KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Toko Mas Gajah Salatiga Keluhkan Semrawutnya Jaringan Kabel di Depan Usahanya

Toko Mas Gajah Salatiga Keluhkan Semrawutnya Jaringan Kabel di Depan Usahanya

Toko Mas Gajah Salatiga Keluhkan Semrawutnya Jaringan Kabel di Depan Usahanya

Kondisi kabel yang semrawut didepan Toko Mas Gajah Salatiga jalan Jendral Sudirman. Senin (17.3.2025)

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Keluhan itu muncul dari Jencien Restantio, pemilik Toko Mas Gajah dijalan jendral Sudirman Salatiga, yang mengungkapkan ketidaknyamanan akibat banyaknya jaringan kabel yang melintas tepat di depan tokonya. Kabel-kabel tersebut bahkan menutupi logo toko yang menjadi salah satu ciri khas usaha yang telah dijalankannya.

“Saya sudah beberapa kali menyampaikan keluhan ini ke pihak berwenang, bahkan telah bertemu dengan pemilik kabel di Dinas PU PR pada Februari lalu. Namun sampai sekarang, belum ada tindakan signifikan. Memasang tiang saja tidak cukup kalau kabelnya masih tetap menjuntai dan menutupi tampilan toko saya,” ujar Jensen.

Menurutnya, kondisi kabel yang semrawut ini tidak hanya merugikan pemilik usaha, tetapi juga menciptakan kesan kota yang tidak tertata. “Saya berharap pemerintah serius menangani masalah ini. Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut karena akan semakin sulit ditata nantinya,” tambahnya.

Terpisah anggota Komisi C DPRD Kota Salatiga, Hartoko Budiono, menyatakan bahwa kondisi ini memang sudah sangat mengganggu dan berpotensi memperburuk wajah kota jika tidak segera ditangani. “Salatiga sudah dalam kondisi darurat kabel. Kalau memang ingin serius menangani masalah ini, kita harus membentuk BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) khusus untuk mengelola jaringan kabel bawah tanah. Ini menyangkut lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan jika tidak ada yang memimpin, maka masalah ini tidak akan terselesaikan,” ujar Hartoko.

Terkait dengan wacana solusi kabel bawah tanah, pihak Pemkot Salatiga tengah mempertimbangkan untuk mengubah sistem pemasangan kabel yang selama ini mengganggu pemandangan kota. Konsep kabel bawah tanah dianggap sebagai solusi yang lebih efektif dalam mengurangi penumpukan kabel di udara, sekaligus meningkatkan estetika kota. Namun, untuk merealisasikan ini, dibutuhkan koordinasi antar berbagai pihak dan perencanaan matang, termasuk pembentukan BUMD untuk mengelola dan mengawasi implementasi regulasi yang ada.

Dengan adanya wacana tersebut, diharapkan Salatiga dapat segera memiliki sistem pengelolaan kabel yang lebih rapi dan tertata, tidak hanya untuk meningkatkan estetika kota, tetapi juga untuk memudahkan akses masyarakat dan menjaga keberlanjutan pengembangan kota di masa depan.

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Polres Semarang menyiapkan satuan tugas penegakan hukum untuk mengantisipasi perjudian atau praktik botoh dalam Pilkades serentak 2026. Pengamanan juga mencakup potensi konflik antarcalon dan isu lokal di 140 desa pada 19 kecamatan. Sebanyak 787 personel disiapkan dan diperkuat personel BKO serta satu SST Brimob dengan sistem rayonisasi.
Cegah Pilkades di Kabupaten Semarang Jadi Arena Judi, Polisi Siapkan Satgas Penegakan Hukum
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Semarang dan Jawa Tengah pada Selasa, 6 Oktober 2026, didominasi kondisi cerah hingga berawan. Hasil pengamatan pukul 05.30 WIB mencatat suhu udara Semarang 27,7°C dengan kelembapan 75%. Suhu harian diprakirakan berkisar 27–36°C dengan kelembapan 40–75%, sedangkan hujan ringan berpotensi terjadi di sebagian pegunungan Jawa Tengah bagian tengah.
09 Oktober 2026: Cuaca Semarang Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi di Pegunungan
Pemkab Semarang memperpanjang jatuh tempo pembayaran PBB-P2 hingga 31 Oktober 2026. Wajib pajak yang membayar sampai batas waktu tersebut tidak dikenai sanksi administrasi keterlambatan sebesar 1 persen. Kebijakan ini diambil untuk meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung kesehatan fiskal dan likuiditas keuangan daerah.
Bayar PBB-P2 Sebelum 31 Oktober, Warga Kabupaten Semarang Bebas Denda
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia menggelar program stabilisasi harga dan hilirisasi pangan di Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (12/10/2026). Program ini menyediakan beras seharga Rp11.000 per kilogram dan cabai rawit merah Rp10.000 per kemasan 200 gram, sekaligus memperkuat produksi pertanian dan membantu pedagang menghadapi kenaikan biaya bahan baku.
Tekan Inflasi, BI dan Pemprov Jateng Gelar Tebus Murah 6 Ton Beras dan 600 Kg Cabai
[pekok2]