URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Pemkab Semarang melalui Dispertanikap menggelar program kaderisasi petani dengan menyasar pelajar di SDN Beji 01, Ungaran Timur, Jumat 26 September 2025. Langkah ini dilakukan karena mayoritas petani berusia di atas 45 tahun. Penyuluh pertanian diterjunkan ke sekolah untuk mengenalkan hortikultura lewat praktik menanam bibit.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Dispertanikap Bidik Petani Muda, 38 Sekolah di Kabupaten Semarang jadi Sasaran Penyuluhan

Dispertanikap Bidik Petani Muda, 38 Sekolah di Kabupaten Semarang jadi Sasaran Penyuluhan

Dispertanikap Bidik Petani Muda, 38 Sekolah di Kabupaten Semarang jadi Sasaran Penyuluhan

Murid SDN Beji 01 berlatih menanam bibit cabai dan terong menggunakan media tanam dalam polybag, Jumat (26/9/2025). Foto: win
Murid SDN Beji 01 berlatih menanam bibit cabai dan terong menggunakan media tanam dalam polybag, Jumat (26/9/2025). Foto: win
featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang melalui Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) menggelar program kaderisasi petani dengan menyasar kalangan pelajar. Penyuluh pertanian diterjunkan langsung ke sekolah-sekolah untuk mengenalkan dunia pertanian sejak dini.

Kepala Dispertanikap Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, menjelaskan langkah ini dilakukan untuk mengatasi lambatnya regenerasi petani di daerahnya. Berdasarkan data statistik, 78,6 persen petani di Kabupaten Semarang berusia di atas 45 tahun, 28 persen berusia di atas 55 tahun, sementara petani milenial hanya 11,8 persen dan terus menurun 1 persen setiap tahun.

“Karena pertanian itu menjadi salah satu kunci kedaulatan negara, kami lakukan pendekatan ke anak-anak SD untuk membidik lahirnya petani muda,” ujar Edy, usai kegiatan penyuluhan di SDN Beji 01, Ungaran Timur, Jumat (26/9/2025).

Sepanjang September ini, penyuluh pertanian mendatangi 38 sekolah di Kabupaten Semarang. Sebanyak 112 penyuluh diterjunkan dengan membawa 500 bibit di tiap sekolah. Tanaman yang diperkenalkan kepada siswa antara lain terong ungu dan cabai rawit.

“Memang yang kami ajarkan adalah cara menanam hortikultura karena relatif mudah,” kata dia.

Edy menambahkan, program ini tidak hanya menyasar sekolah dasar, tetapi juga akan diperluas ke jenjang SMP dengan metode berbeda.

“Kita juga menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan agar kegiatan bisa masuk dalam kurikulum pembelajaran,” lanjutnya.

Kepala SDN Beji 01, Retno Ristiani, menyebut kegiatan ini diikuti 154 siswa dengan antusias tinggi. Menurutnya, penyuluhan bertani sekaligus memperkuat karakter anak di bidang lingkungan.

“Pendekatan deep learning yang kami terapkan mengambil dimensi kolaborasi, bernalar kritis, dan kewargaan, dengan titik tekan pada kepedulian lingkungan,” kata Retno. (win)

BACA JUGA :

pilkades 2026
Pilkades Kabupaten Semarang Tahap Pertama Digelar 14 Desember 2026, 140 Desa Bersiap
Ada Pemeliharaan Tol Semarang ABC, Sejumlah Lajur Arah Jatingaleh Terdampak
Ada Pemeliharaan Tol Semarang ABC, Sejumlah Lajur Arah Jatingaleh Terdampak
Seniman asal Bergas, Kabupaten Semarang, Sidik Gunawan, menuangkan keinginan menenangkan diri melalui karya pari corek bergambar Buddha yang sedang bersemedi di lahan sawah seluas 1.200 meter persegi. Ia memanfaatkan padi hijau dan Black Madras untuk membentuk gambar sekaligus mengembangkan potensi wisata dan ekonomi petani tanpa mengalihfungsikan lahan.
Keinginan Bersemedi yang Belum Terwujud, Dituangkan Sidik Gunawan Lewat Pari Corek Bergambar Sang Buddha
Ratusan warga dari sembilan desa dan empat kelurahan memadati Kantor Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (25/8/2026), untuk mengikuti Kesenian Rakyat dan Expo Kecamatan Bergas serta KKN UPGRIS Berdampak 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan produk UMKM lokal sekaligus memperkuat kolaborasi UPGRIS dan Pemerintah Kabupaten Semarang melalui program KKN.
Tanggal Merah! Ratusan Warga Bergas Meriahkan Expo KKN UPGRIS Berdampak 2026
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan
Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah limbah sayuran dan buah menjadi biogas untuk memasak serta pupuk organik cair. Inovasi berbasis pengelolaan sampah dan energi alternatif tersebut mengantarkan mereka meraih juara pertama Lomba Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jateng di tingkat nasional.
Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

20 Agustus 2026
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Warga Desa Pakopen, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan yang masih hidup di bawah pohon mahoni, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.40 WIB. Bayi ditemukan Slamet (73) saat mencari kayu bakar dan botol bekas di depan makam desa, lalu mendapat pertolongan medis dari bidan setempat. Polisi kini menyelidiki identitas orang tua dan pihak yang meninggalkannya.
Cari Kayu Bakar, Warga Bandungan Temukan Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Di Bawah Pohon