nyaman,” jelas Rina ditemui di sela kegiatan mengajarnya, Senin (15/9/2025).

Rina mengaku mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus secara otodidak. Baginya, hubungan yang terjalin bukan sekadar guru dan murid, melainkan layaknya keluarga.

“Kami memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Kalau ada yang tantrum, kuncinya sabar dan memahami,” tambahnya.

Keterbatasan tenaga pendidik diakui oleh Plt Kepala SDN Susukan 04, Agus Wijayanto. Ia menyebut hingga kini sekolah belum memiliki guru khusus inklusi. Bahkan ruang kelas inklusi memanfaatkan bekas rumah dinas penjaga sekolah karena bangunan belum memadai.

“Dengan jumlah 23 anak, idealnya ada dua ruang kelas dengan masing-masing guru pendamping. Minimal ada tambahan tenaga khusus agar Bu Rina bisa kembali ke tugas utamanya sebagai pustakawan,” terangnya.

Agus menambahkan, pembelajaran anak inklusif dibagi dua sesi: pagi untuk kelas 1–3 dan siang untuk kelas 4–6. Meja kursi pun masih sederhana, sebagian menggunakan model lesehan.

“Kami berharap ada perhatian dari dinas pendidikan untuk sarana prasarana maupun penambahan pendamping,” ujarnya.

Sementara Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang, Joko Sriyono, menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius pemerintah daerah.

“Anak-anak inklusi seharusnya didampingi guru BK atau minimal psikolog. Tahun 2026 saya harap sudah ada anggaran khusus untuk layanan ini, termasuk alat peraga dan pelatihan pendamping,” tegasnya.

Menurutnya, peran pendamping sangat penting agar perkembangan siswa inklusif tidak terabaikan. Kalau hanya mengandalkan pustakawan, menurut Joko bebannya terlalu berat. Padahal, sekolah-sekolah wajib menerima anak inklusif.

“Maka pemerintah harus hadir, baik melalui penambahan tenaga profesional maupun pembangunan ruang kelas khusus,” tambahnya. (win)

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW melalui program KKN mendampingi 25 warga Dusun Sengon, Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah bio-slurry dan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik cair, pupuk organik padat, serta MOL. Kegiatan selama sebulan ini mendorong pemanfaatan bahan lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
KKN UKSW di Desa Manggihan, Mahasiswa Olah Limbah Biogas jadi Pupuk Organik
[pekok2]